Setelah melaksanakan perundingan yang alot di Katowice, Polandia selama dua minggu, negara-negara peserta Konferensi Perubahan Iklim menyepakati “program kerja” dalam mengimplementasikan Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris (Paris Agreement) pada Sabtu, 15 December 2018.

Kesepakatan yang dijuluki “Katowice Climate Package” atau Paket Iklim Katowice ini menjadi panduan dalam menerapkan Kesepakatan Paris yang sebagaimana dikutip dalam berita UNFCCC akan membawa manfaat bagi semua orang, terutama mereka yang paling rentan.

Paket Iklim Katowice diharapkan akan mendorong kerja sama internasional dalam mencapai ambisi yang lebih besar. Panduan ini diharapkan juga akan mendorong rasa saling percaya antara negara-negara dunia yang tengah beraksi atasi tantangan perubahan iklim.

“Semua negara telah bekerja tanpa lelah dan menunjukkan komitmen mereka. Mereka bisa meninggalkan Katowice dengan bangga dengan keberhasilan perjuangan mereka. Paket Iklim Katowice akan menjadi landasan implementasi Kesepakatan Paris di 2020,” ujar Michal Kurtyka dari Polandia yang menjabat Presiden COP24.

Dalam Paket Iklim Katowice juga dijabarkan panduan untuk mengoperasionalisasikan kerangka transparansi. Paket tersebut akan mengatur cara negara menyediakan informasi terkait Nationally Determined Contributions (NDCs) yang menerangkan aksi perubahan iklim di setiap negara. Informasi ini mencakup aksi mitigasi dan adaptasi sekaligus detil dukungan finansial untuk aksi iklim di negara-negara berkembang.

Proses dalan mencapai target-target pendanaan baru mulai 2025 ke depan, dari target saat ini yaitu mengumpulkan US$ 100 miliar per tahun mulai tahun 2020 untuk mendukung aksi perubahan iklim di negara-negara berkembang juga dijabarkan dalam kesepakatan ini.

Termasuk bagaimana menganalisis efektivitas aksi perubahan iklim di 2023 serta perkembangan proses transfer teknologi. “Ini adalah capaian yang sempurna! Sistem multilateral terbukti berhasil. (Kesepakatan) Ini adalah peta jalan bagi komunitas internasional untuk beraksi lebih serius atasi perubahan iklim,” Patricia Espinosa, Sekretaris Eksekutif UNFCCC.

Redaksi Hijauku.com