Cuaca ekstrem, kegagalan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta bencana alam, berturut-turut menempati posisi tiga teratas risiko yang paling mungkin terjadi dalam Global Risks Report 2019 yang diterbitkan oleh World Economic Forum, 15 Januari 2019.

Laporan ini disusun dari hasil Global Risks Perception Survey yang melibatkan 1.000 pembuat keputusan dari kalangan pemerintah, swasta, akademia dan masyarakat madani (civil society). Sembilan dari 10 responden menyatakan, dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, cuaca ekstrem dan kegagalan kebijakan mengatasi perubahan iklim menjadi ancaman terbesar bagi kemanusiaan. Hal ini ditambah dengan semakin memburuknya konfrontasi politik dan ekonomi di antara negara-negara besar.

Menurut WEF, dunia terus mengalami kerusakan dan kehilangan keanekaragaman hayati. Populasi spesies dunia turun 60% sejak 1970. Kerusakan keanekaragaman hayati ini mempengaruhi rantai makanan, berdampak pada kesehatan masyarakat dan pembangunan sosial ekonomi, yang mempengaruhi kesejahteraan, produktivitas penduduk, hingga keamanan wilayah.

Urbanisasi dan pembangunan perkotaan yang makin cepat juga semakin berisiko saat terjadi kenaikan air laut dan cuaca ekstrem. Dua pertiga populasi dunia akan tinggal di perkotaan pada 2050. Dan saat ini, 800 juta jiwa tinggal di 570 kota di wilayah pesisir, yang rawan terdampak kenaikan air laut hingga 0,5 meter pada 2050. Indonesia salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia harus menghadapi kenyataan ini.

Rusaknya hutan mangrove dan penurunan permukaan tanah – akibat salah satunya pengambilan air tanah yang tak terkendali – semakin menambah risiko kenaikan air laut ini. Semakin banyak daratan yang tak bisa ditinggali akibat terendam banjir.

Menurut WEF, ada sejumlah strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenaikan air laut. Pertama membuat proyek teknis untuk menjaga air tidak naik ke daratan. Kedua menciptakan solusi alami untuk mengurangi erosi dan abrasi seperti menjaga kelestarian hutan mangrove dan terumbu karang. Yang ketiga memindahkan penduduk dan bisnis ke lokasi yang lebih aman dan menciptakan komunitas tangguh bencana termasuk bencana banjir.

WEF kembali mengutip peringatan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Oktober 2018 yang menyebutkan bahwa dunia hanya memiliki waktu 12 tahun lagi untuk membuat perubahan drastis guna menekan kenaikan suhu rata-rata bumi di atas 1,5ºC sebagaimana disebutkan dalam Kesepakatan Paris atau Perjanjian Paris.

Kajian Iklim (Climate Assessment) pada bulan November menyebutkan, tanpa pegurangan emisi yang signifikan, rata-rata suhu bumi bisa naik 5ºC pada akhir abad ini.

Bencana yang terkait perubahan iklim di 2017 telah menyebabkan 39 juta penduduk di 23 negara kekurangan pangan. Sementara peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2) – penyebab krisis iklim – di atmosfer menurunkan kandungan nutrisi bahan pangan pokok seperti beras dan gandum.

Menurut riset kondisi ini akan menyebabkan 175 juta penduduk mengalami kekurangan seng (zinc), 122 juta kekurangan protein dan 1 miliar penduduk dunia kekurangan zat besi (iron). Lingkungan setan antara kerusakan lingkungan dan kesehatan semakin tampak nyata.

Redaksi Hijauku.com