Mengurangi Polusi dengan Taman Vertikultur

Tanaman adalah penyerap emisi CO2 yang efektif. Namun penanaman tanaman penyerap polusi menghadapi kendala semakin sempitnya lahan. Masalah itu kini bisa teratasi dengan TVS.

Penyempitan lahan terutama terjadi di wilayah perkotaan. Untuk itu, diperlukan inovasi cerdas yang bisa menghemat lahan sekaligus mengurangi emisi CO2. Media taman vertikultur adalah solusinya.

Taman vertikultur adalah taman yang disusun secara vertikal yang berisi tanaman penyerap polutan (karbondioksida, karbonmonoksida, dan emisi lainnya).

Ada beberapa tanaman yang dapat memenuhi fungsi tersebut, antara lain Sansevieria, Clorophytum, Aglaonema, Dracaena, Phylodendron, dan Syngonium (Henley et al, 2006).

Sansevieria sp (tanaman lidah mertua) adalah tanaman yang sangat efektif menyerap emisi CO2. Atas dasar inilah penanaman Sansevieria sp perlu digalakkan agar emisi gas buang kendaraan dapat segera diserap secara alami dan maksimal sehingga tercipta konsep Taman Vertikultur Sansevieria sp (TVS).

TVS terdiri dari dua bagian utama yaitu rangka penopang dan rangka untuk pot tanaman. Rangka penopang terbuat dari 2 besi sebagai kerangka penopang utama dan kerangka pengunci yang sekaligus berfungsi menjadi tempat menggantung pot-pot tanaman. Sebagai penguat, digunakan baut-mur silinder pada setiap sisi kerangka penopang dan karet pada lengkung kerangka (Gambar 1).

Bahan-bahan yang dibutuhkan bagi pembuatan TVS sangat sederhana, meliputi besi ukuran 2 x 3 cm, baut-mur silinder, karet penyekat, kaleng bekas, pelat strip, cat , thinner dan media tanam.

Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah mesin las listrik tipe BX-160 220V, gunting pelat, tang, rivet, palu, meteran, jangka besi, gergaji besi, alat tulis, alat ukur (meteran) dan busur derajat.

Untuk pot tanaman kita bisa memanfaatkan kaleng-kaleng bekas seperti kaleng oli. Sebanyak 4 buah pot tanaman atau lebih bisa digantungkan pada sisi-sisi kerangka tergantung dari perbandingan diameter pot dengan ukuran tiang. Misal, tiang berdiameter 20 cm ideal digunakan untuk 4 pot tanaman berdiameter 15 – 20 cm.

Pot tanaman yang digantung membentuk sudut 30 derajat relatif terhadap tiang untuk menambah efektifitas pemanfaatan ruang dan nilai estetika (Gambar 3) dan (Gambar 4). Sistem ini juga mudah untuk dibongkar-pasang, sehingga mudah melakukan perawatan atau penggantian pot tanaman.

 

 

 

 

 

Gambar 1. Prinsip dasar kerangka pengunci.

 

 

 

 

 

Gambar 2. Penempatan pot tanaman di kerangka utama.

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Penempatan tanaman


 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Pot saling-silang

Cara Kerja TVS

Kerangka utama TVS dipasang mengapit tiang, dalam kasus ini adalah tiang lampu jalanan. Setelah kerangka utama dipasang, langkah selanjutnya adalah memasang kerangka pot serta pot yang telah diisi oleh media tanam – yaitu campuran zeolit dan merang – serta tanaman yang memiliki kemampuan menyerap polutan (lidah mertua).

TVS menggunakan campuran arang sekam dan zeolit sebagai media tanam. Dua bahan tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah (Pusat Penelitian Tanah, 1983 ).

Penggunaan zeolit sebagai media tanam akan meningkatkan jumlah basa-basa K, Na, Ca dan Mg serta meningkatkan KTK (Kapasitas Tukar Kation) tanah, walaupun media tanam tersebut sudah dipakai oleh tanaman selama masa pertumbuhannya.

Zeolit juga mengandung unsur-unsur hara makro dan mikro yang dapat disumbangkan ke dalam anah (Pusat Penelitian Tanah 1983). Penambahan zeolit dapat memperbaiki agregasi tanah sehingga meningkatkan pori-pori udara tanah yang merangsang pertumbuhan akar tanaman (Soepardi 1983). Luas permukaan akar tanaman yang bertambah akan meningkatkan fungsi penyerapan unsur hara oleh tanaman. Zeolit juga tidak meningkatkan pH tanah dan keberadaan zeolit di Indonesia cukup melimpah.

Pemilihan tiang lampu jalanan sebagai media taman dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses fotosintesis dari Sansevieria sp. Pada malam hari, Sansevieria sp dapat mengggunakan cahaya lampu jalan sebagai sinar tambahan untuk proses fotosintesis, sehingga tanaman lidah mertua ini bisa menyerap lebih banyak CO2 dan menghasilkan lebih banyak O2.

Dengan keberadaan cahaya, bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau bisa menghasilkan bahan organik dan oksigen yang merupakan hasil olahan dari karbondioksida dan air. Menurut Campbell et al. (2002) O2 adalah produk hasil fotosintesis yang bisa menggantikan oksigen di atmosfer yang telah dikonsumsi selama respirasi seluler.

 

 

 

 

 

Gambar 5. Lokasi ideal di tepi jalan yang sarat emisi

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Perbandingan kondisi lampu jalan yang telah dilengkapi dengan TVS pada siang dan malam hari

Selain menyerap emisi CO2, TVS juga bisa membantu mendaur ulang sampah dengan memanfaatkan kaleng bekas dan sekam padi yang banyak dibuang oleh masyarakat.

Kaleng bekas adalah bahan yang sulit terurai karena tergantung pada proses pengaratan yang membutuhkan waktu ratusan tahun (Fontana 1978). Karat pada kaleng bekas juga bisa merusak mutu dan keseimbangan tanah. Tumpukan kaleng bekas bisa menjadi sarang nyamuk yang menyebarkan berbagai macam penyakit. Kaleng yang berkarat juga bisa memicu tetanus jika melukai tubuh. Penggunaan kaleng bekas sebagai pot alternatif pada Taman Vertikultur Sansievera sp (TVS) bisa mengurangi biaya dan berdampak positif bagi lingkungan.

Sementara sekam padi adalah limbah pertanian yang sulit diurai oleh mikroba karena mengandung serat kasar (Munarso, 1995). Ketersediaan sekam padi di Indonesia cukup melimpah yaitu mencapai 20-30 % dari bobot total gabah kering yang dihasilkan oleh lahan pertanian.

Dengan semua manfaat tersebut, TVS bisa menjadi produk terobosan baru yang mudah diaplikasikan untuk mengurangi polusi di perkotaan.

Catatan Redaksi:

Artikel ini adalah hasil penelitian tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang turut serta dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis tahun 2010 (PKM GT 2010). Anggota tim terdiri dari:

Ketua : Guntur Rudy Hartono (Arsitektur Lanskap IPB 2007)

Anggota 1 : Wondo Hendratmo (Arsitektur Lanskap IPB 2007)

Anggota 2 : Atika Luthfiyyah (Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2007)

Redaksi Hijauku.com

Bookmark and Share

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,



Related Posts

Soft drink can - Marcos André
Minuman Ringan Terus Memakan Korban
2012 Olympic logo - Nigel Chadwick @Geograph.org.uk
Olimpiade London Gunakan Energi Hijau
Gedung ESDM - Situs Esdm
Audit Energi Gratis Untuk Gedung Pemerintah
Installing solar panels - Oregon Department of Transportation
ILO: Ciptakan Lapangan Kerja Hijau
Busan subway - Green Transport - titicat @ Flickr
Korea Nikmati Manfaat Ekonomi Hijau
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Energi Produktif: Kunci Perangi Kemiskinan


Cory M. Grenier @ Flickr
Mengurangi Polusi dengan Taman Vertikultur