Oleh: Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan *

Penentuan kapan lebaran dan kapan awal puasa adalah salah satu hal yg cukup krusial di berbagai penjuru dunia. Walau dapat ditentukan dengan metode hitung (hisab), tapi sebagian besar masyarakat dunia merasa lebih “sreg” dengan cara melihat langsung (rukyat) bulan baru atau hilal. Begitulah indahnya agama ini, ingin melakukan cara yang terbaik dalam beribadah.

Namun untuk melihat langsung bulan baru/hilal itu bukan perkara mudah. Selain waktunya sangat singkat, dipengaruhi juga oleh cuaca dan tentunya tingkat kejernihan udara. Korelasi kualitas udara dan kemampuan visibilitas – jarak pandang sangatlah erat.

Lembaga pengelola taman nasional Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan nama National park Service dalam lamannya menyatakan: “Air pollution can create a white or brown haze that *affects how far we can see*. Air pollution also *affects how well we are able to see the colors, forms, and textures of a scenic vista.”

Sementara Australia Telescope National Facility menyebutkan, kemampuan penginderaan jarak jarak melalui teleskop sangat bergantung pada kondisi atmosfer di bumi: “Our atmosphere is constantly in motion. It is a mixture of gases, water vapour, dust and other suspended particles. *All these impact on the ability of a telescope to receive light and to clearly resolve an image.”

Kondisi atmosfer sangat dipengaruhi oleh polusi udara. Sumber polusi udara datang dari pemakaian bahan bakar fosil untuk listrik dan transportasi. Kenyataaanya, pemakaian batubara saat ini terus digenjot. Dampaknya, indeks polusi udara di kota-kota besar pun merosot. Bukan saja kesehatan, polusi udara juga berpengaruh pada menurunnya kemampuan jarak pandang untuk melihat benda-benda di langit, sehingga hilal pun semakin buram.

Belajar dari beberapa negera di Eropa yang berkomitmen untuk menekan angka polusinya, saat ini mereka mulai menikmati buahnya. Melalui penggunaan energi terbarukan secara masif, kualitas udara pun semakin bersih. Masyarakat semakin sehat dan hilal pun makin mudah dilihat.

Tentu ini akan meredakan perbedaan-perbedaan pendapat yg terjadi di tengah-tengah ummat, serta mendatangkan kesejukan dan ketenangan dalam beribadah.

Hubungan langsung antara pengelolaan energi yang benar dengan masalah sosial dan perihal fiqih ibadah dalam agama ternyata sangat terkait erat. Sudah saatnya pemakaian energi terbarukan yang bersih ini terus didukung dan mendapatkan perhatian mendalam dari semua pihak, terutama dari para pemangku kebijakan demi menghadirkan kemaslahatan di tengah-tengah masyarakat.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” – Hadits Riwayat Ahmad – Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua. Mohon maaf lahir dan batin.

–##–

* Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan adalah Direktur Pusat Riset Energi Terbarukan Wilayah Tropis/TREC, Fakultas Teknik Universitas Indonesia.