Oleh: Dicky Edwin Hindarto *

Alhamdulillah, selama beberapa hari terakhir saya telah dipercaya oleh teman-teman Climate Action Network (CAN) untuk menjadi mensyiarkan implementasi kerjasama antar parapihak dalam penurunan emisi.

Singkatnya, saya diundang mewakili Jejaring Indonesia Rendah Emisi (JIRE) untuk melakukan presentasi tentang bagaimana asal muasal pembentukan JIRE, apa latar belakangnya, apa saja yang telah dilakukan, dan siapa saja anggota JIRE.

Wakil dari JIRE yang diundang ada 2 orang, saya sendiri selaku koordinator dan Ibu Diah Suran Febrianti dari Astra Internasional selaku anggota jejaring. Kami diundang untuk berbicara dalam dua sesi, sesi utama di plenary dan sesi khusus atau side event.

Di dalam side event yang dilakukan, Nithi Nesadurai selaku koordinator CAN Asia Tenggara menyampaikan pentingnya kerjasama antar lembaga dan para pihak. Saya sendiri menceritakan secara detil proses pendirian JIRE dan kondisi terkini dari jejaring ini. Sementara Ibu Diah selaku anggota JIRE, menceritakan bagaimana program penurunan emisi gas rumah kaca atau Green House Gases yang dilakukan di Astra, dan apa yang diharapkan dengan bergabung menjadi anggota JIRE.

Saya sendiri kemudian juga dipercaya untuk menjadi panelis di plenary atau ruang sidang utama dari UNESCAP. Dalam kesempatan menjadi panelis tersebut saya menyampaikan keterpentingan dari kerjasama antara para pihak, terutama non-pemerintah, untuk melakukan prnurunan emisi.

Saya juga sampaikan di dalam ruang sidang utama UNESCAP ini, bahwa harus ada upaya berkesinambungan di dalam melakukan peningkatan pemahaman, penyebaran informasi, dan pengetahuan dari para pihak terkait, terutama non pemerintah, dalam kegiatan rendah karbon.

Sadar atau tidak sadar, ada gap atau jurang informasi sangat besar antara para pelaku negosiasi dan pemerintah, dengan sektor swasta selaku pelaku sesungguhnya dari penurunan emisi. Gap atau jurang pemisah inilah yang kemudian menjadi salah satu target dan tujuan dari pembentukan JIRE.

Menjadi satu-satunya panelis yang mengangkat perlunya peningkatan pemahaman sektor swasta, terutama di Indonesia, di antara 6 panelis lain, juga secara otomatis menunjukkan perlunya hal ini untuk dilakukan segera.

Sementara ke 6 panelis yang lain memberikan analisis tentang kemajuan dan kemandekan dari perundingan article 6 (bagian yang membahas tentang implenentasi menggunakan pasar atau non pasar), dan bagaimana kemudian hal tersebut bisa dituntaskan, saya malah mempertanyakan apakah dunia luar mengerti apa yang dirundingkan dan apakah kemudian siap apabila diimplementasikan.

Pada kenyataannya akan dibutuhkan jeda waktu yang cukup lama antara pemahaman terhadap regulasi atau keputusan internasional yang baru dengan implementasinya di lapangan. Bahkan kadang sampai 2-3 tahun.

Sementara waktu yang kita miliki sangat terbatas, kita tidak punya kemewahan waktu untuk sekedar coba-coba melakukan penurunan emisi. Semua harus dilakukan secara simultan dan paralel antara perundingan dan kesiapan implementasi di lapangan. Justru untuk inilah salah satu peran JIRE bisa ditingkatkan.

Pertanyaannya kemudian, kenapa harus terburu dan tergesa menghadapi waktu? Ini karena bumi kita tak lagi bisa menunggu. Harus kita lakukan sekarang, atau binasa bersama.

–##–

* Dicky Edwin Hindarto adalah Koordinator JIRE dan Advisor untuk Implemntasi JCM di Indonesia. Tertarik gabung JIRE? Klik greening.id