Oleh: Jalal *

Shaping the fourth industrial revolution [is] to ensure that it is empowering and human-centred, rather than divisive and dehumanizing.” – Klaus Schwab

Entah sudah berapa bulan, mungkin lebih dari satu tahun, Indonesia dilanda demam perbincangan tentang Revolusi Industri 4.0. Saya membaca cukup banyak tulisan-tulisan karya para pakar di dalam negeri terkait isu ini.  Namun, menurut hemat saya, hampir seluruh tulisan tersebut belumlah cukup memuaskan dalam menjelaskan apa yang bakal kita hadapi, apalagi memberikan panduan tentang bagaimana masa depan tersebut harus disikapi.

Hal itu terutama lantaran perbincangannya sangatlah didominasi oleh teknologi.  Tentu, teknologi adalah komponen yang sangat penting dari Revolusi Industri 4.0, tetapi, menurut hemat saya, Revolusi Industri 4.0 tidaklah bisa dibatasi hanya sebagai fenomena terkait teknologi tertentu dan pemanfaatannya.  Saya meyakini, Revolusi Industri 4.0 seharusnya dilihat secara lebih holistik, dan terutama dikaitkan dengan tujuan kita bersama, sebagai bangsa dan sebagai warga dunia.

Gunung Es Teori Sistem

Pembacaan saya atas isu ini menghasilkan kesimpulan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan babakan sejarah baru umat manusia ini adalah lewat apa yang disebut sebagai Gunung Es Teori Sistem atau the iceberg of systems thinking.  Gunung es tersebut, yang kerap diatribusikan kepada Daniel Kim dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjelaskan bagaimana setiap fenomena sesungguhnya bisa dilihat dalam berbagai tingkatan, yaitu kejadian (event), pola/kecenderungan (pattern/trend), struktur (structure), serta model mental (mental model).

Kejadian adalah satu-satunya yang tampak di permukaan gunung es.  Pada tingkat ini, orang memang hanya menjawab pertanyaan “Apa yang terjadi?”  Lapisan di bawahnya, yang sudah tidak tampak di permukaan, pola/kecenderungan, menjawab pertanyaan “Apa kecenderungannya dalam kurun waktu tertentu?”  Di bawahnya lagi, struktur, menjelaskan jawaban atas pertanyaan “Apa yang memengaruhi pola tersebut” juga “Bagaimana sifat hubungan antar-bagian yang ada?”  Di lapisan terdasar, model mental, yang ditanyakan adalah “Apa saja asumsi, kepercayaan serta nilai-nilai yang dipegang masyarakat tentang sistem?” juga “Apa kepercayaan yang membuat sistem itu berada pada kondisinya yang sekarang?”

Mengapa pembicaraan tentang Revolusi Industri 4.0 sangat didominasi oleh teknologi dan pemanfaatannya?  Itu karena teknologi adalah satu-satunya yang tampak di permukaan.  Teknologi ada pada level kejadian, sehingga yang paling mudah dilihat oleh orang kebanyakan.  Sementara, untuk mengetahui apa yang terjadi di lapisan-lapisan bawahnya, perlu pengamatan yang lebih lama, juga pemahaman yang lebih dalam.

Menurut hemat saya, dengan memergunakan gunung es teori sistem, maka yang teramati, atau level kejadian, itu adalah Teknologi 4.0; pola/kecenderungannya adalah Industri 4.0; dan strukturnya adalah Ekonomi 4.0; dan model mentalnya adalah Masyarakat 4.0.  Dengan meminjam pemikiran beberapa pakar yang paling menonjol di bidang ini, saya akan menjelaskan mengapa Revolusi Industri 4.0 yang sangat ramai dibincangkan ini—dan jelas tak akan susut—sesungguhnya adalah tentang keberlanjutan, bukan soal pemanfaatan teknologi mutakhir saja, apalagi tunduk terhadapnya.

Agar penjelasan hingga akhir tulisan bisa menjadi lebih ringkas, saya membuat tabel sebagai berikut:

Kondisi: Teknologi 4.0 (Tim O’Reilly) Teknologi yang dimanfaatkan membuka peluang kerja baru (bukan yang menghilangkan lapangan kerja) dan membawa manfaat untuk seluruh orang (bukan sekadar pemilik teknologinya)
Tren: Industri 4.0 (Klaus Schwab) Industri yang dioptimasi melalui penciptaan model bisnis baru dan disrupsi atas sistem produksi, distribusi dan konsumsi untuk mencapai tujuan dan nilai-nilai kebaikan kolektif bagi seluruh umat manusia
Struktur: Ekonomi 4.0 (John Fullerton; Kate Raworth) Ekonomi yang redistributif (menyebarkan kemakmuran), restoratif (mengembalikan lingkungan yang rusak) dan regeneratif (meningkatkan daya dukung dan daya tampung sesuai dengan perkembangan jumlah manusia)
Model: Masyarakat 4.0 (Otto Scharmer) Masyarakat yang mengupayakan kebaikan bagi seluruh dunia – bukan sekadar mengupayakan kebaikan kepada pemangku kepentingan (3.0), pemilik modal (2.0), atau hanya patron (1.0) semata.

Antara Masyarakat 4.0 dan Ekonomi 4.0

Untuk kemudahan penjelasan, saya akan melakukannya dari lapisan paling dasar, yaitu Masyarakat 4.0. Otto Scharmer, mahaguru dari MIT, menjelaskan bahwa setelah masyarakat komunal, struktur yang pertama kali terbentuk adalah masyarakat yang berpusat pada negara dan pemimpinnya, terutama raja. Ini merupakan Masyarakat 1.0.  Pada perkembangan berikutnya, masyarakat kemudian lebih memusatkan perhatian kepada pasar bebas, di mana yang menjadi ‘raja’ di situ para pemilik modal. Masyarakat seperti itu adalah Masyarakat 2.0.

Lantaran berbagai masalah dengan ekonomi pasar bebas, maka di banyak tempat telah terjadi pergeseran yang membuat perhatian tidak lagi semata ditujukan kepada para pemilik modal, melainkan diperluas menjadi kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah yang meregulasi pasar. Ini merupakan ciri Masyarakat 3.0 yang menginginkan kebaikan bagi seluruh pemangku kepentingan. Terakhir, Masyarakat 4.0, adalah masyarakat yang menegaskan perhatian kepada Bumi dan kebaikan untuk seluruh penghuninya.  Secara berturut-turut, Scharmer menyatakan kesadaran pada masyarakat itu bergeser dari traditional (1.0), ego-sentric (2.0), strakeholder-centric (3.0), hingga eco-centric (4.0). Demikian yang dijelaskan di dalam Leading from the Emerging Future: From Ego-System to Eco-System Economies yang ditulis Scharmer bersama Katrin Kaufer di tahun 2013.

Kalau Masyarakat 4.0 dijelaskan oleh Scharmer sebagai masyarakat yang ekosentris, lalu bagaimana perwujudannya dalam Ekonomi 4.0?  Di dalam buku yang disebutkan di atas, sebetulnya dijelaskan juga mengenai Ekonomi 4.0 dalam sebuah bab.  Namun, penjelasan paling lengkap atasnya saya temukan di dalam buku Kate Raworth, The Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist yang terbit di tahun 2017, juga dalam tulisan-tulisan John Fullerton tentang ekonomi regeneratif.

Pada dasarnya, kedua pemikir tersebut dengan tegas menyatakan bahwa ekonomi yang dibutuhkan dunia itu memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, karena dunia hingga kini menghasilkan ketimpangan yang semakin parah, maka ekonomi haruslah bersifat redistributif, yaitu menyebarkan kemakmuran kepada seluruh manusia, bukan sebagian saja.  Kedua, lantaran kerusakan alam sangatlah masif, sehingga ekonomi haruslah restoratif, yaitu mengembalikan kondisi lingkungan menjadi baik kembali, agar bisa bertahan dalam jangka panjang.  Ketiga, ekonomi juga haruslah regeneratif, atau meningkatkan daya dukung dan daya tampung sesuai dengan perkembangan jumlah manusia di masa mendatang.  Baik Raworth maupun Fullerton tidak menyatakan idenya sebagai Ekonomi 4.0, namun bentuk ekonomi yang mereka uraikan sangatlah sesuai dengan penjelasan Scharmer, bahkan membawanya jadi lebih komprehensif lagi.

Industri 4.0: Bukan Sekadar Soal Teknologi

Industri 4.0 pertama kali dicetuskan di Jerman.  Pemerintahnya telah menggunakan istilah tersebut untuk melabel komputerisasi proses manufaktur.  Istilah itu menjadi popular lantaran Hannover Fair, salah satu pameran perdagangan paling besar, menggunakan istilah tersebut di tahun 2011.  Tetapi, penjelasan paling komprehensif soal Industri 4.0 hadir ketika Klaus Schwab, sang pendiri dan pimpinan World Economic Forum menerbitkan buku The Fourth Industrial Revolution di tahun 2017, lalu disusul dengan Shaping the Future of the Fourth Industrial Revolution di tahun 2018.

Dengan memerhatikan bagaimana Schwab menjelaskan Industri 4.0 di dalam kedua bukunya, kita bisa menyimpulkan bahwa  yang dia maksud adalah babakan industri yang dioptimasi melalui penciptaan model bisnis baru dan disrupsi atas sistem sebelumnya dalam hal produksi, distribusi dan konsumsi, untuk mencapai tujuan dan nilai-nilai kebaikan kolektif bagi seluruh umat manusia.

Dalam salah satu kalimat pembuka di bukunya yang pertama, Schwab menyatakan: “Above all, this book aims to emphasize the way in which technology and society co-exist. Technology is not an exogenous force over which we have no control. We are not constrained by a binary choice between “accept and live with it” and “reject and live without it”. Instead, take dramatic technological change as an invitation to reflect about who we are and how we see the world. The more we think about how to harness the technology revolution, the more we will examine ourselves and the underlying social models that these technologies embody and enable, and the more we will have an opportunity to shape the revolution in a manner that improves the state of the world.

Sangat jelas bahwa Schwab melihat Industri 4.0 sebagai koneksi antara teknologi dengan masyarakat, dan tujuan dari koneksi itu adalah menciptakan dunia yang lebih baik.  Schwab kemudian juga menulis: “The fundamental and global nature of this revolution means it will affect and be influenced by all countries, economies, sectors and people. It is, therefore, critical that we invest attention and energy in multistakeholder cooperation across academic, social, political, national and industry boundaries. These interactions and collaborations are needed to create positive, common and hope-filled narratives, enabling individuals and groups from all parts of the world to participate in, and benefit from, the ongoing transformations.

Sangat jelas bahwa narasi tentang Industri 4.0 yang dinyatakan oleh Schwab sangatlah konsisten dengan apa yang telah dinyatakan oleh Scharmer tentang Masyarakat 4.0, dan interpretasi Ekonomi 4.0 yang diambil dari pendirian Raworth dan Fullerton.  Menciptakan narasi yang positif dan menjamin manfaat bagi semua orang adalah tujuan dari Industri 4.0.  Alih-alih sekadar pasrah menerima teknologi yang bakal hadir beserta seluruh pengaruhnya, atau secara membabi-buta menolak teknologi, Industri 4.0 memberikan panduan soal bagaimana kemajuan teknologi dioptimalkan untuk kebaikan semua orang.

Memilih Kuadran dalam Teknologi 4.0

Lalu, apa yang dimaksud dengan Teknologi 4.0?  Tim O’Reilly, ahli teknologi yang dijuluki Oracle of Silicon Valley itu menjelaskan secara gamblang dalam WTF: What’s the Future and Why It is Up to Us? Buku yang juga terbit di tahun 2017 itu tentu bicara soal beragam teknologi yang akan mewarnai dunia di masa mendatang—yang bentuk-bentuk awalnya sudah kita saksikan sekarang.  Mobil internet dan cloud technology dibahas dengan jelas, kemampuan pemrosesan data dalam jumlah raksasa (big data) juga sangat menonjol.  Teknologi terkait energi, internet of things, ekonomi berbagi dan crowdsourcing, serta kendaraan tanpa sopir tak ketinggalan dibahas.

Namun, buat O’Reilly, teknologi itu tidaklah menentukan nasib manusia.  Sebagaimana yang jelas dia nyatakan di dalam judul bukunya, masa depan umat manusia adalah hasil dari pilihan umat manusia. Hal ini sejalan dengan apa yang diyakini pemenang Nobel Paul Crutzen yang menyatakan bahwa fase geologis mutakhir adalah Antroposene.  Semua hal, baik atau buruk, yang terjadi di muka Bumi ditentukan oleh apa yang diperbuat manusia.

Setelah saya pelajari, Teknologi 4.0 sebagaimana yang dijebarkan oleh O’Reilly sesungguhnya berarti teknologi yang dimanfaatkan membuka peluang kerja baru—bukan yang menghilangkan lapangan kerja dan membawa manfaat untuk seluruh orang—bukan sekadar pemilik teknologinya).  Dia menjelaskan bahwa pilihan umat manusia di hadapan kemajuan teknologi yang sedang kita hadapi sesungguhnya bisa dipahami lewat bagan empat kuadran.  Sumbu X-nya adalah antara teknologi yang mengambil alih kerja manusia, dan teknologi yang membawa peluang terciptanya banyak lapangan kerja baru.  Sumbu Y-nya adalah antara teknologi yang memperkaya pemodal dan inovatornya, dan teknologi yang membawa manfaat untuk seluruh manusia.

Secara kolektif, kita bisa memilih untuk mengarahkan negara dan dunia ke salah satu dari empat kuadran itu.  Benar-benar pilihan yang bisa kita ambil.  Tetapi, O’ Reilly telah menunjukkan pilihan kuadran yang akan membawa kita ke kondisi yang sesuai dengan cita-cita Industri 4.0, Ekonomi 4.0 dan Masyarakat 4.0.  Kalau kemudian kita memilih kuadran yang lain, kita sudah diberi tahu juga segala konsekuensinya.  Kesadaran atas konsekuensi pilihan, dan persiapan yang matang untuk berhadap-hadapan dengan konsekuensi itu adalah hal terpenting yang perlu dimiliki oleh setiap bangsa, termasuk Indonesia.

Penutup: Transformasi yang Kita Butuhkan

Saya terus teringat kata-kata Scharmer ketika menjelaskan pemikirannya, bahwa Masyarakat 4.0 adalah operating system, yang darinya dibangun sistem ekonomi, industri, dan teknologi.  Maka, kompatibilitas di antara keempatnya sangatlah penting.  Hingga kini saya masih khawatir bahwa kita di Indonesia sesungguhnya masih berada di antara Masyarakat 2.0 dan 3.0.  Sebagai bangsa peminjam dan konsumen teknologi, kita bisa saja mengadopsi teknologi yang disediakan oleh bangsa-bangsa lain, yang di tempat teknologi itu tumbuh sifatnya sudah menjadi/mendekati Teknologi 4.0.

Tetapi, pertanyaan terpentingnya adalah apakah kita bakal mampu mengarahkan teknologi yang kita pinjam dan konsumsi menjadi pilihan yang kuadrannya sesuai dengan apa yang disarankan oleh O’Reilly?  Apakah kita benar-benar akan masuk ke Industri 4.0 yang dijabarkan oleh Schwab?  Apakah ekonomi kita akan menjadi Ekonomi 4.0 sebagaimana uraian Raworth dan Fullerton?  Dan, apakah kita betul-betul bisa menjadi Masyarakat 4.0 yang ada dalam visi Scharmer?  Sesungguhnya, hanya apabila keseluruhan tingkatan dalam Gunung Es Teori Sistem itu berada dalam kesesuaian sajalah kita bisa meraup manfaat optimal dari kemajuan teknologi yang sedang kita saksikan.

Dalam Teori Sistem, kalau kita berpikir hanya pada level kejadian (teknologi), maka kita hanyalah akan bereaksi.  Kalau kita memelajari pola dan kecenderungan (industri), maka kita akan bisa mengantisipasi apa yang akan datang.  Bila kita memahami struktur (ekonomi), maka kita akan mampu mendesainnya. Tetapi, hanya apabila kita berpikir dalam level model mental (masyarakat), maka kita bakal mampu mentransformasikan diri kita semua.  Schwab yakin bahwa Industri 4.0 akan datang sepenuhnya mulai tahun 2025.  Itu artinya kita Cuma punya waktu 6 tahun untuk mempersiapkan diri untuk mengantisipasi, mendesain, atau bahkan mentransformasikan diri.  Yang jelas, kita tak bisa sekadar bereaksi atas perubahan besar yang sedang terjadi.

Jadi, apakah dalam waktu 6 tahun kita akan bisa menjadikan diri sebagai Masyarakat 4.0 dengan sistem ekonomi, industri dan teknologi yang sesuai dengan tujuan menciptakan kebaikan, alias keberlanjutan, bagi seluruh dunia?  Itu adalah pilihan yang kita tentukan sendiri jalan dan hasilnya.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga adalah salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia.