Mari Berkebun, Mari Menciptakan Kota Hijau

Aktivitas berkebun skala kecil di perkotaan (market gardening) adalah kunci terwujudnya kota ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Aktivitas ini juga bisa menjadi solusi krisis pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini terungkap dalam laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) berjudul “Growing greener cities in Africa” yang diterbitkan akhir minggu lalu (30/8).

Aktivitas berkebun di perkotaan saat ini terus berkembang, tak hanya di Afrika namun juga di banyak negara termasuk Indonesia. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari laporan ini. Menurut FAO, jumlah penduduk Afrika tumbuh lebih cepat dibanding wilayah-wilayah lain di dunia dan banyak kota-kota di Afrika yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.

Aktivitas berkebun skala kecil di perkotaan (market gardening) bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perkotaan. Aktivitas ini memasok kebutuhan sayur dan buah-buahan bagi penduduk kota dari aktivitas berkebun di rumah, di sekolah, di komunitas dan lahan-lahan pertanian skala kecil baik di dalam maupun di pinggiran kota.

Laporan FAO ini adalah laporan pertama yang memberikan gambaran lengkap tentang praktik berkebun skala kecil di Afrika. Menurut FAO, setidaknya ada tiga faktor yang menjadi kunci sukses aktivitas berkebun di perkotaan guna menciptakan sebuah kota yang ramah lingkungan.

Faktor pertama adalah ketersediaan lahan berkebun (market garden) yang berkelanjutan.

Semakin hijau sebuah kota, kebutuhan akan lahan berkebun di dalam dan sekitar kota semakin besar. Lahan berkebun tidak perlu terlalu luas namun lahan tersebut harus memiliki fasilitas irigasi dan dikelola secara komersial di lokasi-lokasi yang telah disediakan. Market garden dan aktivitasnya (market gardening) ini telah menjadi satu-satunya sumber pasokan bahan pangan segar di 10 dari 27 negara Afrika yang diteliti FAO dan menjadi sumber pasokan pangan kedua di enam negara lain di Afrika.

Namun menurut FAO, di banyak kota-kota besar di Afrika, aktivitas market gardening ini tidak mendapat pengakuan dan dukungan kebijakan dari pemerintah. Bahkan di sejumlah kota, aktivitas ini berubah menjadi aktivitas yang tidak lagi ramah lingkungan karena para pekebun semakin banyak menggunakan pestisida dan air yang sudah tercemar untuk mengairi lahan-lahan mereka.

Untuk itu, pemerintah harus membantu aktivitas ini baik dalam skala lokal maupun nasional. Banyak pekebun yang tidak memiliki hak atas tanah yang mereka kelola; banyak diantaranya yang dengan mudah kehilangan lahan karena lahan tersebut akan digunakan untuk perumahan, pabrik dan fasilitas infrastruktur perkotaan.

Untuk itu, guna mewujudkan sebuah kota hijau, menurut FAO, para pembuat kebijakan perlu mengalokasikan lahan untuk aktivitas berkebun ini. Seperti yang sudah diterapkan di Jepang, pemerintah Jepang menyediakan lahan yang bisa dikelola bersama oleh warga atau komunitas.

Selain menyediakan lahan, pemerintah juga dituntut untuk mengolah air limbah agar bisa digunakan untuk mengairi lahan. Lokasi perkebunan di perkotaan bisa menjadi jalur hijau (green belt) yang melindungi wilayah-wilayah yang rawan bencana seperti banjir atau kekeringan akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Faktor kedua adalah menciptakan pola tanam yang ramah lingkungan.

Strategi yang dikenal dengan istilah “save and grow” ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas sambil memerbaiki ekosistem dan lingkungan perkotaan. Dengan menerapkan pola tanam yang ramah lingkungan, para pekebun bisa menghasilkan lebih banyak buah dan sayuran, mengurangi kontaminasi bahan-bahan kimia berbahaya, memangkas biaya, sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.

Caranya adalah dengan menggunakan kompos yang bisa dihasilkan dari sampah-sampah rumah tangga. Kompos akan membuat tanah semakin subur sehingga mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia dan pestisida. Tanah berkompos juga lebih hemat air. Teknik irigasi tetes (drip irrigation) dan penyimpanan air hujan juga bisa diterapkan untuk mengurangi kebutuhan pasokan air di perkotaan.

Faktor ketiga adalah menciptakan sistem pasokan yang efisien

Sistem pasokan yang efisien ini bertujuan untuk memermudah penyaluran produk-produk pekebun dengan cara menjual langsung ke konsumen hingga ke restoran-restoran. Sistem ini juga bisa mendorong para pekebun untuk saling bekerja sama, sehingga produk mereka semakin beragam, memeroleh harga yang layak dan meningkatkan manajemen paska panen.

Pemerintah bisa mendukung mereka dengan memberikan pinjaman lunak untuk membeli alat pengolah hasil kebun serta membangun pasar-pasar informal yang bersih dan tersebar di sejumlah lokasi di perkotaan. Pasar-pasar informal ini akan membantu penduduk miskin menghemat waktu dan biaya serta menghindarkan mereka membeli makanan jalanan yang tidak sehat.

Penduduk kota juga bisa mengurangi jejak karbon mereka dengan mengonsumsi buah dan sayur lokal, buah dan sayur organik yang lebih sehat dan aman. Mari kita berkebun, mari kita ciptakan kota hijau, kota yang berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com

By | 2013-08-17T17:35:34+00:00 5 September 2012|Berita, Bisnis, Ekonomi, Lingkungan, Produk|1 Comment

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *