Oleh: Jalal *

Tak bosan-bosan saya menggunakan kalimat sakti dari musikal The King and I karya Rodgers dan Hammerstein, “That if you become a teacher, by your pupils you’d be taught” setiap kali harus berbicara dan menulis tentang perasaan saya setelah berinteraksi dengan mereka yang diposisikan untuk mendengarkan ‘ceramah’ dari saya. Entah itu dalam konteks kelas perkuliahan, pelatihan, atau seminar, saya terus saja terkenang pada kalimat itu, lantaran selalu saja terbukti memang benar begitu.

Anna Leonowens—seorang petualang, guru, penulis dan aktivis sosial dari Inggris—diminta untuk menjadi guru untuk anak-anak Raja Thailand, Mongkut atau Rama IV.  Apa yang kemudian dia akui adalah bahwa dia merasa mendapat lebih banyak daripada yang ia berikan kepada murid-muridnya, para pangeran dan putri itu.  Walaupun saya belum pernah, sepanjang pengetahuan saya, mengajar para pangeran dan putri, sentimen yang saya rasakan adalah persis sama.

Sejak awal tahun 2017 lalu saya diminta menjadi dosen pengganti untuk mata kuliah CSR dan Etika Bisnis di Universitas Prasetiya Mulya.  Tanggal 14 Desember 2018, adalah waktu terakhir perkuliahan untuk satu kelas yang saya ampu di semester ini, dan minggu ini kelas yang lain juga akan berakhir.  Saya akan bertemu lagi dengan angkatan berikutnya pada tahun depan.  Melalui tulisan ini, saya ingin menuliskan pesan kepada para mahasiswa itu.  Pesan yang rasanya masih saya perlu perkuat setelah saya mengakhiri perkuliahan, dan pesan yang mungkin bermanfaat bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan di berbagai sekolah bisnis.

Tetapi, motivasi utama saya menulis pesan ini adalah sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada mereka yang telah membuat saya menjadi lebih memahami dunia bisnis dari kacamata mereka.  Sesungguhnya saya adalah murid mereka sepanjang semester, yang menjadi bertambah paham dan, semoga, bertambah bijak dalam memandang dunia bisnis di Indonesia.  Pengalaman-pengalaman yang mereka bagi di dalam kelas, dan di luar kelas, sudah sepantasnya saya balas dengan apa yang saya tahu dan belum sepenuhnya saya sampaikan.

Transformasi Bisnis

Dunia sangat jelas sedang mengalami pergeseran dalam cara pandang mengenai bisnis.  Utamanya, hal itu ditandai dengan pergeseran bagaimana generasi baru pemilik bisnis dan manajer melihat hubungan bisnis dengan masyarakat dan lingkungan.  Bisnis sempat dipandang sebagai sektor yang yang memberi peluang peningkatan kesejahteraan yang utama.  Dan tampaknya masih demikian.  Sayangnya, bisnis juga dikaitkan dengan banyak sekali skandal, dan dampak sosial dan lingkungannya semakin terbuka di mata pemangku kepentingannya.

Ketika meleknya pemangku kepentingan bertemu dengan teknologi informasi dan komunikasi, transparensi maksimum adalah hasilnya.  Kini perusahaan sudah sangat sulit, kalau bukan mustahil, menyembunyikan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, and governance, disingkat ESG) yang mereka hasilkan.  Kalau masih ada celah untuk bersembunyi, peluangnya ada pada perusahaan berskala mikro hingga sedang, dan di mata awam.  Pemangku kepentingan yang jeli, pasti bisa menemukan informasi ESG apapun yang mereka ingin ketahui.

Oleh karena itu, bila perusahaan ingin memiliki reputasi yang baik di mata pemangku kepentingan, tak ada pilihan selain pertama-tama memerbaiki perilaku dan kinerja mereka.  Reputasi, sebagaimana yang didefinisikan oleh John Doorley dan Helio Garcia, adalah penjumlahan dari perilaku, kinerja, dan komunikasi, dikalikan dengan autentisitas.  Perilaku yang baik dan kinerja yang tinggi adalah bekal yang sangat penting, yang kemudian bisa dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan pada level yang sesuai dengan perilaku dan kinerja itu.  Komunikasi yang tak sesuai—baik terlampau rendah, maupun terlampau tinggi dibandingkan perilaku dan kinerja—akan menghasilkan keraguan di benak dan hati pemangku kepentingan.  Apalagi, kalau ternyata baik perilaku, kinerja, maupun komunikasi itu ternyata tidak autentik.

Reputation Institute, pada survei mutakhirnya di bulan Oktober 2018 menunjukkan bahwa ternyata tanggung jawab (sosial) perusahaan adalah penentu reputasi.  Dalam kuadran tertinggi, yang menyilangkan antara atribut dan derajat kepentingan, diperoleh tiga hal paling penting  bagi reputasi perusahaan: dampak positif terhadap masyarakat, keadilan dalam menjalankan bisnis, dan perilaku etis.  Komponen-komponen lainnya, walaupun penting, tidaklah sepenting ketiga hal tersebut.

Hal ini semakin mengokohkan hasil-hasil studi paling mutakhir tentang hubungan antara CSR dan kinerja finansial perusahaan.  Kalau tadinya kita saksikan bahwa hubungan keduanya cenderung bercaumpur atau netral, kini bukti bahwa hubungannya positif, signifikan, dan saling menguatkan semakin banyak.  Kalau tadinya blended value dari Jed Emerson—ide bahwa semakin besar manfaat bagi pemangku kepentingan, semakin tinggi keuntungan perusahaan—adalah sekadar hipotesis, kini sudah diterima sebagai kebenaran yang teruji.  Mungkin di masa mendatang hal itu bahkan akan dinyatakan sebagai aksioma bisnis.

Saya masih ingat betul bahwa ketika menjalani pendidikan di tingkat sekolah dasar kita diajarkan apa yang disebut sebagai ‘prinsip ekonomi’, yaitu “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.” Entah siapa yang memasukkan ideologi tersebut ke dalam kurikulum, yang jelas kalimat itu sedemikian melekatnya di benak banyak orang.  Kalau saya menyebutkan bagian pertama kalimat itu, tak ada yang tak bisa meneruskannya.  Itu pertanda sedemikian suksesnya reproduksi ideologi kapitalistik ke dalam benak kita.

Ingatan kita itu semakin dikuatkan dengan jawaban pertama yang muncul apabila saya bertanya soal tujuan bisnis.  Tak ragu, para mahasiswa menjawab untuk mendapatkan keuntungan.  Ini adalah jawaban yang sangat mudah diduga.  Tetapi, ketika saya ajak memikirkan lebih jauh soal pertanyaan ini, maka kesadaran bahwa jawaban pertama itu hanyalah hasil membeo belaka tampaknya segera timbul.  Di kelas, saya memaparkan bahwa para pemuka teori manajemen seperti Thomas Donaldson dari sekolah bisnis Wharton di Universitas Pennsylvania dan James Walsh dari sekolah bisnis Ross di Universitas Michigan punya jawaban yang berbeda.  Artikel mereka berdua, Toward a Theory of Business, benar-benar mengganggu benak yang tadinya puas dengan jawaban ‘mencari keuntungan’ itu.

Mereka membuka artikelnya dengan pertanyaan “Law is to justice, as medicine is to health, as business is to ….”  Dari situ saja segera tampak bahwa tujuan selalu lebih besar daripada cara untuk meraihnya.  Hukum diciptakan untuk mencapai keadilan, sebagaimana obat diciptakan untuk mencapai kesehatan.  Jadi, jawaban untuk tujuan bisnis tentu saja harus lebih besar daripada bisnis itu sendiri.  Apakah keuntungan lebih besar daripada bisnis? Tidak.  Artikel 27 halaman yang terbit di jurnal Research in Organizational Behavior Vol. 35/2015 berargumentasi bahwa bisnis diciptakan untuk menghadirkan kesejahteraan optimal (optimized collective value) seluruh pemangku kepentingannya, bukan sekadar keuntungan bagi pemilik modalnya.

Begitulah.  Teori tentang bisnis telah bergeser sedemikian jauh dari posisi yang di tahun 1970an seakan dimenangkan oleh Milton Friedman dan para pengikutnya.  Kini, Edward Freeman dengan teori pemangku kepentingannya-lah yang banyak diikuti oleh para pebisnis paling progresif.  Transformasi dari bisnis yang hanya berpusat pada kepentingan ekonomi pebisnis, menjadi bisnis yang melayani hajat pemangku kepentingan sedang terjadi.  Dan hal itulah yang direkam oleh para akademisi bisnis.

Sekolah Bisnis Pun Berubah

Ambil contoh Harvard Business School (HBS), yang kerap dinyatakan sebagai sekolah bisnis terbaik.  Di situ pergeseran terjadi dengan sangat kuat.  Alasan pergeserannya sangat jelas: alumni HBS banyak dikaitkan dengan berbagai krisis yang mengakibatkan ketidakpercayaan pada dunia usaha.  Upaya merebut kembali kepercayaan publik terhadap bisnis harus dilakukan, atau bisnis sendiri yang akan menanggung kerugian akibat tak bersedianya mereka berubah.

Max Anderson dan Peter Escher adalah dua mahasiswa HBS yang kemudian tergerak untuk menciptakan The MBA Oath, sebagai salah satu cara untuk menggugah kesadaran seluruh lulusan sekolah bisnis.  Salah satu butir sumpah tersebut adalah “I will strive to create sustainable economic, social, and environmental prosperity worldwide. Sustainable prosperity is created when the enterprise produces an output in the long run that is greater than the opportunity cost of all the inputs it consumes.”  Sejak sumpah itu digulirkan oleh Angkatan 2009 MBA HBS, ribuan MBA di seluruh dunia telah mengambil sumpah a la Sumpah Hippocrates di dunia kedokteran itu.

Ketika di tahun 2012 John Coleman dkk meneliti apa saja yang dilakukan oleh para alumni HBS, mereka mendapati bahwa mereka telah menjadi pemimpin bisnis yang jauh lebih memerhatikan aspek sosial dan lingkungan.  Karenanya, buku yang ditulis oleh mereka itu diberi judul Passion and Purpose: Stories from the Best and the Brightest Young Business Leaders.  Mereka yang terbaik dan paling cemerlanglah yang paling cepat berubah menjadi pebisnis yang bertujuan mengubah dunia menjadi lebih baik. Mereka banyak mengambil bisnis sosial sebagai pilihan hidupnya.

Pergeseran itu tak sekadar terjadi di HBS.  Kalau kita periksa seluruh sekolah bisnis terbaik di dunia, maka akan jelas terlihat betapa pergeseran itu terjadi di mana-mana.  Di dalam artikel Management as a Calling, yang terbit di Stanford Social Innovation Review edisi September 2018, salah satu akademisi paling dihormati dalam keberlanjutan bisnis, Andrew Hoffman menulis: “Without question, what we need to do is amend the MBA curriculum to teach students that they will possess awesome power as business leaders, and with that power comes great responsibility and an obligation to create benefit for all of society.”

Hoffman yang juga mengajar di sekolah bisnis Ross—walaupun kutipan di atas mungkin membuat orang berpikir dia ada di Marvel Cinematic Universe bersama Spiderman—mengusulkan agar sekolah bisnis membuat tujuh perubahan mendasar agar tujuan bisnis, yaitu menyejahterakan seluruh pemangku kepentingannya.  Perubahan itu adalah: (1) penyediaan bimbingan untuk memahami dunia bisnis di awal program, atau bahkan sebelum keputusan masuk program; (2) penciptaan mata kuliah yang menjelaskan mengenai sifat, evolusi dan masa depan Kapitalisme secara kritis; (3) pengajaran tentang lobi yang bertanggung jawab; (4) pengajaran tentang tujuan dari korporasi; (5) pengajaran terkait ilmu pengetahuan alam, termasuk dampak bisnis terhadap lingkungan, dan konsekuensinya untuk bisnis di masa mendatang; (6) pengajaran terkait ilmu sosial dan politik, termasuk isu-isu sosial yang paling penting diperhatikan bagi kesuksesan bisnis; dan (7) penyediaan bimbingan karier di akhir dan setelah program.

Usulan tersebut sangatlah komprehensif, dan bersandarkan pada pengalaman-pengalaman sekolah bisnis yang paling progresif selama sekitar satu dekade belakangan.  Perubahan itu memang sudah sangat lama terasa dibutuhkan, sehingga PBB memiliki inisiatif The Principles for Responsible Management Education (PRME).  Hingga sekarang, terdapat 650 sekolah bisnis dan manajemen yang menjadi penandatangannya.  Namun, jumlah itu tentu saja masih jauh dari memadai, lantaran ada jauh lebih banyak sekolah bisnis di seluruh dunia ini yang belum mengacu pada prinsip-prinsipnya.

PRME memerkenalkan 6 prinsip pendidikan manajemen, yaitu purpose, values, method, research, partnership, dan dialogue.  Prinsip yang pertama misalnya dijabarkan menjadi janji sekolah bisnis atau manajemen sebagai berikut: “We will develop the capabilities of students to be future generators of sustainable value for business and society at large and to work for an inclusive and sustainable global economy.” Sementara, prinsip kelima dinyatakan sebagai: “We will interact with managers of business corporations to extend our knowledge of their challenges in meeting social and environmental responsibilities and to explore jointly effective approaches to meeting these challenges.

Buat saya, future generators of sustainable value adalah deskripsi yang sangat tepat untuk para mahasiswa sekolah bisnis dan manajemen sekarang.  Karenanya, sangat penting bagi para mahasiswa ini untuk mengetahui tantangan terbesar bisnis di masa mendatang.  Dan, di antara tantangan-tantangan itu, kini saya sadari sepenuhnya, perubahan iklim jelas adalah salah satu yang terpenting untuk dipahami oleh para mahasiswa agar mereka kelak bisa menjadi pemimpin bisnis yang dapat menciptakan nilai/manfaat yang berkelanjutan untuk para pemangku kepentingannya.

Bersiap Menghadapi Perubahan Iklim

Menjelang pertemuan pertama di semester ini, Andrew Winston menuliskan artikel bertajuk The Scale of the Climate Catastrophe Will Depend on What Businesses Do Over the Next Decade di Harvard Business Review edisi Oktober 2018.  Di awal tahun, World Economic Forum menggambarkan dalam The Global Risks Report 2018 bahwa tiga risiko dengan dampak dan peluang terbesar adalah kejadian cuaca ekstrem, bencana alam, serta kegagalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Bersamaan dengan munculnya artikel Winston, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menelurkan laporan mutakhirnya, yang menyatakan bahwa dunia cuma punya waktu 12 tahun untuk mengendalikan perubahan iklim di kenaikan maksimal 1,5 derajat Celsius—ambang batas aman bagi kehidupan umat manusia.  Di luar itu, apalagi kalau kita sampai melampaui kenaikan 2 derajat Celsius, kehidupan akan sangat berubah.  Lingkungan akan semakin rusak, dan harmoni sosial bakal porak-poranda.  Dan bisnis pun jelas tak akan bisa bertahan, apalagi maju, dalam situasi demikian.

Sampai sekarang saya masih tak habis pikir bagaimana majoritas bisnis di Indonesia seakan bergeming, tak beringsut dari praktik yang sudah tak lagi masuk nalar bisnis jangka panjang.  Saya tahu bahwa laporan IPCC tak akan sampai di mata para pemimpin bisnis, tetapi apakah publikasi HBR dan WEF tak lagi mereka baca?  Kalau peringatan HBR dan WEF tak lagi dianggap serius oleh para pebisnis, saya tak tahu lagi harus menggunakan data dan argumentasi apa lagi.

Padahal, baik publikasi HBR maupun WEF yang saya sebutkan itu menggarisbawahi dua hal: kalau bisnis mengabaikan risiko perubahan iklim, maka mereka akan membayar sangat mahal; sebaliknya, kalau bisnis mengelola risiko perubahan iklim dengan benar, maka mereka akan meraup beragam peluang bisnis.  Di kelas, saya sudah menyatakan bahwa secara umum bila bisnis turut bekerja mewujudkan SDGs, maka menurut perhitungan BSDC dan AlphaBeta di tahun 2017 secara global ada peluang USD12 triliun per tahun yang bisa didapat.  Publikasi mutakhir The New Climate Economy yang terbit September 2018 mengungkapkan bahwa khusus terkait perubahan iklim (SDG13) peluang bisnis total yang timbul hingga 2030 setidaknya adalah USD26 triliun.

Mungkin adalah kesalahan para pakar yang selama ini terlampau berkutat untuk membujuk para politisi dan birokrat untuk berubah.  Laporan IPCC hingga sekarang hanya menyediakan summary for policymakers.  Padahal, sebagaimana yang dinyatakan oleh Winston, respons perusahaanlah yang akan menentukan dampak perubahan iklim yang bakal dirasakan dunia.  Mengapa tak ada summary for business leaders yang dibuat oleh IPCC?  Kalau alasannya adalah karena IPCC adalah lembaga antar-pemerintah, agaknya sekat-sekat seperti itu perlu diterobos. PBB sendiri kini memiliki UN Global Compact yang isinya adalah perusahaan-perusahaan.

Mungkin juga ini adalah kesalahan orang seperti saya, yang terpapar pada perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan terkait perubahan iklim, punya akses untuk bicara dengan para pemimpin bisnis, namun kurang serius dalam menjadi jembatan di antara keduanya. Berkaca pada pengalaman interaksi di kelas, dan bagaimana saya membangun silabus perkuliahan, sangat jelas saya masih sangat kurang memberikan pemahaman itu.  Bagaimana mungkin tiga risiko tertinggi, sebagaimana yang dicantumkan dalam laporan WEF, tak cukup saya bahas di kelas?

Kesadaran ini jelas akan membuat saya memperbaiki silabus untuk perkuliahan mendatang—sebagaimana yang disarankan oleh Hoffman.  Dan, tulisan yang dibuat di hari penutupan The 24th Session of the Conference of the Parties to the UNFCCC (COP24) ini semakin mengingatkan saya akan pentingnya pengetahuan tentang perubahan iklim di dalam perkuliahan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan.

Menunggu Aksi Ethan Hunt

Para mahasiswa yang mengikuti kelas saya pasti menyadari betapa saya adalah penggila film. Selain, tentu saja, penggila durian.  Di antara film-film laga yang saya suka, serial Mission: Impossible adalah di antara favorit saya.  Bukan saja lantaran versi bioskopnya semakin baik dibuat, melainkan juga lantaran nilai sentimental tontonan televisi yang saya saksikan ketika kecil itu.  Kalimat “your mission, should you choose to accept it….” sangat melekat di kepala saya.

Kini, saya melihat bahwa tantangan bisnis sangatlah berat, bukan sekadar berat.  Di Mission: Impossible II, atasan sang jagoan utama Ethan Hunt, Mission Commander Swanbeck, yang diperankan oleh Anthony Hopkins mengatakan: “Mr. Hunt, this isn’t mission difficult, it’s mission impossible. “Difficult” should be a walk in the park for you.”  Di penghujung tulisan ini saya merasa perlu untuk menyatakan bahwa tantangan bisnis ke depan sudah bukan lagi sekadar masuk ke dalam kategori sulit.  Bisnis tak akan seperti jalan-jalan di taman bagi para pebisnis dan profesional handal.

Berbagai perubahan dunia yang sekarang sedang terjadi, termasuk dan terutama perubahan iklim—juga tantangan Revolusi Industri 4.0 yang menurut Klaus Schwab akan hadir secara penuh di tahun 2025—akan menjadikan bisnis di Indonesia sebagai tantangan ekstra-berat, sekaligus ekstra-menarik.  Sama seperti Ethan Hunt, para pebisnis dan profesional akan berlarian menghindari bahaya, berjumpalitan menghindari kendala; namun juga akan menggunakan segala ketangguhan dan kecerdikan mereka untuk menemukan peluang-peluang dalam mencapai misi mereka.  Misi tersebut, sebagaimana yang sudah saya sampaikan di atas, adalah untuk menghasilkan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemilik saham.  Situasi dunia yang sedang berubah dengan cepat adalah tantangan sekaligus peluang yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan untuk mencapai misi tersebut.

Maka, kepada para mahasiswa sekolah bisnis, yang akan dan sedang menjadi Ethan Hunt di dunia bisnis di Indonesia, pesan saya, sebagai salah satu pemangku kepentingan kalian, adalah sebagai berikut: “Your (business) mission, should you choose to accept it, involves the discovery and sharing of optimized values for all your stakeholders.  Should you or any of your Force succed in achieving the mission, the stakeholders will proudly acknowledge your actions. This disc will self-destruct in five seconds. Good luck.”

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga adalah salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia.