Kabar Baik dan Kabar Buruk dalam Laporan Iklim PBB

Kabar baik dan kabar buruk terungkap dalam Laporan Kesenjangan Emisi 2018 atau “2018 Emission Gap” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diluncurkan Selasa, 27 November 2018. Laporan kesenjangan emisi adalah kajian PBB terkait jumlah emisi atau polusi yang perlu dipangkas untuk mencegah pemanasan global dan perubahan iklim. Kabar baiknya, dunia masih bisa mencapai target mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2°C, bahkan 1,5°C! Kabar buruknya, negara-negara dunia harus berupaya sangat keras, meningkatkan upaya mereka tiga kali lipat, untuk mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2°C.

Di tengah ancaman cuaca ekstrem tahun depan yang baru saja dirilis oleh WMO, laporan kesenjangan emisi dari PBB ini menyatakan, emisi atau polusi perubahan iklim terus naik dan tidak ada tanda akan mencapai puncaknya. Hal ini berarti, target penurunan emisi diperkirakan sangat sulit tercapai.

Laporan yang diluncurkan beberapa hari sebelum Konferensi Perubahan Iklim ke-24 (COP24) di Katowice, Polandia ini menyatakan, emisi setara CO2 global mencapai titik historis tertinggi pada 2017, setelah stabil atau tidak mengalami peningkatan dalam 3 tahun sebelumnya.

Jika kesenjangan emisi (emission gap) tidak bisa terkejar pada 2030, target mencegah kenaikan suhu bumi di bawah 2°C akan sangat mustahil (extremly likely) tercapai. Pada 2017 emisi global mencapai 53,5 GtCO2e. Laporan ini menyatakan, hanya ada 57 negara yang menyumbang 60% emisi penyebab perubahan iklim dunia, yang mampu mencapai target penurunan emisi pada 2030.

Dengan kata lain, laporan ini sekaligus menggarisbawahi bahwa komitmen-komitmen nasional di bawah Perjanjian Paris atau Kesepakatan Paris jauh dari cukup (insufficient) untuk mencapai target penurunan emisi iklim. Target penurunan emisi harus naik lima kali lipat untuk mencapai target penurunan suhu bumi di bawah 1,5°C.

Tanpa adanya aksi yang lebih ambisius tersebut, tren kenaikan suhu bumi akan mencapai 3°C pada akhir abad ini, sebuah bencana yang tidak diinginkan oleh semua penduduk di bumi.

Sebelumnya, laporan khusus IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) juga menyeru dunia untuk membatasi kenaikan suhu bumi 1,5°C dalam upaya tiada akhir mengingatkan dunia atas bahaya perubahan iklim.

Menurut IPCC, dengan membatasi kenaikan suhu di 1,5°C, kenaikan air laut dunia akan 10 cm lebih rendah dibanding jika kenaikan suhu di bumi mencapai 2°C. Kenaikan air laut hanyalah salah satu efek merusak yang luar biasa dari perubahan iklim.

UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), Rabu, 10 Oktober 2018 melaporkan, nilai kerugian ekonomi langsung akibat bencana mencapai $2.908 miliar dalam periode 1998-2017. Dari jumlah tersebut, kerugian akibat bencana iklim menempati porsi terbesar yaitu 77% atau setara $2.245 miliar. Nilai kerugian tersebut naik 151% dibanding periode 1978-1997, yang nilanya mencapai $1.313 miliar dengan kerugian akibat bencana iklim sebesar 68% atau $895 miliar.

Jika digabung, bencana akibat perubahan iklim dan geofisika (seperti tsunami dan gempa bumi) telah membunuh 1,3 juta manusia, melukai, merusak, menelantarkan 4,4 miliar jiwa dalam 20 tahun terakhir. Diperlukan aksi pengurangan emisi secara drastis untuk mencegah peristiwa ini terjadi. Bukan basa-basi!

Redaksi Hijauku.com

By |2018-11-29T05:36:28+00:0029 November 2018|Berita, Iklim|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011, kami terus berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *