Oleh: Hizbullah Arief *

Lama tidak menulis opini, saya tergelitik untuk merespon permintaan seorang rekan di grup Thamrin School of Sustainability and Climate Change untuk menuliskan upaya-upaya apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla tidak hanya menyesakkan dan meracuni nafas jutaan anak negeri namun juga penduduk di negara tetangga, Malaysia dan Singapura.

Semua berawal dari keinginan untuk mendialogkan dan menyelami permasalahan kabakaran hutan dan lahan secara sistematis, yang seperti puncak gunung es, masih banyak permasalahan-permasalahan lain yang belum tertangani di bawahnya.

Saya tidak akan bicara mengenai hal-hal teknis karhutla dan penanganannya, namun lebih fokus pada pendekatan sistematis apa yang bisa dilakukan untuk bersama-sama menyelami dan menyelesaikan masalah ini – juga masalah-masalah lingkungan lain – pada masa datang.

Pendekatan ini bersumber dari proses pembelajaran terhadap bidang yang saya tekuni yaitu advokasi dan komunikasi. Advokasi adalah upaya untuk mewujudkan perubahan perilaku dan kebijakan di lapangan. Ada dua alat utama yang digunakan: komunikasi (communication) dan pelibatan masyarakat (engagement).

Komunikasi tidak hanya berputar pada proses penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak yang lain secara efektif dan mudah dipahami, ada fungsi lain dari komunikasi yang lebih dari sekedar mengabarkan berita. Demikian juga dengan upaya pelibatan masyarakat, ada tujuan yang lebih besar dari sekedar menciptakan aksi di lapangan.

Menemukan fungsi komunikasi dan pelibatan masyarakat secara lebih mendalam inilah yang nantinya akan menjadi amunisi dan “nilai tambah” baru dalam proses advokasi di masyarakat.

Dalam kasus karhutla, ketika bencana terjadi, pesan yang disampaikan kebanyakan cenderung bersifat “menyerang”, mencari kambing hitam dari permasalahan yang ada. Silahkan Anda amati pernyataan pejabat maupun pemerhati lingkungan.

Padahal permasalahan karhutla terus berulang setiap tahun. Kebakaran tahun ini disebut-sebut menyamai skala kebakaran tahun 2015 yang – selain dipicu oleh musim kemarau yang panjang – juga akibat pembakaran lahan dari oknum individu dan korporasi.

Namun pola komunikasi dan pelibatan masyarakat dalam upaya “mengatasi” masalah karhutla pun cenderung sama. Sehingga tidak heran jika permasalahan karhutla masih terus terulang setiap tahun walau dengan intensitas yang berbeda-beda.

Rekan-rekan dari organisasi sosial kemasyarakatan kebanyakan cenderung mengikuti pendekatan pertama yaitu “menyerang” sementara lembaga resmi seperti organisasi pemerintah memiliki kecenderungan untuk “bertahan.”

Pesan yang “menyerang” atau kritik yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai “kecaman atau tanggapan, atau kupasan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk, terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya.” Sementara pesan yang “bertahan” adalah respon terhadap kritik tersebut.

Jika diamati, ada nilai-nilai yang “hilang” atau “dilupakan” dalam kedua pola komunikasi (menyerang dan bertahan) ini. Lemahnya pemahaman atas fungsi dan nilai-nilai komunikasi menjadi sumber permasalahannya. Untuk itu, penting kembali memahami fungsi/nilai komunikasi dan pelibatan masyarakat guna mengetahui nilai tambah apa yang bisa disematkan. Tujuannya tidak lain untuk mendorong perubahan perilaku dan kebijakan, guna mengatasi berbagai masalah riil di lapangan, sekali lagi tidak terbatas pada masalah karhutla.

Empat Nilai Tambah Komunikasi

Menurut penulis, setidaknya ada empat “nilai tambah” yang bisa disematkan dalam proses komunikasi dan pelibatan masyarakat dalam menangani karhutla, agar risiko “diskursus karhutla yang kehilangan nilai” bisa dihindari. Apa saja nilai-nilai tambah tersebut?

Nilai tambah pertama. Proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus digariskan sebagai upaya untuk membangun atau meningkatkan kesadaran masyarakat (building awareness). Misalnya, kesadaran masyarakat atas risiko kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan. Indonesia baru saja kehilangan Elsa Fitaloka, bayi berusia 4 bulan asal Banyuasin, Sumatra Selatan yang meninggal Minggu (15/9) lalu karena menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang dipicu oleh karhutla.

Diperlukan komitmen yang kuat untuk terus menyampaikan informasi seperti ini ke masyarakat sehingga tercipta keprihatinan yang mendalam terhadap tragedi ini. Dari sinilah kemudian proses komunikasi dan pelibatan masyarakat bisa mengajak, mendorong, menyemangati masyarakat atau lembaga untuk menciptakan perubahan.

Nilai tambah kedua, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus digariskan untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat (capacity building) untuk dapat berperan serta mengurangi risiko dan membantu menciptakan solusi masalah karhutla.

Peningkatan kapasitas ini bisa dicapai melalui pelatihan atau edukasi, baik yang teoritis maupun praktis terkait karhutla. Pelatihan cara pencegahan dan pemadaman api, serta edukasi untuk mengurangi risiko polusi udara bisa menjadi tema utama.

Nilai tambah ketiga, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus mampu mendesak para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan praktik dan kebijakan secara riil di lapangan, melalui proses lobi (lobbying) terkait karhutla. Sehingga mereka tidak bisa lagi bertindak seperti biasa atau business as usual.

Dan nilai tambah terakhir, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus ditargetkan untuk bisa menggalang dukungan sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya untuk memerangi masalah karhutla, menciptakan jejaring (networking) dan sinergi di masyarakat.

Sepuluh Pendekatan Mewujudkan Nilai Tambah

Setidaknya ada sepuluh pendekatan untuk memunculkan semua nilai tambah dalam komunikasi dan pelibatan masyarakat tersebut.

Pendekatan pertama, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus mendorong terwujudnya proses kemitraan atau kerja sama (partnership) dalam menangani masalah karhutla. Topik ini harus terus diangkat dan diperbanyak baik melalui proses komunikasi langsung maupun melalui media massa.

Pendekatan kedua, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus mampu mewujudkan konsensus atau pemahaman bersama terhadap sumber masalah karhutla beserta solusinya.

Pendekatan ketiga, masalah karhutla harus dianalisis dari berbagai sudut pandang pihak-pihak yang terlibat, sehingga terwujud solusi yang komprehensif dari para pihak.

Pendekatan keempat, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus mampu menciptakan aksi kolaborasi, saling mendukung dan rasa tanggung jawab dari para pihak untuk menangani masalah karhutla.

Pendekatan kelima, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus bisa menggali pengetahuan dan pengalaman komunitas dalam menyelesaikan masalah karhutla.

Pendekatan keenam, pengetahuan dan pengalaman komunitas lokal tersebut selanjutnya dikaitkan dengan bukti-bukti ilmiah yang bisa ditemukan dalam skala lokal, nasional dan global guna memperkuat solusi karhutla. Pendekatan ini sekaligus mampu memperluas jaringan komunikasi dan pelibatan masyarakat.

Pendekatan ketujuh, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus mendorong terwujudnya budaya pembelajaran (learning culture) untuk mengatasi karhutla. Belajar dari kegagalan, kearifan lokal, nasional dan global, agar bencana tak berulang.

Pendekatan kedelapan, upaya komunikasi dan pelibatan masyarakat harus fokus pada upaya menciptakan solusi masalah karhutla. Aksi ini akan memandu proses komunikasi yang positif dan membangun antara para pihak.

Pendekatan kesembilan, proses komunikasi dan pelibatan masyarakat harus dilaksanakan secara fleksibel dan responsif sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan. Masyarakat yang sudah teredukasi, akan merespon secara positif upaya bersama menangani karhutla.

Dan pendekatan kesepuluh, proses komunikasi dan pelibatan para pihak harus berani menggunakan semua jalur dan jaringan komunikasi yang ada, baik jalur komunikasi resmi atau tidak resmi, formal maupun informal, langsung maupun tidak langsung, menggunakan media tradisional, media sosial dan sebagainya. Semua jalur dan jaringan komunikasi tersebut memiliki target penggunanya masing-masing.

Semua pendekatan di atas saling terkait dan mempengaruhi, menciptakan nilai tambah dalam proses komunikasi dan pelibatan masyarakat.

Dengan menuliskan (kembali) 10 pendekatan ini, diharapkan diskursus mengenai karhutla – dan masalah-masalah lingkungan lain – akan semakin bernilai, berlandaskan aksi, menciptakan  solusi dan perubahan riil di lapangan, yang berkelanjutan.

–##–

* Hizbullah Arief adalah pendiri Hijauku.com, Situs Hijau Indonesia.