Mengganti Ekonomi Linear Menjadi Sirkular

Oleh: Jalal *

We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.” – Albert Einstein, Mahafisikawan

Ketika saya menerima pemberitahuan soal bakal diselenggarakannya The 2nd Circular Economy Forum, di Surabaya tanggal 28-30 Juni 2018, saya bersuka cita. Tak bisa tidak begitu. Indonesia punya segudang permasalahan lingkungan, yang terus-menerus menghantui pembangunan kita. Salah satunya soal sampah. Model Ekonomi Linear yang bersifat take-make-dispose yang kita anut sejak beberapa dekade terakhir telah menampakkan konsekuensi yang tak menyenangkan. Dan saya sangat yakin bahwa hanya dengan mengubahnya menjadi Ekonomi Sirkular saja maka masalah tersebut bisa diatasi. Kutipan pernyataan Einstein yang saya cantumkan di atas itu sungguh benar.

Apa Itu Ekonomi Sirkular?

Dalam artikel bertajuk The Circular Economy – A New Sustainability Paradigm?—terbit di Journal of Cleaner Production, Vol. 143, 2017—Geissdoerfer, dkk menjelaskan definisi ekonomi sirkular sebagai berikut: “…a regenerative system in which resource input and waste, emission, and energy leakage are minimised by slowing, closing, and narrowing energy and material loops. This can be achieved through long-lasting design, maintenance, repair, reuse, remanufacturing, refurbishing, and recycling.” Sependek pengetahuan saya, ini adalah salah satu definisi yang terbaru dan paling lengkap.

Mungkin pertanyaan pertama yang bakal terlontar dari siapapun yang membaca definisi tersebut adalah: apa artinya sistem regeneratif? Tahun 2015 saya membaca sebuah artikel panjang yang ditulis oleh John Fullerton. Judulnya, Regenerative Capitalism – How Universal Principles and Patterns will Shape Our New Economy. Kali lain, Fullerton menggunakan istilah Regenerative Economy yang membuatnya lebih diterima banyak orang—lantaran penggunaan ‘kapitalisme’ kerap dipandang bermasalah. Istilah regeneratif itu segera menjadi popular. Bahkan, sudah ada acara Regenerative Future Summit di tahun 2017, dengan nama-nama besar seperti Robert Costanza, Hunter Lovins, dan Kate Raworth, selain Fullerton sendiri, yang hadir sebagai pembicara.

Dari artikel Fullerton dan beberapa publikasi terkait, saya memahami bahwa Ekonomi Konvensional itu sifatnya memang degeneratif, alias merusak. Dengan desain yang mekanistik, pemikiran reduksionis, dan membagi apapun ke dalam bagian-bagian kecil yang seakan tak berhubungan—biasa disebut pemikiran Cartesian, dari filsuf Prancis Rene Descartes—kerusakan memang tak terhindarkan. Kita kemudian belajar untuk mengerem kerusakan itu dengan Ekonomi Hijau, yang lebih sedikit kerusakan yang ditimbulkannya. Tetapi, tetap saja masih ada kerusakan. Kita kemudian bergeser lebih jauh menuju Ekonomi Berkelanjutan, yang oleh Fullerton dinyatakan ditandai dengan tidak adanya dampak negatif sama sekali.

Kebanyakan rekan diskusi saya sudah menyatakan bahwa ekonomi yang tak membawa dampak negatif sama sekali itu tidak eksis. Memang tidak sekarang dan/atau tidak dalam skala luas. Di banyak lokasi saya menyaksikan ekonomi yang tidak merusak sama sekali, bahkan sejak masa lampau. Tetapi itu ada di dalam skala-skala kecil dan tersebar. Kita masih harus berjuang untuk mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan yang sesungguhnya dalam skala yang jauh lebih luas. Di lain pihak, Fullerton dengan tegas menyatakan bahwa itu tidaklah cukup. Kita perlu bergeser lebih jauh ke Ekonomi Restoratif, yang bukan saja menghentikan segala kerusakan, melainkan mulai memerbaiki kerusakan yang sudah kita timbulkan di masa lalu. Tentu, dengan segala kerusakan yang sudah tampak, tak masuk akal bagi kita mendiamkan saja kerusakan itu. Menghentikan perusakan sama sekali itu saja sudah sulit, tapi ternyata kita perlu melakukannya sambil memerbaiki berbagai kerusakan, dosa masa lalu kita semua.

Nah, Ekonomi Regeneratif itu lebih jauh lagi. Fullerton mengingatkan kita bahwa manusia terus bertambah jumlahnya. Kalau kita berhenti merusak dan mulai memerbaiki apa yang dulu kita rusak, mungkin kita akan bisa mengembalikan daya dukung Bumi untuk umat manusia—yang termudah diukur dengan jejak kaki ekologis kita. Tetapi, selain kita sudah jauh mengambil lebih dari jatah kita, yaitu 1 Bumi, membuat anak-cucu ada dalam bahaya, populasi manusia juga terus bertambah. Jadi, kita sebetulnya perlu berhenti merusak, memulihkan kesehatan Bumi, sekaligus memastikan bahwa daya dukung Bumi terus naik sesuai dengan bebannya yang juga meningkat. Ekonomi Regeneratif punya tugas berat itu, dan untuknya perlu didesain sesuai dengan sistem alam, dengan pemikiran yang holistik, serta memandang kaitan-kaitan kompleks antar-bagian.

Sebagai cara untuk mencapai tujuan regeneratif tersebut, Ekonomi Sirkular menawarkan caranya yaitu dengan “…resource input and waste, emission, and energy leakage are minimised by slowing, closing, and narrowing energy and material loops.” Dengan menempatkan kebocoran sumberdaya, limbah, emisi dan energi sebagai masalah utama, maka jawabannya adalah melambatkan, mendekatkan, dan menyempitkan lingkaran energi dan material. Tetapi, buat saya, penjelasan tersebut jelas ada pada tingkatan yang praktis-operasional. Adakah cara untuk memahami dengan lebih dekat ke prinsip-prinsipnya? Ada.

Dame Ellen MacArthur adalah salah satu tokoh terpenting dalam gerakan Ekonomi Sirkular. Organisasi yang didirikannya, Ellen MacArthur Foundation merumuskan prinsip-prinsip Ekonomi Sirkular dengan sangat elegan, dan mudah diingat. Pertama, desainnya menghilangkan limbah dan polusi. Kedua, produk dan materialnya dipastikan bisa terus dimanfaatkan. Ketiga, sistem alam yang dihasilkannya bersifat regeneratif. Lebih singkatnya—ini versi saya untuk membantu diri sendiri yang kerap lupa—adalah: nirlimbah, pemanfaatan berkelanjutan, regeneratif. Ketika menggambarkannya, MacArthur memberi tajuk A Regenerative Economy by Design.

Ketiga prinsip tersebut, menurut pengakuan MacArthur sendiri, datang dari beragam pemikiran yang konvergen: ekonomi jasa fungsional dari Walter Stahel; filosofi desain cradle to cradle dari William McDonough dan Michael Braungart; biomimikri dari Janine Benyus; ekologi industrial dari Reid Lifset dan Thomas Graedel; kapitalisme natural dari Amory Lovins, Hunter Lovins, dan Paul Hawken; serta ekonomi biru dari Gunter Pauli. Jadi, Ekonomi Sirkular itu sesungguhnya bukanlah barang baru, walaupun rumusannya yang demikian memang belum cukup lama diketahui orang.

Perkembangan Wacana dan Praktik
Kapan pertama kali istilah Ekonomi Sirkular keluar? Artikel Geissdoerfer dkk yang saya kutip di atas telah melakukan kajian pustaka intensif dan menemukan artikel ilmiah pertama kali menggunakan istilah tersebut di tahun 2006. Hingga penghujung 2016, jumlah artikel ilmiah yang menggunakan istilah itu belum cukup banyak sebetulnya, yaitu baru mencapai 295, sebagaimana yang terlacak dalam Web of Science. Pertumbuhannya juga relatif lambat hingga 2013, yaitu belum mencapai 20 artikel di tahun itu. Tetapi, angka tersebut melejit jadi lebih dari 30 di tahun 2014, lebih dari 70 di tahun 2015, lalu hampir menyundul 110 di 2016. Saya yakin, di tahun 2017 jumlahnya jauh lebih banyak lagi.

Tentu, di luar jurnal ilmiah ada banyak publikasi lain. Artikel-artikel profesional sangat banyak yang memanfaatkan istilah tersebut. Saya yakin, ada ribuan artikel profesional setiap tahunnya yang menjelaskan tentang ini. Berita-berita terkait dengan pengelolaan limbah dan manajemen sumberdaya alam juga dipenuhi dengan istilah itu. Demikian juga, buku-buku dipublikasikan untuk memopularkan konsep Ekonomi Sirkular. Tampaknya juga, kalau kita periksa tahun terbit buku tentang ini, memang 2014 adalah tahun di mana popularitas Ekonomi Sirkular meningkat dengan drastis.

Projek keroyokan yang dipimpin oleh Amory Lovins menghasilkan publikasi A New Dynamic – Effective Business in a Circular Economy di tahun 2014. Pada tahun berikutnya, jumlah buku tentang Ekonomi Sirkular langsung membesar. Ada Waste to Wealth: The Circular Economy Advantage yang ditulis oleh Jakob Rutqvist dan Peter Lacy; The Circular Economy: The Wealth of Flows oleh Ken Webster; juga The Guide to the Circular Economy: Capturing Value and Managing Material Risk yang ditulis trio Dustin Benton, Jonny Hazell, dan Julie Hill. Pada tahun 2016 kita menyaksikan terbitnya beberapa buku lagi, dengan A Circular Economy Handbook for Business and Supply Chains: Repair, Remake, Redesign, Rethink karya Catherine Weetman, dan Building Revolutions: Applying the Circular Economy to the Built Environment yang ditulis oleh Dave Cheshire, selain kelanjutan buku keroyokan Lovins dkk, A New Dynamic 2 – Effective Systems in a Circular Economy yang kali ini mencantumkan Ellen Franconi sebagai penulis pertamanya.

Di tahun 2017 penerbitan buku-buku Ekonomi Sirkular menunjukkan gairah intelektual yang semakin tinggi dalam merekam perkembangan yang sudah terjadi dan memberikan fondasi dan arah bagi perkembangan yang lebih jauh. The Re-use Atlas: A Designer’s Guide towards a Circular Economy adalah buku yang ditulis oleh Duncan Baker-Brown di tahun tersebut. Wolfgang Lechmacher juga menulis The Global Supply Chain: How Technology and Circular Thinking Transform Our Future di tahun tersebut. Menyusul kemudian Law for a Circular Economy yang ditulis Chris Backes. Dan, di tahun 2018 yang baru berada di pertengahan ini kita juga sudah menyaksikan terbitnya Business Models in the Circular Economy: Concepts, Examples and Theory yang dituliskan oleh Roberta De Angelis. Lalu, ada buku karya Robert Brears yang berjudul Natural Resource Management and the Circular Economy. Ada juga kitab berjudul Circular Economy and Sustainable Development Enterprises yang ditulis oleh Jiansu Mao dkk. Dan, buku Designing for the Circular Economy yang disunting oleh Martin Charter, seingat saya, baru saja terbit beberapa minggu yang lampau. Saya ingat betul bahwa buku itu baru terbit lantaran ikut menyarankan sampul depan mana yang sebaiknya dipilih—dan pilihan saya itu yang kini menjadi sampulnya.

Belajar ke Negeri Tiongkok

Apalagi yang saya ingat dari Ekonomi Sirkular? Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu adalah lokasi di mana Ekonomi Sirkular tumbuh pesat, dan itu pula yang tercermin di dalam publikasi-publikasi ilmiah. Geissdoerfer dkk melihat betapa Tiongkok memang merajai publikasi, dengan telah terbitnya lebih dari 120 artikel ilmiah tentang Ekonomi Sirkular di negeri itu. Inggris menyusul dengan 40an artikel, lalu Belanda dengan 30 artikel, lalu Amerika Serikat dan Italia yang sama-sama ada di angka 20an artikel.

Tahun lalu, saya menyempatkan diri nyantri tentang perkembangan ekonomi Tiongkok di Universitas Tsinghua. Di situ, saya belajar bahwa perhatian terhadap bentuk-bentuk Ekonomi Hijau, Ekonomi Berkelanjutan, Ekonomi Restoratif dan Ekonomi Regeneratif sudah sangat kental. Mereka, ketika itu, bahkan sudah memiliki 18 dokumen terkait pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) untuk membiayai segala jenis ekonomi itu. Itu karena negeri itu sudah sejak lama mengidentifikasikan tantangan-tantangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Pakar Ekonomi Sirkular negeri itu, Jinhui Li, dari Basel Convention Regional Center for Asia and the Pacific, Universitas Tsinghua, dalam presentasinya yang berjudul Role of Circular Economy in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs): A Case Study of China menyatakan bahwa tantangan dalam mewujudkan Ekonomi Sirkular adalah standar penilaian, penegakan regulasi, pengembangan teknologi, jejaring informasi, sistem manajemen pemerintahan, serta pembiayaan dan insentif ekonomi.

Tahun lalu, Olaf Weber, salah satu ‘dewa’ keuangan berkelanjutan, menulis artikel bertajuk Corporate Sustainability and Financial Performance of Chinese Banks di Sustainability Accounting, Management and Policy Journal, Vol. 8/3 yang menunjukkan berbagai kemajuan yang diperoleh perusahaan-perusahaan Tiongkok yang menjalankan berbagai bentuk ekonomi yang baik itu, termasuk Ekonomi Sirkular. Pada saat yang sama, bank-bank yang menjalankannya juga semakin makmur.

****

Dengan segala pemikiran yang berkecamuk seperti yang saya tuliskan di atas, maka saya langsung menyanggupi ketika panitia acara The 2nd Circular Economy Forum meminta saya memoderasi sesi tentang peluang pembiayaan Ekonomi Sirkular di hari pertama. Saya ingin mendengarkan dan belajar dari penuturan para narasumber. Ketika saya menyanggupi menjadi moderator sesi tersebut, tak lama kemudian panitia meminta saya untuk dua hal lagi. Pertama, menjadi moderator untuk salah satu sesi di hari kedua, tentang sampah plastik di lautan. Kedua, menjadi salah satu anggota tim perumus. Dengan bahagia saya menyanggupinya.

Kalau tulisan ini adalah soal pemikiran yang terlintas di benak saya ketika mendengar bahwa di Indonesia akan ada forum yang mendiskusikan Ekonomi Sirkular, agaknya saya harus menuliskan beberapa tulisan berikutnya. Ini akan menjadi tulisan pertama. Tulisan kedua dan ketiga akan tentang dua sesi yang saya moderasi. Tulisan keempat saya rencanakan tentang apa saja key takeaways yang telah dirumuskan dari acara tiga hari itu. Mungkin ada tulisan kelima juga, yang saya rencanakan tentang catatan personal saya atas acara itu. Tetapi yang kelima ini baru mungkin. Untuk sementara, saya berharap tulisan pertama ini cukup bermanfaat untuk mengaji kembali alifbata Ekonomi Sirkular. Tiga atau empat tulisan berikutnya akan segera menyusul.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA.

By |2018-07-04T06:10:16+00:004 July 2018|Ekonomi, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *