Pasokan Air Dunia Semakin Menipis

Permintaan air yang terus meningkat dan perubahan iklim mengancam ketersediaan air dunia. 

Hal ini terungkap dalam siaran pers yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa kemarin (12 Maret, 2012).

Jumlah permintaan pangan yang melampaui perkiraan, urbanisasi yang terus meningkat dan perubahan iklim adalah faktor utama yang menyebabkan air bersih semakin langka.

Semua ini tercantum dalam Laporan Perkembangan Air Dunia PBB (UN World Water Development Report) yang diluncurkan bersamaan dengan acara Forum Air Dunia di Marseille

Menurut PBB, dunia perlu melakukan perubahan radikal cara pengelolaan sumber daya penting ini agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa datang.

Dari laporan tersebut juga terungkap, pada 2050, permintaan pangan dunia akan naik sebesar 70%, menyebabkan kebutuhan air untuk pertanian melonjak sebesar 19%. Saat ini sebanyak 70% air tawar (freshwater) sudah digunakan untuk kebutuhan pertanian.

“Air tawar masih digunakan dengan tidak bijaksana, tidak sesuai dengan permintaan dan kebutuhan,” ujar Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova. “Mendapatkan informasi yang akurat (terkait penggunaan air) sangat sulit dan sistem pengelolaan air di dunia tidak seragam. Sehingga (kondisi air) pada masa datang akan semakin tidak menentu dan berisiko.”

Laporan yang berjudul “Managing Water under Uncertainty and Risk,” ini menyebutkan, banyak negara yang menggali sumber air tanah untuk memenuhi permintaan air penduduknya. Proses pengangkatan air tanah meningkat tiga kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Di sejumlah wilayah, kondisi air tanah bahkan tidak bisa dipulihkan lagi, air tanah semakin mengering dan saat ini berada dalam kondisi yang kritis.

Perubahan iklim juga memerparah kondisi kekurangan air ini. Perubahan pola hujan dan kelembapan tanah, es yang terus mencair serta semakin seringnya bencana yang berhubungan dengan air seperti banjir dan kekeringan akan memengaruhi produksi pangan dunia. Laporan ini memerkirakan, pada 2070, lebih dari 44 juta penduduk di seluruh dunia akan terkena dampaknya.

Michel Jarraud, yang memimpin Forum Air PBB menyatakan, “komunitas internasional harus bekerja sama” untuk mengatasi masalah ini. Tanpa aksi yang serius, bencana kekurangan air ini akan merugikan terutama bagi masyarakat miskin.

Miliaran penduduk di negara berkembang seperti Indonesia juga akan terkena dampaknya. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak mengelola sumber air secara bijaksana termasuk jika mereka tidak melakukan investasi di infrastruktur pendukung.

Saat ini, menurut laporan PBB, terdapat 1 miliar penduduk yang tidak memiliki akses atas air yang layak dan jumlah mereka terus bertambah terutama di wilayah perkotaan. Infrastruktur sanitasi juga tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk dan lebih dari 80% air limbah dunia belum diolah kembali dan dikumpulkan.

Redaksi Hijauku.com

By | 2013-08-17T18:53:20+00:00 13 March 2012|Berita, Komunitas, Terbaru|1 Comment

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

One Comment

  1. Petrus Ghatot M 19 March 2012 at 3:13 PM

    Need Info about water in Indonesian

Leave A Comment

CAPTCHA *