Oleh: Grita Anindarini *

Earth Hour, sebagai sebuah gerakan global yang mengajak para pemangku kepentingan untuk mematikan lampu maupun alat elektronik selama satu jam, bisa menjadi refleksi bahwa konservasi energi adalah hal yang vital namun seringkali dilupakan. Di tengah pembangunan pembangkit listrik secara masif yang kerap digalakkan, isu benturan kepentingan dengan perlindungan lingkungan hidup semakin marak. Padahal sebenarnya, konservasi energi dapat dijadikan sebagai salah satu langkah untuk meminimalisir fenomena benturan kepentingan ini. Earth Hour pun dapat menjadi salah satu titik balik bagi Indonesia untuk kembali memikirkan, sudahkah konservasi energi dijadikan salah satu upaya penyelamatan lingkungan?

Jalan Panjang Konservasi Energi di Indonesia

Pengaturan secara terkhusus terkait konservasi energi di Indonesia telah ditetapkan dalam PP No. 70 Tahun 2009. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut, pengguna sumber energi dan pengguna energi perlu memanfaatkan energi secara hemat dan efisien. Efisiensi dicapai dengan menggunakan energi seminimal mungkin untuk menghasilkan keluaran (output) yang maksimal. Selain itu, pemanfaatan secara hemat dilakukan dengan menggunakan energi secara tepat guna, sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, peta jalan untuk pemanfaatan energi secara hemat belum terlihat dengan jelas. Sekalipun Permen No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Energi telah memberikan arahan bentuk-bentuk penghematan energi, namun arahan konkrit untuk implementasinya belum terlalu jelas. Sayangnya, PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional justru lebih fokus mencanangkan target pemanfaatan listrik per kapita setidak-tidaknya sekitar 2.500 KWh pada 2025 serta sekitar 7.000 KWh pada 2050. Alhasil, Indonesia ditargetkan memerlukan penambahan kapasitas pembangkit sekitar 115 GW pada 2025 dan 430 GW pada 2050.

Sementara di sisi efisiensi energi, penurunan intensitas energi final sebesar 1% per tahun sampai 2025 menjadi target. Artinya, kedepannya, penggunaan energi untuk pertumbuhan ekonomi diharapkan akan semakin efisien. Sayangnya peta jalan untuk mencapai target ini juga belum terlihat. Padahal, efisiensi energi ini dapat mempengaruhi secara signifikan kebutuhan atas pembangkit listrik di suatu negara.

Belajar dari perencanaan ketenagalistrikan di Inggris, kita dapat mengetahui bahwa pertumbuhan ekonomi tidak serta merta ekuivalen dengan penambahan pembangkit listrik. Justru, dalam perencanaan ketenagalistrikannya, Pemerintah Inggris mencanangkan target efisiensi energi hingga 196 TWh pada 2020. Dalam target mereka, efisiensi energi tersebut akan mengurangi kebutuhan untuk mendirikan hingga 22 pembangkit listrik. Sungguh dahsyat!

Earth Hour, Konservasi Energi, dan Dampaknya

Sebagai salah satu bentuk kampanye penghematan energi, Earth Hour memang dapat dikategorikan sebagai sebuah upaya dalam menerapkan konservasi energi. Earth Hour menekankan pada penghematan yang nantinya akan berpengaruh pada permintaan dan konsumsi terhadap sumber energi. Permintaan dan konsumsi ini yang sebenarnya dapat ditekan.

Apakah hal ini penting? Tentu. Secara sederhana, ketika konsumsi terhadap listrik menurun, kebutuhan tenaga listrik yang perlu dihasilkan oleh pembangkit juga turun. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap menurunnya jumlah energi fosil yang perlu dibakar untuk menghasilkan listrik. Di tengah dunia yang telah dikepung pembangkit listrik dari energi fosil, tentu dampaknya akan terasa sangat signifikan.

Sara Hayes dan Cassandra Kubes – dalam penelitiannya di beberapa negara bagian di Amerika Serikat bertajuk “Saving Energy, Saving Lives” yang ditulis pada 2018 – menemukan bahwa pengurangan konsumsi listrik sebesar 15% per tahun dapat berpengaruh terhadap penurunan PM2.5 sebanyak 11%, penurunan emisi NOx sebesar 18% dan SO2 sebesar 23% serta penurunan CO2 sebesar 14%. yang. Dampaknya, penurunan emisi ini dapat mengurangi tingkat kematian manusia hingga 6 kehidupan per hari, serta penurunan penderita asma hingga 30.000 kejadian per tahun.

Tidak berhenti di sana, dari sisi efisiensi energi, sebuah penelitian dari American Council for an Energy-Efficient Economy, menemukan, biaya untuk melakukan efisiensi energi sebenarnya jauh lebih murah jika dibanding dengan biaya untuk membangun sebuah pembangkit baru. Biaya untuk melakukan energi efisiensi 4 cents/kWh lebih murah dibandingkan mendirikan pembangkit listrik baru. Sayangnya, pengembang-pengembang di Indonesia belum melihat upaya efisiensi energi sebagai pilihan.

Pekerjaan Rumah Bagi Pemerintah Indonesia

Ada beberapa hal perlu untuk dilakukan oleh Pemerintah maupun badan usaha dalam mempromosikan konservasi energi di luar perubahan perilaku pada konsumen untuk melakukan penghematan terhadap penggunaan listrik.

Hal-hal tersebut mencakup penggunaan teknologi pembangkit listrik yang lebih efisien, penerapan peremajaan suku cadang dan komponen pada pembangkit, menerapkan manajemen energi pada pembangkit, hingga pengurangan kerugian pada sistem transmisi dan distribusi listrik. Sayangnya, pemenuhan hal-hal tersebut masih terganjal berbagai hal.

Dari sisi penggunaan teknologi pembangkit yang lebih efisien, salah satu tantangannya hingga saat ini adalah pengembang masih kerap enggan untuk berinvestasi pada efisiensi energi. Pengaturan terkait dengan insentif dan disinsentif dalam PP No. 70 Tahun 2009 beserta peraturan turunannya dianggap masih belum memadai.

Di satu sisi  insentif untuk pelaksanaan efisiensi dan konservasi masih terbatas, di sisi lain pelaksanaan disinsentif bagi pengguna energi yang tidak melaksanakan efisiensi dan konservasi energi juga belum konsisten diterapkan. Padahal, harga peralatan untuk menghasilkan energi yang lebih efisien tidaklah murah.

Selain itu, sistem audit energi juga perlu dimaksimalkan. Minimnya auditor energi serta sumber daya pelatih juga masih menjadi fokus. Selebihnya, sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan konservasi energi lintas sektor juga perlu untuk disiapkan.

Di lain sisi, masyarakat dan industri juga perlu diberikan pengetahuan serta pemahaman untuk meningkatkan kesadaran terkait konservasi energi. Pengetahuan masyarakat terkait pentingnya konservasi energi juga perlu menjadi perhatian Pemerintah. Hal ini dikarenakan masyarakat juga menjadi subjek yang dibebankan kewajiban untuk melakukan konservasi energi menurut UU No. 30 Tahun 2007.

Momentum Earth Hour dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi energi. Terlebih lagi, momentum Earth Hour juga dapat digunakan sebagai sebuah refleksi bahwa upaya konservasi energi dapat dimulai dari diri kita sendiri.

–##–

* Grita Anindarini adalah peneliti di Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).