We are living through an existential crisis that has been ignored for decades and if we do not act now it may be too late.” – Greta Thunberg

Jumat 15 Maret 2019 akan tercatat dalam sejarah sebagai sebuah hari penting.  Lebih dari satu juta pelajar dan mahasiswa turun ke jalan, menyerukan agar para pengambil keputusan di pemerintahan di lebih dari 100 negara bersungguh-sungguh menangani perubahan iklim.  Mereka sengaja membolos untuk memerjuangkan masa depan mereka.

Mereka berkumpul dalam jumlah puluhan hingga puluhan ribu.  Bangkok, Chicago, Duesseldorf, Edinburgh, Florida, Glasgow, Johannesburg, Kampala, Kathmandu, Lisbon, London, Manila, Medellin, Melbourne, Mexico City, Montreal, New Delhi, New York, Paris, Portland, Santiago, Sidney, Stockholm, Tokyo, Washington DC, hingga Wellington adalah kota-kota dengan kerumunan pelajar dan mahasiswa yang menonjol.

Gerakan global tersebut disandarkan pada pengetahuan yang kokoh soal perubahan iklim.  Mereka sadar sepenuhnya atas dampak yang akan mereka rasakan di masa mendatang apabila tidak ada perubahan kebijakan dan tindakan dari generasi sekarang.  Mereka sadar sepenuhnya pula bahwa waktu yang tersedia untuk memerbaiki kebijakan dan tindakan itu tidaklah banyak.  Oleh karenanya, alih-alih menggunakan jalur-jalur formal yang terbukti sangat lambat pengaruhnya, mereka memilih turun ke jalan, menarik perhatian seluruh pihak di seantero Bumi.

Pemimpin gerakan tersebut, Greta Thunberg, adalah siswa berusia 16 tahun yang telah melakukan protes sendirian di Stockholm selama bertahun-tahun.  Di penghujung tahun lalu, dia mendapatkan perhatian global lantaran diundang ke Katowice untuk bicara di COP24.  Awal tahun ini, dia diundang untuk bicara di acara World Economic Forum di Davos.  TED Talk-nya, The Disarming Case to Act Right Now on Climate Change, juga muncul di bulan Januari 2019, dan telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali.  Terakhir, dia juga diumumkan sebagai kandidat pemenang Nobel Perdamaian 2019.

Perjuangan Thunberg dan lebih dari satu juta pelajar dan mahasiswa itu punya alasan kuat.  Kini, sudah lebih dari 120 negara meratifikasi Kesepakatan Paris, yang bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu jauh di bawah 2 derajat Celsius.  Pengetahuan mutakhir memberi tahu bahwa hanya apabila kenaikan suhu dibatasi hingga 1,5 derajat Celsius maka generasi mendatang bisa hidup dengan baik.

Namun, para pemimpin negara-negara yang memasukkan janji melalui nationally determined contribution (NDC) masih mengarahkan umat manusia pada jalur kenaikan suhu 2,7-3 derajat Celsius. Bahkan, kebijakan negara-negara yang ada masih berada pada jalur kenaikan 3,1-3,5 derajat Celsius! Sungguh sangat pantas apabila anak-anak dan pemuda menegur orang dewasa. “The clock is ticking and time is against us!” juga “We are the last generation that can fix this.”  Begitu yang terbaca di antara ratusan ribu poster yang mereka bawa.

Menanggapi aksi protes skala global tersebut, kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mendukung sepenuhnya substansi aksi yang dilakukan di seluruh dunia tersebut. Perubahan iklim adalah masalah sangat serius yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh dan segera, terutama demi keselamatan generasi muda dan mendatang.
  2. Mendesak Pemerintah Indonesia, terutama kepemimpinan yang akan terpilih dalam Pilpres 2019,dan kementerian/lembaga yang memiliki tanggung jawab terkait untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar mitigasi perubahan iklim sesuai dengan fair share Indonesia terhadap dunia, serta agar adaptasi perubahan iklim sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama kelompok-kelompok rentan, untuk bisa bertahan dalam kehidupan yang layak.
  3. Menghimbau seluruh pemangku kepentingan di Indonesia untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dibutuhkan.  Termasuk di dalamnya memberikan pendidikan perubahan iklim kepada generasi muda secara menyeluruh; melakukan transformasi massif dan segera ke energi terbarukan; merestorasi ekosistem yang rusak; mengubah gaya hidup agar bisa berkontribusi optimal bagi penanganan perubahan iklim termasuk penggunaan transportasi massal; melakukan transformasi sistem produksi termasuk dalam pemanfaatan energi dan material yang secara cepat dan luas dapat menurunkan emisi; serta memastikan tersedianya pembiayaan untuk tindakan-tindakan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
  4. Mendesak seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk segera merevisi NDC-nya, agar sesuai denganurgensi penanganan perubahan iklim dengan tujuan pembatasan kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius, memasukkan revisi tersebut sesegera mungkin, serta dilanjutkan dengan mengubah kebijakan-kebijakan pembangunan di dalam negerinya masing-masing agar benar-benar sesuai dengan tujuan tersebut.
  5. Mendesak agar COP 25 di Santiago benar-benar disandarkan pada kesadaran bahwa keputusan yang diambil seharusnya berpihak kepada generasi muda dan masa depan, dengan meretas segala basa-basi dan birokrasi yang tak sesuai dengan urgensi penyelesaian masalah perubahan iklim.
  6. Mendukung penganugerahan Nobel Perdamaian kepada Greta Thunberg karena pengaruhnya yang sangat signifikan dalam penciptaan kesadaran generasi muda tentang perubahan iklim, juga dalam mengingatkan seluruh dunia atas urgensi penanganan perubahan iklim.
  7. Mengajak seluruh kaum muda Indonesia bergandeng tangan terus mendukung aksi dengan mewujudkan tindakannyata penyelamatan lingkungan.

Jakarta, Jumat, 22 Maret 2019

  1. Farhan Helmy – Thamrin School dan Green Voice Indonesia
  2. Ari Mochamad – Thamrin School
  3. Sita Supomo – Thamrin School dan Perempuan Indonesia Anti-Korupsi
  4. Ahmad Safrudin – Thamrin School dan KPBB
  5. Alan Koropitan – Thamrin School dan IPB
  6. Andi Simarmata – Thamrin School
  7. Aviana Tjokro – Thamrin School dan Green Voice Indonesia
  8. Dwi Andreas Santosa – Thamrin School dan IPB
  9. Fabby Tumiwa – Thamrin School dan IESR
  10. Fitrian Ardiansyah – Thamrin School
  11. Giorgio Indrarto – Thamrin School
  12. Jalal – Thamrin School
  13. Mas Achmad Santosa – Thamrin School
  14. Parluhutan Manurung – Thamrin School
  15. Perdinan – Thamrin School  dan IPB
  16. Sonny Mumbunan – Thamrin School dan RCCC UI
  17. Togu Manurung – Thamrin School dan IPB
  18. Victor Rembeth – Thamrin School
  19. Alfred Sitorus – Thamrin School dan Koalisi Pejalan Kaki
  20. Syamsul Ardiansyah – Thamrin School
  21. Hizbullah Arief – Hijauku.com
  22. Agus Sari – Landscape Indonesia
  23. Iwan Wibisono – WWF Indonesia
  24. Dian Abraham
  25. Ibrahim Ali-Fauzi – Thamrin School dan Geotimes Insitute
  26. Mohammad Fadli – USAID/APIK dan Geo Enviro Omega
  27. Nana Firman – Global Muslim Climate Network
  28. Jay Fajar – Thamrin School dan Mongabay Indonesia
  29. Hultera – WWF Indonesia
  30. Andreas Pramudianto – Thamrin School dan SIL Universitas Indonesia
  31. Brigitta Isworo – Thamrin School
  32. Raphael Anindito
  33. Didi Yakub – Thamrin School dan Task Force Pekerja Migran, Diaspora United
  34. Amadea Rembeth
  35. Farah Sofa – Thamrin School
  36. Abimanyu S. Adjie
  37. Abimanyu S. Adjie
  38. Damantoro – Thamrin School

Thamrin School of Climate Change and Sustainaibility merupakan inisiatif multipihak untuk mendorong pemikiran kritis dan progresif dalam tatakelola sumberdaya alam, lingkungan dan perubahan iklim yang adil, berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan publik. Thamrin School didukung oleh pakar dan praktisi yang mumpuni dalam memfasilitasi berbagai kegiatan untuk menjaga agar lalulintas pertukaran pengetahuan dan gagasan berlangsung terbuka, ilmiah dan memberikan suatu pencerahan yang objektif. Informasi lebih lanjut; www.thamrinschool.net,

Contact Person

Farhan Helmy, Kepala Sekolah Thamrin School, email: farhan.helmy@gmail.com, Telepon Selular: +62-82117821871.