Tiga Tantangan Dunia Pertanian Masa Kini

Perubahan iklim dan pemanasan global telah menyebabkan kegagalan panen dan peningkatan harga pangan. Namun setidaknya ada tiga tantangan di industri pertanian masa kini yang semakin memerparah krisis lingkungan dan kemanusiaan. Hal ini terungkap dari hasil International Disaster Risk Conference (IDRC) 2012 yang berlangsung di Davos, Swiss minggu lalu.

Konferensi Risiko Bencana Internasional ke-4 ini dihadiri lebih dari 900 ahli risiko bencana dan dibuka oleh perwakilan khusus Sekjen PBB bidang nutrisi dan kelangkaan pangan, David Nabarro.

André Bationo, wakil Aliansi bagi Revolusi Hijau di Afrika atau Alliance for a Green Revolution in Africa (AGRA) yang berpusat di Nairobi, Kenya mengungkapkan tantangan yang pertama. Menurut Bationo, tantangan pertama di dunia pertanian saat ini adalah para petani yang bekerja di industri pertanian masih belum bisa terlepas dari jeratan kemiskinan.

Bationo menyatakan, sebanyak 70% penduduk Afrika saat ini bekerja di industri pertanian. Mereka menghasilkan 25 hingga 50% produk domestik bruto nasional. Namun sebagian besar petani Afrika terus hidup dalam jurang kemiskinan. Kondisi petani di wilayah sub-Sahara Afrika juga terus memburuk.

Penyebabnya, menurut John Staatz, ekonom dari Michigan State University, adalah volatilitas harga pangan. Volatilitas harga pangan ini yang menjadi tantangan kedua.

Siklus bisnis pertanian saat ini telah menghantam para petani, khususnya petani-petani di Afrika. Di Mali, menurut Staatz para petani yang didera kesulitan ekonomi, terpaksa mengurangi penggunaan pupuk sehingga mengurangi hasil produksi pertanian. Pada saat yang sama, subsidi harga yang diberikan kepada para petani di Amerika Serikat yang mengalihkan ladang jagung mereka untuk produksi ethanol telah mengakibatkan kenaikan harga jagung manis di tingkat konsumen.

Saat ini, 40% ladang jagung di AS digunakan untuk memroduksi ethanol. “Partai Republik dan Partai Demokrat sama-sama berkepentingan pada komoditas ini sehingga harga semakin naik,” tuturnya sebagaimana dikutip dalam berita Global Risk Forum (GR Forum) yang dirilis Rabu (29/8).

Tantangan ketiga terungkap dari pidato Dr. Mike Bushell, penasehat ahli dari Syngenta Foundation for Sustainable Agriculture yang berbasis di Basel. Menurut Bushell, saat ini, penyakit, hama dan gulma tanaman memicu penggunaan produk-produk kimia seperti pestisida dan herbisida yang membahayakan kesehatan manusia.

Sebanyak 40-50% pangan yang dikonsumsi penduduk dunia saat ini ditanam dengan bantuan pestisida dan herbisida. Petani juga terus menggunakan insektisida guna memberantas hama yang mampu menghancurkan ladang pertanian dan panen dalam waktu yang singkat.

Untuk itu, Nabarro mengajak para ahli untuk berfokus membantu para petani kecil dalam menanggulangi risiko pertanian ini dengan cara yang berkelanjutan. Nabarro mengungkapkan, PBB memerlukan dukungan masyarakat untuk membantu petani mengatasi ancaman kelaparan dan kekurangan nutrisi kronis yang terjadi saat ini dan pada masa datang.

Menurut Nabarro, masyarakat harus mampu mengantisipasi risiko dan melakukan mitigasi bencana kelaparan dan kekurangan nutrisi melalui strategi lokal dan nasional dalam jangka pendek maupun panjang. Hal ini guna menghindari semakin besarnya kerugian ekonomi jika terjadi bencana, sekaligus mengentaskan petani dari jurang kemiskinan.

Redaksi Hijauku.com

By | 2017-09-03T16:30:05+00:00 3 September 2012|Berita, Ekonomi, Lingkungan, Produk|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *