Urbanisasi: Peluang atau Ancaman?

Selama dua dekade terakhir, negara-negara di Asia semakin menyadari peran kota sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun investasi di sektor infrastruktur, seperti fasilitas transportasi dan pemukiman, gagal mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Sehingga pemerintah di Asia perlu menciptakan struktur perkotaan baru untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi mereka.

UN Habitat, lembaga PBB yang membidangi pemukiman penduduk, dalam State of Asian Cities Report 2010/11 menyatakan, antara tahun 1990 dan 2010, pertumbuhan penduduk Asia jauh melebihi jumlah populasi AS dan Uni Eropa. Tak ada benua lain yang mengalami pertumbuhan penduduk begitu cepat dalam waktu yang begitu singkat seperti Asia.

Dalam sepuluh tahun ke depan, dua pertiga pertumbuhan penduduk perkotaan dunia akan terjadi di kota-kota di Asia. Dan sebagian besar kota dengan populasi 10 juta penduduk atau lebih kini juga berada di Asia.

Kota-kota Asia adalah kota dengan populasi paling padat di dunia (dihuni 10.000 hingga 20.000 jiwa per meter persegi). Gedung bertingkat modern bercampur dengan bangunan-bangunan tradisional. Fungsi lahan saling tumpang tindih antara hunian dan bangunan komersial, antara ruang formal dan informal.

Namun semua masalah tersebut memberikan peluang untuk menciptakan kota yang sangat efisien dan produktif, menciptakan infrastruktur yang hemat biaya dan mengurangi kebutuhan akan sistem tranportasi publik skala besar.

Kondisi kota-kota Asia yang masih dalam tahap awal urbanisasi juga memberikan peluang untuk menerapkan konsep pembangunan kota yang berkelanjutan (sustainable urban development).

Jika strategi di atas dikombinasikan dengan program pengentasan kemiskinan, penyediaan infrastruktur yang tepat, termasuk infrastruktur transportasi dan perumahan, kota-kota Asia akan bisa mengambil manfaat dari populasinya yang padat.

Infrastruktur yang baik akan meningkatkan produktifitas dan investasi sekaligus mengurangi kemacetan, polusi dan ruang kumuh.

Pertumbuhan ekonomi menjadi energi untuk mengubah kota menjadi kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Sepanjang tahun 1980-an, Kota Shanghai di China menghabiskan 5-8% dari Produk Domestik Bruto-nya untuk membangun kembali infrastruktur urban.

Kota Beijing dan Tianjin saat ini menghabiskan lebih dari 10% PDB mereka untuk membangun jalan, fasilitas air bersih, saluran pembuangan air limbah, perumahan dan sarana transportasi perkotaan.

Secara umum pemerintah kota di Asia akan membutuhkan dana hingga US$10 triliun untuk membangun infrastruktur dan birokrasi yang sehat di perkotaan.

Semua strategi tersebut akan memungkinkan kota menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu memenuhi kebutuhan tidak hanya penduduk miskin, namun juga kaum muda hingga mereka yang lanjut usia.

Redaksi Hijauku.com

By | 2013-08-17T19:11:39+00:00 17 January 2012|Berita, Ekonomi, Terbaru|2 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

2 Comments

  1. Agus S Djamil 17 January 2012 at 2:20 PM

    “Pertumbuhan ekonomi menjadi energi untuk mengubah kota menjadi kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.”
    Saya rasa, yang benar adalah sebaliknya. Energi merupakan salah satu sokoguru ekonomi modern. Kita perlu mempertimbangkan Biophysical Economy, yang memperhatikan faktor sumber daya alam dalam formulasi ekonomi.
    Banyak energi terbarukan (renewable energy) yang ditawarkan, justru sebenarnya tidak ramah terhadap lingkungan itu sendiri.
    Dengan tolok ukur EROEI (Energy Return On Energy Invested) bisa menyeleksi dengan lebih seksama, objektif dan berkeadilan, pembangkitan listrik / energy apa saja yang sebenarnya layak diterapkan.
    Indonesia perlu mempertimbangkan dengan serius energy panas bumi dan arus laut / pasang surut.
    Kita juga perlu serius memindahkan Ibukota Negara ke lokasi yang lebih sesuai dan sustain di Kalimantan. Otherwise, pembangunan Jakarta di lokasi sekarang hanya tambal sulam dan mahal. misalnya: US$ 25 Billion untuk rencana bikin tanggul di pantai utara. Ini cukup untuk membangun ibukota negara baru di sebuah teluk yang asri di Kalimantan.

  2. Redaksi Hijauku.com 18 January 2012 at 12:05 AM

    Terima kasih Pak Agus atas masukannya, pertumbuhan ekonomi adalah penggerak perubahan menuju kota yang lebih ramah lingkungan.

    Kami setuju dengan Anda bahwa energi adalah salah satu soko guru perekonomian, dengan mempertimbangkan EROEI tidak semua energi terbarukan otomatis menjadi produk yang ramah lingkungan, namun dengan mempertimbangkan isu keberlangsungan atau sustainability pada saatnya semua energi baru dan terbarukan yang ada sekarang akan menjadi layak untuk diinvestasikan, dan energi fosil akan ditinggalkan.

    Memang butuh waktu yang panjang, namun benar seperti saran Anda, semua alasan harus dipertimbangkan untuk memenuhi pasokan energi terutama dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

    Ide pindah Ibu Kota adalah ide yang sangat menarik. Suatu saat nanti, ide itu akan berubah jadi ide menyelamatkan Jakarta. Seperti yang terjadi di Thailand yang sudah mengalami perpindahan ibu kota tiga kali sejak abad ke-18.

    Terima kasih atas masukannya yang sangat berharga.

Leave A Comment