Jakarta, 7 Februari 2019 – Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai komitmen paling tinggi di dalam penurunan emisi. Sejak pertemuan G-20 di Pittsburgh tahun 2009, telah dinyatakan oleh Indonesia target penurunan emisi secara nasional yang jelas dan terukur, yaitu 26% dari emisi gas rumah kaca (GRK) berdasar pada proyeksi di tahun 2020.

Lebih jauh, Pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan komitmen kepada UNFCCC melalui Nationally Determined Contribution (NDC), untuk mengurangi 29% dari emisi berdasarkan proyeksi tahun 2030 (dengan usaha sendiri) dan pengurangan emisi sebesar 41% dengan dukungan internasional. Hal ini adalah target yang sangat ambisius, mengingat Indonesia mempunyai pertumbuhan emisi yang sangat tinggi, terutama untuk sektor energi.

Sebagai salah satu upaya penurunan emisi dengan tetap mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang membuat kerjasama implementasi Joint Crediting Mechanism (JCM). JCM merupakan suatu mekanisme berbasis pasar yang secara bilateral memungkinkan pihak swasta Jepang bekerjasama dengan pihak swasta Indonesia dalam melakukan implementasi kegiatan rendah karbon sejak Oktober 2013. Dengan adanya kerjasama ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian target Indonesia dan Jepang pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan transfer teknologi seperti yang dinyatakan dalam target nasional masing-masing negara.

Di dalam Seminar Climate Actions and The Joint Crediting Mechanism yang hari ini diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bekerjasama dengan Institute for Global Environmental Strategies (IGES), disampaikan kemajuan Indonesia dalam kerjasama dengan Jepang dengan menggunakan skema JCM.  Disampaikan oleh Rizal Edwin Manansang selaku Ketua Joint Committee JCM Indonesia bahwa JCM telah memberikan kemajuan yang sangat berarti baik secara nasional maupun dibanding dengan negara.

Indonesia saat ini telah melakukan implementasi sebanyak 35 proyek JCM dengan nilai total investasi sebesar lebih dari 130 juta USD.  Sementara jenis proyek yang saat ini banyak diimplementasikan adalah konservasi atau penghematan energi dan energi terbarukan.  Proyek JCM terbesar saat ini yang diimplementasikan di Indonesia adalah pemanfaatan panas buang atau waste heat recovery 32 MW dengan nilai investasi sebesar 51 juta USD dengan penurunan emisi sebesar 122.000 ton CO2 per tahun.

Sementara Kepala Sekretariat JCM Indonesia, Cahyadi Yudodahono, menjelaskan potensi implementasi proyek JCM di Indonesia masih sangat terbuka.  Ada 3 jenis model pembiayaan berbasis hibah yang bisa dimanfaatkan oleh partisipan proyek untuk bergabung dengan JCM.

Pembicara yang lain, Dida Gardera dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menyampaikan kalau implementasi JCM adalah pembelajaran  yang bagus bagi Indonesia dalam menghadapi periode Perjanjian Paris, yaitu periode 2020-2030 dalam pencapaian target penurunan emisi. Dan pembicara dari IGES, Kentaro Takahashi, menyampaikan hal yang senada, implementasi JCM adalah salah satu pembelajaran yang bagus bagi Jepang dan negara sahabat untuk kemudian bisa melakukan implementasi Perjanjian Paris bagian article 6.  Lebih jauh juga disampaikan bahwa pada saatnya nanti, JCM akan masuk menjadi bagian dari implementasi article 6, yaitu pembiayaan berdasar mekanisme pasar dan non pasar.

Pada sesi terakhir, dua partisipan proyek menyampaikan pengalamannya di dalam implementasi JCM.  Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) dari Sumatera Selatan yang diwakili oleh Arief Kadarsyah, telah membangun 2 MW pembangkit listrik tenaga surya bekerja sama dengan Sharp Jepang.  Pembangkit listrik ini difungsikan untuk memasok listrik stadion Jakabaring di Palembang, khususnya untuk Asian Games 2018.  Setelah Asian Games, pembangkit listrik ini menjual listriknya ke PLN dan berencana untuk mengembangkan pembangkit sejenis di Pulau Bangka dengan kapasitas 10 MW di Pulau Bangka.

Pembicara terakhir adalah dari Badan Layanan Umum Kota Semarang, Ade Bhakti,  yang menceritakan tentang implementasi proyek pemasangan converter gas di bis TransSemarang yang sebelumnya menggunakan bahan bakar solar.  Dengan kesuksesan implementasi converter gas di 72 bis Kota Semarang, Kementerian Perhubungan mendorong kota-kota lain untuk melakukan implementasi sejenis.

–##–