Dampak krisis iklim semakin nyata. Banjir, kebakaran dan topan berintensitas tinggi semakin sering terjadi. Dunia perlu investasi untuk beradaptasi hadapi krisis iklim.

Tanpa aksi adaptasi ini, jutaan penduduk dunia akan semakin tenggelam dalam jurang kemiskinan, yang akan memicu ketidakstabilan dan konflik di seluruh dunia.

Hal ini disampaikan oleh para pemimpin Global Commission on Adaptation, hari ini, Selasa, 10 September 2019. Mereka adalah mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-8, Ban Ki-moon, Bill Gates dari Yayasan Bill and Melinda Gates, dan Kristalina Georgieva, CEO Bank Dunia yang diwakili oleh Axel van Trotsenburg.

Ketiganya meminta negara-negara dunia untuk berinvestasi sebesar $1,8 triliun di lima sektor mulai tahun 2020 hingga 2030 guna membantu masyarakat beradaptasi terhadap krisis iklim yang sudah terjadi.

Kelima sektor tersebut adalah investasi di sistem peringatan dini, investasi di infrastruktur tahan iklim, investasi pertanian di lahan kering, investasi perlindungan dan pemulihan hutan mangrove serta investasi untuk menjaga sumber air. Jika dilaksanakan, investasi ini akan menghasilkan manfaat senilai empat kali lipat investasi awal yaitu mencapai $7,1 triliun.

Investasi di pemulihan dan perlindungan hutan mangrove misalnya, akan melindungi masyarakat di wilayah pesisir dari badai dan gelombang laut yang mematikan, pada saat yang sama, menyediakan habitat bagi tumbuh kembangnya ikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Negara-negara seperti India, Thailand, Filipina dan Indonesia akan merasakan manfaatnya. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Memulihkan hutan mangrove di kawasan pesisir akan meningkatkan ketahanan bencana, pangan dan ekonomi masyarakat.

Bill Gates menyatakan, penduduk di seluruh dunia saat ini telah merasakan kehancuran akibat krisis iklim. “Jutaan petani (termasuk nelayan) kecil dan keluarganya di negara berkembang, saat ini masih terus berjuang keluar dari garis kemiskinan dan kelaparan akibat menurunnya hasil panen yang dipicu oleh perubahan suhu dan curah hujan yang ekstrem,” tuturnya.

Aksi adaptasi ini menurut Bill Gates diperlukan untuk membuka peluang baru melalui inovasi guna memicu perubahan di seluruh ekosistem dunia. “Adaptasi adalah isu penting yang memerlukan dukungan dari pemerintah dan perusahaan agar mereka yang paling rentan terdampak krisis iklim memiliki peluang untuk sejahtera,” ujar Bill Gates.

Pada kesempatan ini juga diluncurkan laporan berjudul “Adapt Now: A Global Call for Leadership on Climate Resilience”. Laporan ini menyeru perubahan mendasar atau revolusi di tiga bidang yaitu peningkatan pemahaman (understanding), perbaikan perencanaan (planning) dan alokasi pembiayaan (finance) terkait krisis iklim agar risiko dan dampak krisis iklim terus dijadikan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan.

Laporan ini juga menerangkan bagaimana ketiga revolusi di atas diterapkan di tujuh bidang lain yang saling terkait: pangan, lingkungan hidup, air, perkotaan, infrastruktur, manajemen risiko bencana dan pembiayaan. Laporan ini bisa dibaca pada tautan berikut: Adapt Now!

Redaksi Hijauku.com