Atasi Kelaparan, Kurangi Limbah Makanan

Pembangunan berkelanjutan tidak akan berhasil tanpa upaya menghapuskan bencana kelaparan dan kekurangan gizi.

Salah satu aksi yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi limbah makanan.

Hal ini terungkap dari laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang diluncurkan kemarin (30/5).

“Pembangunan tidak bisa dikatagorikan sebagai berkelanjutan jika kondisi ini terus berlangsung. Satu dari tujuh laki-laki, perempuan dan anak-anak masih mengalami kekurangan gizi,” ujar José Graziano da Silva, Direktur Jenderal FAO.

Laporan yang berjudul “Towards the future we want: end hunger and make the transition to sustainable agricultural and food systems” ini dipersiapkan untuk menyambut Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) yang akan berlangsung di Brasil, akhir Juni nanti.

FAO menekankan pentingnya mengatasi masalah di sistem pangan saat ini sehingga ratusan juta penduduk di negara berkembang memiliki kemampuan untuk memroduksi makanan sebagai mata pencaharian mereka dan membeli makanan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Di Rio+20 kita memiliki peluang emas untuk mengatasi masalah ini, dengan menggabungkan konsep keamanan pangan dan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Graziano da Silva.

Laporan FAO ini juga mendorong pemerintah untuk menetapkan dan melindungi hak-hak rakyat atas sumber daya alam, memromosikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dalam sistem pangan.

Keberadaan pasar pangan dan pertanian yang adil dan berdaya juga penting dan pemerintah diminta untuk melakukan investasi dari hasil sumber daya yang dimiliki publik untuk melakukan inovasi dan membangun infrastruktur.

Laporan ini juga memberikan rekomendasi cara membantu petani yang mengelola 500 juta lahan pertanian kecil di negara berkembang yang hingga saat ini masih kekurangan sumber daya akibat ketidakcukupan pangan dan nutrisi.

Negara-negara maju juga diminta untuk mengubah pola konsumsi mereka untuk mengurangi limbah makanan. FAO memerkirakan, jumlah makanan yang hilang dan terbuang mencapai 1,3 miliar ton setiap tahun atau sepertiga dari jumlah makanan yang dikonsumsi dan diproduksi penduduk dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan populasi dunia yang diperkirakan akan mencapai angka 9 miliar penduduk pada 2050, menurut FAO diperlukan perbaikan sistem tata kelola pangan dan pertanian. “Tanpa aksi yang terarah, peningkatan produksi pangan – sebesar 60% untuk memenuhi pertumbuhan permintaan dunia – belum mampu mengentaskan 300 juta penduduk dari kelaparan pada 2050 karena mereka tetap tidak memiliki akses ke pasokan pangan,” ujar FAO.

Redaksi Hijauku.com

Bookmark and Share

Tags: , , , , , , , , , , , , ,



Related Posts

Perito Moreno Ice Cliff - S Rossi @ Fotopedia
Air Laut Naik Lebih Cepat dari Prediksi IPCC
Oil refinery complex at sunset - Cooking the Planet
Jangan Abaikan Polusi Udara
Logo Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
AMAN: Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat
Grand Indonesia - Hijauku
Meneliti Tren Bangunan Hijau di Indonesia
Smog - Mbching @ Flickr
Polusi Udara di Perkotaan Terus Meningkat
Tesla Roadster White - Teslamotors
Eropa Kurangi Polusi dengan Mobil Hemat Energi


Fresh cut fruits and vegetables @ Public Domain Images
Atasi Kelaparan, Kurangi Limbah Makanan