Ciptakan Solusi Konkret Atasi Krisis Iklim

Solution board - Geralt - PixabayAd Hoc Working Group on the Durban Platform for Enhanced Action (ADP) ke-2, berakhir minggu lalu di Bonn, Jerman. Menurut Christiana Figueres, Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), delegasi dari 160 negara sepakat untuk menciptakan kebijakan konkret guna menciptakan kesepakatan iklim baru pada 2015.

Semua negara telah berkomitmen untuk menciptakan aksi yang transparan, terukur dan bisa diverifikasi menuju terciptanya kesepakatan baru yang akan berlaku pada 2020. Kebijakan ini penting guna mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat Celcius dari masa pra-industri.

Figueres mengingatkan, dunia saat ini ketinggalan aksi ilmiah yang diperlukan untuk menekan kenaikan suhu bumi. Pertemuan di Bonn berupaya memastikan bahwa semua pihak – organisasi internasional maupun sektor swasta – dengan dukungan politik, akan bekerja bersama mencapai target-target ini.

Salah satu kesepakatan konkret yang diraih adalah upaya mitigasi dengan beralih ke energi terbarukan disertai dukungan finansial untuk mewujudkannya.

Hasil dari pertemuan minggu lalu akan dievaluasi dalam pertemuan ADP selanjutnya yang akan digelar bulan depan dan menjadi agenda Pertemuan Perubahan Iklim, Conference of the Parties ke-19 (COP 19), yang akan berlangsung November ini, di Warsawa, Polandia.

Bersamaan dengan selesainya ADP ke-2, lembaga PBB, World Meteorological Organisation (WMO), mengonfirmasi bahwa tahun 2012 adalah tahun terpanas kesembilan sepanjang sejarah. Tahun lalu, rata-rata suhu bumi naik 0,45 derajat Celsius dari rata-rata suhu bumi pada periode 1961-1990 yang mencapai 14 derajat Celcius. Kenaikan suhu ini melanjutkan tren yang telah berlangsung selama 27 tahun.

Menurut Sekretaris Jenderal WMO, Michel Jarraud, tren pemanasan global ini semakin mengkhawatirkan karena akan memicu cuaca ekstrem termasuk kekeringan dan siklon tropis. Bukti-bukti baru dari NASA yang sudah ditulis di Hijauku.com, semakin menegaskan pengaruh pemanasan global terhadap cuaca ekstrem.

Menurut UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), wilayah Eropa akan menjadi wilayah yang mengalami pemanasan global tercepat. Wilayah Eropa Selatan dan Eropa Tengah, akan semakin sering dilanda gelombang panas, kebakaran hutan dan kekeringan. Sementara di wilayah Eropa Utara dan Eropa Timur Laut akan mengalami hujan ekstrem dan banjir.

Menurut UNISDR, sebanyak 75% penduduk Eropa tinggal di wilayah perkotaan. Mereka akan semakin terancam oleh gelombang panas, banjir dan kenaikan permukaan air laut. Uni Eropa memerkirakan, biaya adaptasi perubahan iklim mencapai $131 miliar per tahun pada 2020 dan meningkat menjadi $328 miliar per tahun pada 2050.

Redaksi Hijauku.com

By | 2016-10-13T14:58:16+00:00 6 May 2013|Berita, Energi, Iklim, Lingkungan|1 Comment

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

One Comment

  1. berita dunia 8 October 2013 at 12:29 AM

    Whoa, wonderful weblog structure! Just how extensive are you blogs to get? you create blogging and site-building search quick. The complete glimpse of the site is great, not to this content material!

Leave A Comment

CAPTCHA *