Sebanyak 230 investor dengan nilai aset dalam pengelolaan mencapai $16,2 triliun menyeru aksi atasi kebakaran hutan dan lahan di Brasil, Bolivia dan Indonesia. Sebanyak 30% dari investor yang menandatangai seruan ini adalah manajer-manajer investasi dan pemilik aset terbesar di dunia dari 30 negara.

“Sebagai investor, sudah menjadi tugas kami untuk melindungi kepentingan jangka panjang dari klien-klien kami. Kami menyadari peran penting hutan tropis dalam mengatasi perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati dan menjamin ketersediaan jasa lingkungan.”

Dalam pernyataannya para investor meminta perusahaan untuk mencegah kebakaran hutan yang berpotensi mengganggu keuangan, reputasi dan pasar mereka. Secara spesifik para investor meminta perusahaan untuk:

1. Mengumumkan dan menerapkan kebijakan komoditas nol deforestasi dengan target waktu dan komitmen yang terukur di seluruh rantai pasokan dan di negara asal komoditas tersebut.
2. Menciptakan sistem verifikasi dan pengawasan (monitoring) yang transparan sebagai prasyarat untuk mengecek kebijakan nol deforestasi perusahaan.
3. Melaporkan semua upaya untuk mengelola risiko deforestasi termasuk kemajuan penerapan kebijakan nol deforestasi perusahaan setiap tahun.

“Deforestasi adalah isu global bagi investor jangka panjang seperti CalPERS yang menghadapi risiko mendesak dan parah seperti perubahan iklim,” ujar Anne Simpson, Direktur CalPERS.

“Kebakaran yang terjadi di Amazon, Indonesia dan wilayah lain akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan merusak kemampuan hutan dalam menyerap karbon. Kami mengajak perusahaan menurunkan emisi GRK mereka melalui Climate Action 100+,” tutur Anne.

“Sudah terlalu lama diskusi perubahan iklim hanya terkonsentrasi di sektor energi. Mendesak untuk segera menyoroti pola pengelolaan yang efektif di rantai pasokan sektor pertanian,” ujar Jan Erik Saugestad, CEO Storebrand Asset Management. “Deforestasi dan kehilangan keanekaragaman hayati tidak hanya permasalahan lingkungan tapi juga berdampak negatif pada ekonomi. Sebagai investor, kami tidak bisa mengabaikan risiko ini,” tuturnya.

Storebrand berambisi untuk membantu menghapuskan deforestasi dari portofolio investasi mereka pada 2025. “Kami tidak ingin berinvestasi di perusahaan yang melanggar hukum, yang gagal melindungi hutan dengan nilai konservasi tinggi atau perusahaan yang melanggar hak pekerja dan hak-hak penduduk lokal,” tegas Jan Erik.

Pernyataan tegas dari para investor besar di atas bisa menjadi bagian dari solusi dan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Perusahaan, terutama perusahaan yang sudah go public, sangat takut reputasi mereka tercoreng di pasar global.

Jika reputasi perusahaan tercoreng, kinerja saham mereka akan terganggu. Terbukti investor tidak mau investasi mereka dikaitkan atau terkait dengan kejahatan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ini. Termasuk perusahaan yang melakukan pembakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Jutaan jiwa menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla menganggu kesehatan, merusak perkembangan fisik dan mental generasi mendatang, menurunkan kecerdasan anak, membunuh bayi, balita dan orang tua, merusak keanekaragaman hayati Indonesia. Saatnya untuk meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum bagi pembakar hutan dan lahan Indonesia.

Redaksi Hijauku.com