Fakfak, Papua Barat – Pengelola Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Berau dan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch bekerja sama dengan Conservation International (CI) Indonesia, mitra pelaksana proyek USAID-Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) di Fakfak, dan Yayasan Kalabia Indonesia akan melaksanakan Kegiatan Pendidikan Konservasi dan Lingkungan bagi siswa-siswi sekolah dasar (SD) di Distrik Arguni dan Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat.

Kegiatan yang diberi tajuk “Bermain Sambil Belajar di Atas Kapal Kalabia” ini akan dilakukan tanggal 1-7 Maret 2019. Kapal Kalabia akan berlayar dan singgah di kampung-kampung untuk memberikan Pendidikan Konservasi dan Lingkungan di atas kapal bagi siswa-siswi Sekolah Dasar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Berau dan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch Kabupaten Fakfak di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat serta Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Fakfak.

Pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan putra-putri Fakfak sebagai pelaku konservasi di masa depan mengenai pentingnya konservasi dan penjagaan sumber daya alam di wilayah Bentang Laut Kepala Burung, Papua Barat.

“Kegiatan ini merupakan salah satu strategi penguatan pengelolaan sumber daya kawasan untuk mencapai misi melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil Taman Pesisir di Kabupaten Fakfak ini,” tutur Rahel Randa, Kepala Seksi Konservasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan yang dilaksanakan pada 1 Maret 2019, Wakil Bupati Fakfak Abraham Sopaheluwakan menyatakan apresiasinya terhadap acara ini. “Sampah, misalnya, adalah isu besar di Fakfak. Namun, sudah ada kesadaran untuk membuat pesan-pesan yang menarik untuk menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Dengan pendidikan ini, harapannya putra-putri Fakfak bisa peduli, cinta, dan menjadi pelindung lingkungan hidup dan meneruskan upaya yang sudah ada sekarang.”

Pemerintah daerah menyediakan Kapal Kalabia yang bisa digunakan untuk memberikan pelatihan lingkungan hidup bagi anak-anak di wilayah Papua Barat. Kegiatan Bermain Sambil Belajar di Atas Kapal Kalabia ini adalah serangkaian kegiatan yang interaktif di mana siswa belajar tentang biologi dasar laut, ekologi, dan masalah konservasi laut.
Melalui eksplorasi langsung, siswa memperoleh pengetahuan dasar tentang ekosistem dan fungsi terumbu karang, bakau, dan lamun dalam ekosistem. Selain itu, mereka juga memperoleh pemahaman konsep-konsep seperti jaring kehidupan, daya dukung, dan manfaat dari tidak mengambil ikan dari notake zone.

“Kapal Kalabia memang selama ini sering beroperasi di Raja Ampat dan memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada anak-anak di Raja Ampat. Ini pertama kalinya kami berlayar di Fakfak. Fakfak dipilih sebagai wilayah berlayar karena kami melihat potensi sumber daya alam yang penting untuk dijaga kepentingannya. Melalui kegiatan ini, kami mendukung konservasi laut yang ada di Fakfak,” tutup Direktur Eksekutif Yayasan Kalabia Indonesia, Abraham Goram Gaman.

—–

Tentang Proyek USAID SEA

Proyek Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) yang didanai oleh USAID adalah proyek lima tahun (2016 – 221) yang mendukung pemerintah Indonesia, dalam menguatkan Tata Kelola Sumberdaya Perikanan dan Kelautan serta Konservasi Keanekaragaman Hayati. Proyek yang diimplementasikan oleh Tetra Tech dan konsorsium mitra ini bekerja pada tingkat nasional, provinsi, serta lokal di Provinsi Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715 Indonesia. Dengan menggunakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dan melibatkan pemangku kepentingan utama, proyek USAID SEA bertujuan untuk: (1) menguatkan pengelolaan perikanan dan kawasan perlindungan laut guna meningkatkan produktivitas perikanan, konservasi, dan pemanfaatan berkelanjutan; dan (2) memperkuat kapasitas kepemimpinan dari pemerintah lokal dan Kementrian Kelautan Perikanan (KKP).

Tentang Conservation International (CI)

Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman, CI memberdayakan masyarakat untuk menjaga alam, keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia. CI didirikan pada 1987, dan bekerja di Indonesia sejak tahun 1991 untuk mendukung masyarakat madani yang sejahtera melalui upaya perlindungan alam, dukungan sistem produksi yang berkelanjutan, dan dukungan tata kelola yang efektif. CI bermarkas besar di Washington DC, mempekerjakan 900 orang yang bekerja di 30 negara pada empat benua, serta bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.conservation.org

Tentang Yayasan Kalabia Indonesia

Yayasan Kalabia Indonesia (YaKIn) berdedikasi untuk meningkatkan kesejahteraan jangka panjang masyarakat Papua dengan memberdayakan mereka dengan pengetahuan untuk memastikan konservasi sumber daya laut dan pesisir mereka untuk masa depan yang berkelanjutan. YaKIn didirikan pada tahun 2012, berpisah dari Program Kelautan Conservation International Indonesia untuk fokus secara khusus pada inisiatif Pendidikan Kalabia. Dipimpin oleh direktur eksekutif, Bram Goram, dan didukung oleh penasihat pendidikan Kanada, Angela Beer, YaKIn terus menerima dukungan luas dari Conservation International bersama-sama dengan pendukung baru Pelindo, Perusahaan Pelabuhan Indonesia. Informasi selengkapnya ada di https://www.kalabia.net/.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Melva Aritonang
Communications and Outreach Specialist Proyek USAID SEA
info@sea-indonesia.org | +62-21-2506262

Nur Ismu Hidayat
Program Manager CI Indonesia
nhidayat@conservation.org