Lingkungan Kunci Pertumbuhan Asia-Pasifik

Negara-negara Asia Pasifik memiliki kesempatan untuk bertumbuh dengan cara yang berkelanjutan dengan tidak mengorbankan alam.

Hal ini terungkap dalam Laporan Pembangunan Manusia Asia-Pasifik 2012 (Asia-Pacific Human Development Report 2012) yang diluncurkan Program Pembangunan PBB (UNDP), Minggu lalu (10/5).

Saat ini, 85% kebutuhan energi negara-negara di Asia-Pasifik masih bergantung dari bahan bakar fosil. Negara-negara di wilayah ini menyumbang 37% emisi gas rumah kaca dunia yang berasal dari sektor pertanian, peternakan, perubahan fungsi lahan dan deforestasi.

Menurut laporan ini, masa depan dunia akan ditentukan oleh pilihan yang diambil negara-negara di wilayah Asia dan Pasifik untuk bertumbuh dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Targetnya jelas, bagaimana negara-negara di Asia-Pasifik bisa mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan pada saat yang sama mengurangi emisi karbon,” ujar Ajay Chhibber, Direktur Regional UNDP untuk wilayah Asia-Pasifik.

Untuk beralih ke pertumbuhan yang rendah karbon, laporan ini memberikan beberapa rekomendasi. Dimulai dengan beralih ke pola pertanian yang lebih ramah lingkungan, mendukung produksi energi bersih, dan menjamin akses atas fasilitas modern seperti listrik dan bahan bakar yang lebih bersih untuk memasak, terutama bagi masyarakat miskin di pedesaan.

Lebih dari separuh penduduk dunia tinggal di wilayah Asia-Pasifik dan separuh dari kota-kota besar dunia ada di wilayah ini.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, negara-negara Asia-Pasifik berpotensi memangkas emisi karbon dalam jumlah besar pula dengan mendorong masyarakat beralih ke gaya hidup yang ramah lingkungan.

Ide peralihan ke gaya hidup ramah lingkungan ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan digaungkan setiap hari.

Pemerintah juga dituntut untuk menciptakan infrastruktur yang memadai misalnya dengan menciptakan sistem transportasi publik yang aman, nyaman dan terkoneksi yang akan mengurangi kebutuhan akan kendaraan pribadi.

Masyarakat harus disadarkan bahwa setiap tindakan mereka memerlukan energi dan menghasilkan emisi. Dengan mengetahui konsumsi energi dan emisi CO2 yang mereka hasilkan setiap hari, masyarakat akan semakin bertanggung jawab dalam pemakaian energi.

Potensi peralihan ke gaya hidup ramah lingkungan di negara-negara Asia-Pasifik tidak hanya menjadi sebuah keharusan namun juga menjadi sebuah peluang untuk tidak mengulangi kesalahan negara maju yang telah bertumbuh dengan cara yang merusak lingkungan.

“Negara-negara berkembang di Asia-Pasifik saat ini masih terikat dengan pola produksi dan konsumsi lama yang menghasilkan emisi dalam jumlah besar. Mereka kini tidak hanya berkewajiban namun juga berpeluang untuk mengelola pembangunan dengan cara yang berbeda,” tulis laporan ini.

Redaksi Hijauku.com

Bookmark and Share

Tags: , , , , , , , , , , , ,



Related Posts

Coal power plant - PD Tillman
Terungkap: Nilai Kerusakan Lingkungan
Dead trees - Pixabay
Dunia Bersiap Hadapi Kekeringan
Ivory trading in 1880s - Zangaki Brothers
Perdagangan Gading Ilegal Terus Berlanjut
MIT membranless batteray - Felice Frankel
MIT Temukan Baterai Murah dan Efisien
La Via Campesina
Obor La Via Campesina Pindah ke Afrika
Monsoon rains - McKaySavage
Pemanasan Global Picu Hujan Ekstrem


Asia Pacific Map - Sony Insider
Lingkungan Kunci Pertumbuhan Asia-Pasifik