Lihat di sekitar Anda, sampah, polusi ada di mana-mana. Polusi berasal dari pembakaran sampah, asap buang mobil dan motor, dari pembangkit energi kotor seperti batu bara yang terus mencemari lingkungan. Sampah – termasuk sampah plastik – mencemari tanah dan air yang kita minum, suhu bumi terus meningkat, malam semakin gerah, panas, perubahan iklim dan cuaca terjadi di depan mata kita. Tanpa kita sadari kerusakan lingkungan terus menggerogoti kesehatan kita, anak dan cucu kita, menurunkan kualitas kehidupan mereka.

Berbagai penyakit muncul yang diakibatkan oleh pencemaran udara, air dan tanah. Laut dan sungai masih menjadi tempat sampah raksasa. Manusia – yang berakal – masih membuang sampah sembarangan. Mereka mengorbankan lingkungan demi kepentingan pribadi. Banyak yang tidak peduli.

Jika dunia tidak segera beraksi mengatasi kerusakan lingkungan ini, kita hanya akan mewariskan tumpukan masalah kesehatan pada generasi mendatang. Peringatan ini disampaikan oleh Organisasi Lingkungan PBB, UN Environment dalam laporannya berjudul Global Environmental Outlook ke-6 (GEO-6) yang dirilis kemarin, Rabu, 13 Maret 2019. Laporan ini adalah laporan paling komprehensif yang disusun secara teliti dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 250 ilmuwan terlibat menyusun laporan ini melibatkan para ahli dari 70 negara.

Laporan ini memperingatkan, dunia hanya memiliki dua pilihan: Pilihan pertama, meningkatkan perlindungan lingkungan secara drastis, terutama bagi negara-negara Asia, Timur Tengah dan Afrika atau pilihan kedua, dunia akan melihat jutaan warganya meninggal lebih cepat (prematur) pada pertengahan abad ini yang dipicu oleh pencemaran lingkungan.

Bahasa yang digunakan oleh laporan ini sangat lugas. Kemungkinan karena dunia sudah menyaksikan terlalu banyak basa-basi, oleh mereka yang menjadi bagian dari masalah lingkungan di dunia ini. Laporan ini menyatakan, kerusakan lingkungan juga akan menyebabkan laki-laki dan perempuan menjadi mandul, mempersulit pasangan mendapatkan keturunan serta merusak perkembangan syaraf pada anak-anak.

“Kesehatan dan kesejahteraan umat manusia berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan. Buktinya sangat jelas secara ilmiah,” ujar Joyce Msuya, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif, UN Environment. Laporan ini menggarisbawahi, dunia saat ini memiliki teknologi dan sumber daya untuk memperbaiki lingkungan. Namun diperlukan investasi hijau senilai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan mencegah krisis perubahan iklim, kekeringan dan kerusakan ekosistem.

GEO-6 menyatakan, saat ini dunia masih belum mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs di 2030 atau bahkan 2050. Diperlukan aksi yang cepat sehingga biaya untuk mencapai target Kesepakatan Paris tidak meningkat pesat.

Negara dan individu harus bahu membahu mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Penduduk di negara maju maupun berkembang diminta untuk mengubah pola makan, mengurangi konsumsi daging, tidak membuang makanan. Aksi sederhana ini bisa mengurangi kebutuhan untuk menambah produksi pangan hingga 50% agar dunia bisa mencukupi makanan bagi 9-10 miliar penduduknyadi 2050. Saat ini saja, 33% bahan pangan yang masih layak terbuang dan 56% limbah makanan berasal dari negara-negara maju.

Manusia yang terdidik hingga saat ini juga masih terus berjuang – dan gagal – mencegah 8 juta ton sampah plastik mencemari lautan. Plastik mencemari ikan dan kembali ke meja makan untuk dikonsumsi oleh manusia, polusi plastik menumpuk di tubuh kita, memicu berbagai penyakit, dari mulai penyakit jantung, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), lemah syahwat, mandul, hingga kanker.

Perlu intervensi kebijakan untuk mengatur semua sistem – termasuk sistem energi, pangan dan limbah daripada kebijakan sektoral. Hal ini karena semuanya saling terkait. Misalnya upaya untuk menciptakan udara bersih dan iklim yang stabil saling terkait. Biaya mitigasi untuk mencapai target Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris menurut GEO-g mencapai US$22 triliun. Namun manfaat kesehatan yang didapat dari udara yang lebih bersih mencapai US$54 triliun.

Generasi pembuat kebijakan – yang disebut para birokrat dan wakil rakyat – saat ini tidak perlu menunggu pensiun dan mati untuk mencapai perubahan. Keberpihakan pada lingkungan yang lebih sehat dan lestari bisa mereka wujudkan sekarang, jika mereka tidak sibuk memikirkan diri sendiri namun memikirkan generasi yang akan datang.

Redaksi Hijauku.com