Jakarta, 20 Juni 2019 – Bika Living, PT Bukit Jaya Semesta, Ciputra World 2 Jakarta, Dermaster, Grand Hyatt, PT Himawan Putra, Indonesia Utama Mineral, PT Mandala Multinvest Capital, PT Mega Manunggal Property Tbk, PT Monde Mahkota Biskuit, PT Mulia Bosco Sejahtera, Plaza Indonesia Realty Tbk, Tokopedia dan Wisma 77 secara nyata mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) dengan memasang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang difasilitasi oleh Xurya – startup lokal penyedia jasa PLTS atap. Pada kesempatan ini, para pelaku sektor komersial dan industri ini mengajak insan dunia usaha lainnya untuk turut menggunakan PLTS atap.

“Indonesia dikhawatirkan mengalami krisis energi dalam 30 tahun ke depan. Energi Outlook Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (1) menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi net importir minyak bumi sejak tahun 2004, terancam menjadi net importir gas bumi di tahun 2028, net importir energi di tahun 2032 dan net importir batubara di tahun 2038. Ancaman ini dapat menjadi kenyataan apabila cadangan energi fosil terus dieksploitasi dan tidak ada eksplorasi energi alternatif yang dikembangkan sebagai penggantinya,” ungkap Andhika Prastawa, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) & Deklarator GNSSA.

Penggunaan sistem PLTS atap di kalangan dunia usaha berpotensi untuk menurunkan emisi gas buang CO2. Menurut Data Inventory Emisi GRK Sektor Energi yang dirilis oleh Kementerian ESDM pada tahun 2016, emisi CO2 yang dihasilkan oleh sektor industri dan komersial adalah 36% (2).
Salah satu bentuk eksplorasi energi alternatif guna menghindari krisis energi dan mengurangi emisi CO2 adalah dengan mendorong dan mempercepat pembangunan PLTS atap di perumahan, fasilitas umum, gedung perkantoran dan pemerintahan, bangunan komersial dan kompleks industri. MIT Technology Review (3) menyatakan bahwa energi yang dipancarkan matahari dalam satu jam itu lebih besar dari yang dibutuhkan bumi dalam setahun. Hal ini sangat menguntungkan bagi negara yang terletak di garis khatulistiwa, seperti Indonesia.

Xurya adalah perusahaan startup lokal yang bergerak di bidang pemanfaatan energi surya. Didirikan pada tahun 2018, Xurya fokus pada pengadaan, operasional serta pemeliharaan instalasi sistem PLTS atap di Indonesia. Untuk mendorong pemanfaatan potensi energi surya, khususnya oleh pelaku sektor industri dan komersial, Xurya memperkenalkan Xurya Lease – “Sambil Mencoba, Bisa Saving”.

“Energi surya memiliki potensi paling besar dibandingkan Energi Baru dan Terbarukan lainnya. Tepatnya, lebih dari 200.000 MW (4) dan kapasitas terpasang per tahun 2018 masih 90 MWp (5). Akan menjadi mubazir jika kita tidak secara maksimal memanfaatkan energi yang berpotensi ini. Agar energi surya dapat dimanfaatkan dengan maksimal, kami memperkenalkan Xurya Lease – sebuah skema dimana calon pengguna sistem PLTS atap mendapatkan opsi untuk dibebaskan dari kewajiban pembayaran upfront cost yang biasanya menjadi momok,” jelas Eka Himawan, Founder, Xurya.

Eka Himawan mengungkapkan, “Pada kesempatan ini, kami mengajak para pelaku sektor industri dan komersial lainnya untuk mulai menggunakan PLTS atap. Jika dihitung dan dioperasikan dengan seksama, besar penghematan bagi bisnis dan industri bisa mencapai 30%. Pengguna sistem PLTS atap dengan skema Xurya Lease dapat merasakan langsung efisiensi sistem ini pada bulan pertama. Melalui skema Xurya Lease ini, kami ingin membantu pemerintah mewujudkan sejuta surya atap.”

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Sensus Ekonomi 2016 (6), saat ini Indonesia memiliki 26,7 juta usaha atau perusahaan yang bergerak di sektor non pertanian – termasuk Usaha Berskala Mikro dan Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB). Perusahaan ini memiliki peran penting menggenjot bauran Energi Baru dan Terbarukan. Bayangkan saja, jika total daya PLTS atap yang terpasang sebesar 5 MWp, sektor usaha ini dapat mereduksi emisi CO2 sebesar 5.000 ton per tahun.

Salah satu pelaku sektor komersial yang telah mengambil langkah nyata untuk menekan emisi CO2 dengan memasang PLTS atap adalah Tokopedia yang memasang PLTS atap di Ciputra World 2 Jakarta.

VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak, mengatakan, “Tokopedia sebagai perusahaan teknologi Indonesia selalu mendukung perkembangan teknologi alternatif bersama para innovator lokal, salah satunya Xurya, yang merupakan perusahaan startup teknologi energi terbarukan dari Indonesia, melalui Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA). Dengan mendukung inisiatif ini, kami berharap dapat menjadi langkah maju dalam mendorong perkembangan dan implementasi energi terbarukan di Indonesia, sekaligus mendukung upaya pemerintah.”

“Sebagai pengembang yang menerapkan konsep green building, Ciputra World 2 Jakarta mendukung pemasangan PLTS atap yang telah teruji keefisiensiannya dalam konservasi energi. Pemasangan solar panel di Tokopedia – Ciputra World 2 Jakarta telah berlangsung dengan baik dan tanpa gangguan dalam sistem operasional. Modul PLTS atap yang dipasang adalah sebesar 13,4 kWp atau setara dengan jumlah daya listrik bagi 342 rumah di Indonesia,” ungkap Sugwantono Tanto, Direktur, PT Ciputra Property Tbk.

Tentang Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA)

Inisiatif ini menargetkan adanya peningkatan bauran Energi Terbarukan dari 5% pada 2015 menjadi 23% pada 2025, dengan cara mendorong dan mempercepat pembangunan sistem PLTS atap di perumahan, fasilitas umum, gedung perkantoran komersial dan pemerintahan serta kompleks industri. Pada tahun 2017, Kementerian ESDM mencatat posisi EBT terhadap seluruh bauran energi nasional berada pada angka 11-12%.

GNSSA ini dideklarasikan pada 13 September 2017 oleh Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Dirjen ILMATE, Kementerian Perindustrian, Masyarakat Energi Terbarukan dan penggagas GNSSA yaitu AESI dan Lembaga non-Pemerintah IESR (Institute of Essential Service Reform)

“Potensi energi surya di Indonesia rata-rata sebesar 1.350 kWh/kW PLTS/tahun, sedangkan potensinya di daratan Eropa hanya sekitar 900 kWh/kW PLTS/tahun (7). Jadi, potensi di Indonesia jauh lebih besar dari di Eropa, tetapi sayangnya pemanfaatan di Indonesia jauh tertinggal bahkan oleh negara-negara tetangga. Saya harap makin banyak pelaku usaha yang nyata berkomitmen mengadopsi PLTS atap untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” ungkap Andhika Prastawa.

–##–

1. Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi. 2018. Outlook Energi Indonesia 2019, dalam https://www.bppt.go.id/outlook-energi?tasCk=document.viewdoc&id=754, diakses pada 19 Juni 2019.

2. Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2016. Data Inventory Emisi GRK Sektor Energi, dalam https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-data-inventory-emisi-grk-sektor-energi-.pdf, diakses pada 19 Juni 2019.

3. Cass, Stephen. 2009. Solar Power Will Make a Difference—Eventually, dalam https://www.technologyreview.com/s/414792/solar-power-will-make-a-difference-eventually/, diakses pada 19 Juni 2019.

4. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. 2019. RUPTL Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT. PLN (Persero) 2019-2028, dalam http://www.djk.esdm.go.id/pdf/RUPTL/RUPTL%20PLN%202019-2028.pdf, diakses pada 19 Juni 2019.

5. IESR. 2018. Kapasitas PLTS Indonesia Masih Minim, dalam http://iesr.or.id/kapasitas-plts-indonesia-masih-minim-3/, diakses pada 19 Juni 2019.

6. Andreas, Damianus. 2017. Indonesia Kini Punya 26,71 Juta Perusahaan, dalam https://tirto.id/indonesia-kini-punya-2671-juta-perusahaan-cnz4, diakses pada 19 Juni 2019.
Instalasi PLTS atap di Tokopedia – Ciputra World 2 Jakarta

7. World Bank Group. 2019. Global Solar Atlas, dalam https://globalsolaratlas.info/, diakses pada 19 Juni 2019.