Selama ini imbal hasil investasi di energi fosil atau EROI (energy return on investment) masih dinilai tinggi. Inilah yang menjadi alasan utama sejumlah negara, termasuk Indonesia, masih mempertahankan energi kotor ini. Namun perhitungan imbal hasil investasi energi fosil ternyata salah.

Imbal hasil investasi di energi fosil didefinisikan sebagai rasio berapa besar energi fosil – seperti minyak, gas atau batu bara – yang akan dihasilkan, dibanding berapa besar energi yang diperlukan untuk menghasilkan energi tersebut. Selama ini, imbal hasil investasi di energi fosil – seperti minyak, gas atau batu bara – dihitung mencapai 25:1. Artinya, 1 barel investasi di minyak akan menghasilkan energi senilai 25 barel.

Namun perhitungan ini ternyata salah. Rasio imbal hasil ini ternyata dihitung pada saat penambangan, yaitu saat minyak, gas atau batu bara diangkat dari dalam tanah. Rasio ini tidak memperhitungkan energi yang diperlukan untuk mengubah minyak, gas dan batu bara ini menjadi bensin untuk kendaraan atau listrik untuk rumah tangga.

Tim peneliti dari Sustainability Research Institute di University of Leeds menemukan rasio yang jauh lebih rendah yaitu 6:1, bahkan 3:1 untuk EROI bahan bakar fosil. Guna menemukan rasio ini, tim peneliti mengamati dan menghitung EROI bahan bakar fosil dalam 16 tahun terakhir yang telah turun 23%. Penelitian yang merupakan bagian dari Program Pusat Penelitian Energi Inggris ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Energy, pada Kamis, 11 Juli 2019.

Tim peneliti mewanti-wanti, biaya penambangan energi fosil yang terus meningkat akan semakin menurunkan rasio EROI ini pada tahun-tahun mendatang, sehingga investasi di energi fosil akan semakin merugi. Jika tidak diantisipasi, hal ini akan memicu krisis energi di masa depan.

Solusinya, tim peneliti mendorong negara untuk lebih banyak berinvestasi di energi terbarukan yang saat ini rasio EROI-nya mencapai 10:1. Terbalik dengan EROI di energi fosil, EROI di energi terbarukan akan semakin meningkat seiring dengan semakin menurunnya biaya investasi.

Redaksi Hijauku.com