Upaya peralihan ke energi yang bersih dan terbarukan terus berlanjut. Dalam 10 tahun terakhir – dari 2010-2019 – investasi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai US$2,5 triliun.

Hal ini terungkap dalam laporan Global Trends in Renewable Energy Investment 2019 yang dirilis Kamis, 5 September 2019 bersamaan dengan pelaksanaan Global Climate Action Summit.

Pada periode yang sama, kapasitas EBT naik 4 kali lipat dari 414 GW menjadi 1.650 GW. Khusus energi surya, kapasitas energi surya naik 26 kali lipat dari level 2009 dari 25 GW menjadi 663 GW atau setara dengan kebutuhan energi 100 juta rumah di Amerika Serikat per tahun.
Kapasitas energi surya ini mengalahkan kapasitas energi batu bara yang mencapai 529 GW, serta energi angin dan gas yang masing-masing mencapai 487 GW dan 438 GW pada dekade yang sama.

Semua ini berkat biaya investasi EBT yang semakin kompetitif. Biaya investasi energi surya telah turun 81% sejak 2009; sementara biaya investasi untuk pembangkit listrik tenaga angin di darat turun 46%.

“Investasi EBT adalah investasi yang menguntungkan dan berkelanjutan, seperti terlihat dalam perkembangan EVT sepuluh tahun terakhir,” ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Environment Programme).

Dalam laporan yang dirilis setiap tahun sejak 2007 ini disebutkan, EBT menyumbang 12,9% listrik dunia pada 2018 – naik dari 11,6% pada 2017. Investasi EBT pada 2018 saja mencapai US$272,9 miliar, tiga kali lipat investasi di energi fosil. Kapasitas EBT baru mencapai 167 GW pada 2018, naik dari 160 GW di 2017.

Salah satu negara yang memanfaatkan EBT secara optimal adalah Jerman. “Teknologi energi angin, matahari dan panas bumi kini semua tersedia. Energi-energi ini kompetitif dan bersih. Jerman akan memproduksi dua pertiga listrik dari EBT dalam 10 tahun. Kami adalah bukti negara industri yang bisa mengurangi pemakaian energi batu bara dan nuklir tanpa harus khawatir soal (perlambatan) ekonomi,” ujar Svenja Schulze, Menteri Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir Jerman.

Saat ini China masih memimpin investasi di EBT walau penggunakan EBT juga semakin meluas. Investasi EBT China mencapai US$758 miliar dari 2010 hingga semester pertama 2019. Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai investasi EBT sebesar US$356 miliar sementara Jepang di posisi ketiga dengan US$202 miliar.

Nilai investasi negara-negara di Eropa mencapai US$698 miliar pada periode yang sama. Jerman menyumbang investasi EBT terbanyak di Eropa sebesar US$179 miliar dan Inggris sebesar US$122 miliar.

Dampak langsung dari kenaikan pasokan listrik dari EBT ini adalah pengurangan emisi CO2 sebesar 2 miliar ton/tahun. Pengurangan emisi ini sangat berarti mengingat sektor energi global memproduksi emisi/polusi CO2 – yang berbahaya bagi lingkungan dan iklim global – sebesar 13,7 miliar ton pada 2018.

“Namun kita tak boleh berpuas diri. Emisi dari sektor energi dunia naik 10% pada periode ini, sehingga kita harus mempercepat peralihan ke EBT untuk mencapai target pembangunan dan iklim global,” ujar Inger Andersen.

Redaksi Hijauku.com