Oleh: Syamhudi *

Festival Paret 2019 berakhir sudah. Pesta rakyat itu digelar pada 23-24 Maret 2019 di Sungai Putat, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Berbagai kegiatan digelar. Diantaranya, dialog ide kota masa depan, kota rasa desa, pameran inovasi: pertanian, kuliner khas UMKM, kerajinan dan peluncuran inovasi “Kelurahan Siantan Hilir Sutan Betapa” (Sungai Putat Yang Bersih Tanpa Sampah). Ratusan warga datang kesana. Pagi, siang hingga malam.

Ketua Kreasi Sungai Putat (KSP) Syamhudi mengatakan, pesta rakyat digelar ini merespon keadaan paret atau parit yang ada di Kota Pontianak. Selain itu juga mendorong bahwa paret ini bagian dari ruang publik yang perlu perhatian.

“Tidak hanya di daratan saja. Ikon Pontianak itu selain Kota Khatulistiwa, tetapi Kota Seribu Paret. Gambut ilang kota hilang , paret ilang peradaban ilang, Festival ini tahun ke empat,” kata Syamhudi.

Syamhudi menjelaskan, ke depan kegiatan ini bisa menyumbang informasi dalam program one click one data. Dengan menyuguhkan data terkait Festival Sungai Putat yang konsep kegiatanya adalah untuk menyuguhkan suasana desa di tengah kota.

“Kita dorong masyarakat yang punya kemampuan, kita berikan panggung . Sebab selama ini warga yang aktif di sanggar agak jarang diakomodir oleh pemerintah kota. Mari sama-sama untuk mengembalikan paret dan menjaga kebersihannya,” ujar Syamhudi.

Personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Siantan Hilir Mapolsek Pontianak Utara, Ajun Inspektur Polisi Dua (AIPDA) Agus Supriadi, menjelaskan bahwa fungsi paret itu bukan hanya aliran air tapi juga sebagai batas tanah.

“Batas tanah berganti dengan patok. 5 tahun ada program paritisasi untuk meningkatkan rasa sayang dan semangat menjaga paret, dengan membuat perlombaan di paret. Dengan begitu masyarakat akan menjaga kebersihan sama-sama. Kita membahas paret yang hilang. Kita perlu bersosialisasi lagi ke masyarakat bahwa paret bukan hanya saluran air,” kata Agus Supriadi.

Warga Kelurahan Siantan Hilir, Bambang Riyanto, menilai Sekarang ini Kota Pontianak telah masuk ke revolusi industri 4.0. Maka permasalahan urbanisasi tidak bisa kita bendung.

“Nanti akan banyak orang-orang akan datang ke Pontianak Utara selain menjadi wilayah terluas di Kota Pontianak juga terbanyak penduduknya. Sungguh luar biasa karena jumlah kita mencapai 99 ribu, di atas Pontianak Barat yang di 97 ribu. Secara geografis selain luas, Pontianak Utara juga masih dilintasi kehijauan,” kata Bambang Riyanto.

Bambang Riyanto berharap, sungai dan paret ini bisa terus terjaga sampai ke anak-anak cucu kita. “Kemudian juga kita sudah punya Taman Sungai Putat yang harus kita jaga dan kembangkan. Pada intinya saya mendukung komunitas yang begerak di bidang pelestarian lingkungan, paret dan peduli terhadap sampah,” ujar Bambang Riyanto.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengaku bangga, bahwa kegiatan tersebut berasal dari ide warga di sana. “Ini adalah inisiasi dari kelompok masyarakat di sungai putat. Saya mengapresiasi kegiatan ini karena bergerak dalam menjaga lingkungan dan seni budaya. Paret ini sangat dekat dengan kehdupan berfungsi sebagai drainase. Karena air akan pasang dan surut, air sangat dekat dengan kehidupan dan sungai sebagai peradaban di Kota Pontianak dan sangat familiar. Masalah pencemaran paret oleh limbah, industri maupun rumah tangga menjadi PR kita bersama,” kata Edi Rusdi Kamtono.

Terkait kuliner, kata Edi Rusdi Kamtono, warga mempunyai potensi sebagai pembuat kuliner dan harus ditingkatkan dan harus kita fasiltasi. “Dengan mangadakan festival paret 4.0 berkreasi menarik. Selain itu dari kuliner dapat meningkatkan pendapaatan warga dengan menjual produk yang enak bersaing dan kemasannya menarik,” ujar Edi.

Camat Pontianak Utara, Aulia Candra menjelaskan, kegiatan ini sudah tiap tahun dilaksanakan dan akan terus kita laksanakan ke depan. “Tujuanya untuk mengembalikan marwah paret, untuk mengembalikan kecintaan warga kepada paret. Kita berharap paret di Kota Pontianak ini jangan sampai tertutup jangan sampai tercemar,” kata Camat Pontianak Utara, Aulia Candra. “Kemudian dengan adanya inovasi “Sutan Betapa” ini kita berharapa Sungai Putat ini bersih tanpa sampah. Kita rutin mengadakan gotong royong dengan masyarakat, kita mendorong mereka dan memunculkan inisiasi mereka untuk membersihkan paret. Anggaran kegiatan dari pemerintah, kelurahan dan swadaya masyarakat.”

–##–

* Syamhudi adalah Ketua Kreasi Sungai Putat di Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.