Praktek pembangunan yang berlangsung saat ini dinilai tidak berkelanjutan. Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam dua dekade terakhir terancam musnah, berbalik arah – memicu kemunduran – akibat semakin tingginya kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan.

Laporan “The Future is Now: Science for Achieving Sustainable Development,” yang diluncurkan Rabu, 11 September 2019, menyatakan, menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan mengeksploitasi sumber daya alam tak lagi bisa ditolerir di seluruh dunia.

Penggunaan sumber daya dan bahan baku diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari tahun 2017 hingga 2060, dari 89 Gigaton menjadi 167 Gigatons, meningkatkan emisi gas rumah kaca dan polusi beracun lainnya, termasuk dari pertambangan.

Laporan ini menyatakan, masa depan yang lebih optimistis masih bisa dicapai jika negara-negara dunia mengubah aksi, kebijakan dan insentif mereka secara drastis. Ilmu pengetahuan harus berperan lebih dominan guna membimbing arah pembangunan berkelanjutan. Universitas, para pembuat kebijakan dan donor harus meningkatkan dukungan terhadap riset yang mendukungan Agenda 2030.

Intervensi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Para ilmuwan yang menyusun laporan ini menyatakan, ada 20 intervensi berbasis pengetahuan yang diharapkan membantu peraihan target pembangunan berkelanjutan dalam beberapa dekade mendatang. Intervensi-intervensi ini dilandasi oleh kajian ilmiah yang menyinergikan satu intervensi dengan intervensi lain termasuk dalam pencapaian tujuan dan target intervensi-intervensi tersebut.

Perbaikan kualitas layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, air dan sanitasi, infrastruktur, perumahan dan jaminan sosial adalah intervensi awal yang diperlukan guna mewujudkan penghapusan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama bagi mereka yang menyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Laporan ini juga menyeru dunia untuk menghentikan diskriminasi hukum dan sosial, memperkuat LSM, kelompok perempuan dan organisasi berbasis komunitas lainnya, karena mereka adalah mitra dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan atau Agenda 2030.

Para ilmuwan secara khusus menyoroti keterkaitan antara sistem energi dan pangan karena kedua sektor ini berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, pada saat yang sama juga berguna untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Sistem pangan harus diubah secara menyeluruh, dari sisi infrastruktur, kebijakan, budaya dan norma-norma sosial yang saat ini masih mendukung status yang tidak berkelanjutan. Bukti yang di depan mata, saat ini ada 820 juta penduduk dunia kekurangan gizi sementara 2 miliar lainnya menghadapi kerentanan pangan. Pada saat yang sama, tingkat obesitas penduduk dunia terus meningkat hampir di seluruh dunia. Jumlah penduduk yang obesitas mencapai 2 miliar penduduk dewasa dan 40 juta anak-anak balita.

Untuk itu negara-negara dunia harus mengubah intervensi mereka guna menjamin ketahanan pangan dan nutrisi bagi semua orang. Mereka harus mengentikan praktik produksi pangan yang merusak lingkungan. Caranya adalah dengan mempertimbangkan seluruh rantai produksi pangan mereka, mencegah pangan terbuang serta ketergantungan terhadap protein hewani.

Sistem energi juga harus menjalani transformasi untuk menutup kesenjangan akses energi yang ada saat ini. Sebanyak 1 miliar penduduk dunia, sebagian besar dari negara Afrika Sub-Sahara masih hidup dalam kegelapan, padahal energi terbarukan terutama air dan energi surya melimpah di wilayah mereka.

Masih ada 3 penduduk yang menggunakan energi kotor untuk memasak memicu 3,8 juta kematian prematur setiap tahun. Tak ada jalan lain selain memperkenalkan energi baru yang lebih bersih dan terbarukan sesuai dengan Kesepakatan Paris atau Paris Agreement. Laporan mengenai energi terbarukan bisa dibaca dalam artikel di Hijauku.com berikut.

Bahan bakar fosil menurut laporan ini masih bisa bersaing hanya karena subsidi langsung maupun tidak langsung. Subsidi ini sekaligus menutup-nutupi kerugian ekonomi, kesehatan dan lingkungan akibat pemakaian bahan bakar fosil ini.

Wilayah perkotaan juga tidak lepas dari agenda transformasi. Sebanyak dua pertiga penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan. Diperlukan desain kota yang lebih kompak dan efisien untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan.

Target itu bisa tercapai dengan meningkatkan kualitas transportasi publik dan infrastruktur yang lain, termasuk memberikan layanan sosial dan ekonomi yang mampu menciptakan kehidupan yang layak dan berkelanjutan dengan bantuan teknologi dan industri yang ramah lingkungan. Dari sinilah peluang kemitraan, kerja sama tercipta, antarkota, antarorganisasi, antarnegara, guna mewujudkan kota yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan kembali menekankan perlindungan atmosfer, hutan dan lautan karena ketiganya berperan penting memberikan sumber daya dan jasa lingkungan. Para pemangku kepentingan (pemerintah, komunitas lokal, sektor swasta dan lembaga internasional) harus bekerja sama untuk menjaga, memulihkan dan mendorong pemanfaatan jasa lingkungan ini dengan cara yang berkelanjutan.

Kembali ilmu pengetahuan bisa berperan penting dalam aksi perlindungan lingkungan ini. Mata rantainya ada pada dukungan (kebijakan dan pendanaan) terhadap terhadap pengembangan riset dan teknologi. Baik itu riset berlandaskan ilmu alam mapun berlandaskan ilmu sosial.

Dari riset-riset tersebut diharapkan terwujud pendekatan yang inovatif yang mampu mendorong kerja sama lintas sektor dan disiplin ilmu guna mencapai target pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) dan yang terpenting bisa menciptakan solusi yang menyelesaikan masalah-masalah pembangunan.

Redaksi Hijauku.com