Tanda-tanda, dampak sosial dan ekonomi menunjukkan perubahan iklim semakin berbahaya seiring terus meningkatnya konsentrasi emisi gas rumah kaca. Kenaikan konsentrasi emisi GRK ini yang memicu terus meningkatnya suhu bumi – di daratan dan lautan – ke level yang semakin berbahaya bagi umat manusia. Hal ini disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) dalam laporan terbaru yang dirilis Kamis, 28 Maret 2019.

Selain rekor kenaikan suhu bumi, laporan berjudul “State of the Global Climate in 2018″ ini juga menggarisbawahi rekor kenaikan permukaan air laut. Menurut laporan WMO, kedua rekor tersebut sudah berlangsung sejak awal abad ini dan akan terus berlanjut. “Bukti nyata kenaikan suhu dunia, kenaikan permukaan air laut, menipisnya lapisan es, mencairnya gletser hingga meningkatnya fenomena cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, terus kita catat sejak pertama kali kita menerbitkan laporan ini,” ujar Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO dalam siaran persnya.

Bukti nyata pertama adalah kenaikan konsentrasi emisi CO2 (karbon dioksida) yang melonjak dari 357 PPM (Parts Per Million) – saat pertama laporan ini diterbitkan pada 1994 – menjadi 405,5 PPM pada 2017 dan terus meningkat pada 2018 dan 2019.

Cuaca yang mengamuk

“(Femonena) Cuaca ekstrem telah dimulai sejak awal 2019 saat Badai Tropis Idai, memicu banjir besar mematikan yang menghancurkan Mozambique, Zimbabwe dan Malawi. Bencana ini adalah salah satu bencana paling mematikan di belahan bumi bagian selatan,” ujar Taalas. Laporan resmi dari pemerintah Zimbabwe menyebutkan korban mencapai 180 jiwa, 7000 rumah rusak dan 40.000 jiwa kekurangan bahan makanan.

Bencana ini mengingatkan kita atas bencana yang baru saja terjadi di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Cuaca ekstrem dikombinasikan dengan kerusakan lingkungan memicu banjir bandang yang menelan 112 jiwa, 107 orang luka berat, 808 orang luka ringan, 94 orang hilang, 16.783 jiwa/ 3.876 kepala keluarga kini mengungsi di titik pengungsian. Data jumlah korban dan kerusakan diambil dari pernyataan Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Wilayah Eropa, Amerika Utara dan Australia juga tidak lepas dari fenomena cuaca ekstrem. Di wilayah Eropa, rekor temperatur harian di musim dingin tercatat semakin hangat, sementara di Amerika Utara, musim dingin menjadi semakin menggigil. Sementara benua Australia tercatat rekor gelombang panas yang mencapai suhu 49,6°C. Musim panas yang mengamuk atau “angry summer” begitu mereka menyebut fenomena cuaca ekstrem ini.

WMO juga mencatat, volume lapisan es di benua Artika dan Antartika berada di bawah rata-rata sementara suhu permukaan air sebaliknya, naik di atas rata-rata akibat fenomena El Niño di wilayah Pasifik yang memicu kenaikan suhu daratan di atas normal terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.

“Semua data ini semakin menekankan perlunya aksi perubahan iklim, sekaligus memperkuat seruan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C,” ujar Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Laporan IPCC menyebutkan, emisi CO2 harus turun 45% pada 2030 dibanding level tahun 2010 dan mencapai titik keseimbangan (net zero) pada 2050. “Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda (aksi perubahan iklim),” tegas Guterres.

Ilmu pengetahuan menjadi kunci

Jika Anda masih kurang yakin mengenai dampak berbahaya perubahan iklim, cermati baik-baik dampak bencana perubahan iklim dunia berikut ini. Analisis 281 kejadian bencana oleh Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) dan International Strategy for Disaster Risk Reduction, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat di 2018, 62 juta penduduk dunia terdampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Banjir menjadi bencana yang paling banyak terjadi, berdampak pada lebih dari 35 juta jiwa.

Gelombang panas dan kebakaran mencabut 1600 nyawa di Eropa, Jepang dan Amerika menimbulkan kerugian ekonomi mencapai $24 miliar di Amerika Serikat saja. Antara tahun 2000 hingga 2016, jumlah penduduk dunia yang terekpos gelombang panas mencapai 125 juta jiwa.

Data penting lain, bencana akibat El Niño pada 2015–2016 memicu kekeringan parah dan menyebabkan 821 juta jiwa kekurangan gizi dan pangan. Sementara jumlah penduduk yang mengungsi akibat bencana iklim mencapai 2 juta jiwa per September 2018. Kenaikan permukaan air laut mencapai rekor tertinggi pada pada 2017 yaitu mencapai 3,7 millimeter. Kenaikan ini cukup untuk menggenangi wilayah pesisir yang permukaan tanahnya terus menurun seperti di Jakarta Utara, Semarang, Surabaya dan kota-kota pesisir lainnya. Pola pembangunan yang serampangan, menghancurkan hutan mangrove dan menggerogoti sumber air tanah memicu banjir yang berulang.

Masih banyak kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim dan pemanasan global seperti meningkatnya keasaman air laut, ancaman kepunahan tumbuhan dan satwa liar dan perubahan ekosistem terus berlangsung. Semua hal ini hanya akan diketahui jika kita mau peduli, belajar ilmu pengetahuan secara lebih mumpuni, beraksi dan menunaikan tanggung jawab kita sebagai wakil, pengelola, penjaga di muka bumi. Mari rayakan ilmu pengetahuan, untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com