Manusia Kacaukan Aliran Udara Picu Cuaca Ekstrem

Musim panas identik dengan musim liburan, di mana masyarakat bisa menghabiskan waktu berwisata ke pantai atau ke gunung bersama keluarga, semua orang menyukainya. Namun tim ilmuwan terus menemukan bukti-bukti yang semakin kuat yang menghubungkan musim favorit penduduk bumi tersebut dengan cuaca ekstrem.

Menurut Hans Joachim Schellnhuber, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), musim panas menjadi semakin persisten (berlangsung terus menerus) di benua Eropa, Asia dan Amerika Utara. Musim panas yang berkepanjangan ini memicu kondisi ekstrem seperti gelombang panas (heat waves) – dan kebakaran.

Penyebabnya tidak lain adalah peningkatan polusi gas rumah kaca, hasil pembakaran bahan bakar fosil. Polusi gas rumah kaca ini telah memicu kenaikan suhu di benua Arktika yang tidak proporsional akibat efek pemanasan global.

Suhu di benua Arktika memanas melebihi wilayah-wilayah lain di belahan bumi bagian utara, sehingga perbedaan suhu antara Kutub Utara dan wilayah khatulistiwa menjadi semakin rendah. Dari sinilah efek berantai terjadi. Perbedaan suhu menggerakkan aliran angin raksasa di troposfer, lapisan udara terendah yang menopang kehidupan di bumi.

Troposfer adalah lapisan atmosfer terendah yang tebalnya kira-kira sampai dengan 10 kilometer di atas permukaan bumi. Dalam troposfer ini terdapat gas rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca, pemanasan global, dan merupakan satu-satunya lapisan atmosfer yang mengalami fenomena cuaca. Lapisan Troposfer memiliki kombinasi gas yang dianggap paling baik untuk mendukung kehidupan di bumi, lebih dari 80% kandungan gas atmosfer terdapat di lapisan ini.

Tim peneliti menyatakan, jika aliran udara di troposfer kacau atau berhenti selama beberapa hari – karena perbedaan suhu antara kutub utara dan wilayah khatulistiwa mengecil – kondisi ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, kebakaran dan risiko kesehatan yang lain, akan terjadi, termasuk hujan berkepanjangan yang menyebabkan banjir.

Penelitian ini adalah riset komprehensif pertama yang berfokus pada dampak peningkatan suhu di benua Arktika terhadap cuaca ekstrem. Bukti-bukti semakin kuat yang menunjukkan manusia telah mengacaukan sirkulasi udara di atmosfer, yang berdampak pada cuaca lokal dan regional – kadang-kadang dengan dampak merusak di daratan.

Menurut tim peneliti, kebakaran hebat yang terjadi di Kanada pada 2016 adalah salah satu bukti nyata kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Kerugian akibat kebakaran tersebut terbesar sepanjang sejarah dengan nilai mencapai CAN$ 4,7 miliar. Demikian juga dengan panas ekstrem di Eropa Barat, Rusia dan Amerika Serikat (AS), yang mengancam posisi AS sebagai lumbung gandum dunia.

Redaksi Hijauku.com

By |2018-09-05T11:02:30+00:0026 August 2018|Berita, Iklim, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *