Terumbu Karang dan Nasib Protein Kita

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok *

Tertanggal 14 November 2018, 8 organisasi internasional telah melakukan kesepakatan untuk bekerja sama dalam menjaga terumbu karang di perairan dunia. Kerja sama tersebut disepakati pada forum UN Biodiversity Conference dengan fokus bahasan “Investing in Biodiversity for People and Planet”. Sebuah forum Internasional di bawah PBB yang dihadiri oleh banyak organisasi di dunia yang fokus pada lingkungan hidup, untuk merumuskan sebuah gagasan maupun narasi yang membuat bumi lebih baik. Berlangsung 14-29 November di Sharm El-Sheik, Mesir.

Koalisi yang bertujuan untuk menjaga ekosistem terumbu karang tersebut terdiri atas UNEP (UN Environment Program), ICRI (The International Coral Reef Initiative), WWF (The World Wildlife Fund), TNC (The Nature Conservacy), WCS (The Wildlife Conservation Society), Vulcan Inc, The Ocean Agency, dan CBD (UN Convention on Biological Diversity).

Direktur Eksekutif dari UN Environment, Erik Solheim menyatakan bahwa eksistensi dari terumbu karang adalah untuk menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dunia bawah laut. Sehingga isu proteksi terumbu karang harus menjadi prioritas global. Pangeran Albert II dari Monaco menyambut baik koalisi ini, sembari menyarankan untuk lebih mempertajam fokus pada strategi efektif dalam konservasi terumbu karang.

Mengacu kepada data dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) pada laporan khusus Global Warming of 1.5oC (SR 15), menyatakan bahwa dari 90 persen terumbu karang yang tersisa di dunia, 70 persen diantaranya akan hilang pada 2050 mendatang. Hal itu ketika seluruh penduduk dunia bekerja sama untuk menjaga temperatur bumi tidak naik melebihi 1.5oC pada masa revolusi industri. Tentu, kondisi yang lebih buruk dapat terjadi bila ketika penduduk dunia tidak bekerja sama dalam isu penting tersebut.

Laporan lebih lanjut menyatakan bahwa ketika dalam setiap tahunnya terus mengalami kehilangan maupun kerusakan habitat terumbu karang, maka usaha untuk menjaga bumi dari perubahan iklim akan sia-sia. Sehingga begitu pentingnya terumbu karang untuk turut menjaga keberlangsungan ekosistem. Dan selama 20 tahun terakhir, penyebab hilangnya habitat terumbu karang diakibatkan oleh pencemaran perairan, perubahan iklim, hingga penangkapan ikan yang menggunakan putas.

Masa Depan Protein Kita

Menjadi sebuah fakta geografis, bahwa Indonesia adalah negara maritim. Selain banyaknya pulau yang dimiliki, garis pantainya pun yang terpanjang kedua setelah Brazil. Tentu kondisi bentang alam sangat menguntungkan kita, dengan didukung oleh Sumber Daya Alam yang melimpah. Namun, seiring perkembangan zaman senantiasa ada tantangan pada rezim yang berkuasa.

4 tahun sudah Indonesia memiliki narasi untuk kembali ke laut, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Melalui program nawacita yang digaungkan, memiliki pesan utama untuk kembali merawat laut kita. Namun, kerusakan lingkungan tetap berjalan ketika kita terus mengeruk kekayaan maritim. Salah satu dampaknya tentu kerusakan terumbu karang. Mayoritas garis pantai yang dimiliki oleh Indonesia mengalami kehilangan terumbu karang.

Akibat yang ditimbulkan tentu hilangnya ekosistem ikan. Beberapa nelayan pun mengeluhkan hal ini. Mereka perlu untuk pergi ke tengah-tengah laut agar bisa melempar jala, mencari tangkapan. Sehingga terkadang, ada beberapa momen ketika cuaca buruk nelayan berhenti melaut. Akibatnya harga ikan di pasaran akan melonjak lantaran suplai yang belum maksimal. Ujungnya adalah masa depan protein kita akan terganggu.

Padahal protein merupakan elemen penting yang dibutuhkan tubuh, untuk mengawal tumbuh kembang anak ke arah yang diharapkan. Kita mengenal protein hewani dan protein nabati. Protein nabati dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, protein hewani dapat diperoleh dari telur, susu, dan ikan. Beberapa studi menyatakan ikan lebih menyehatkan dari pada telur maupun susu. Karena ikan tidak memiliki kandungan lemak jenuh yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu, kandungan omega 3 pada ikan jauh lebih tinggi dari pada sumber protein hewani lainnya. Maka sangat disayangkan apabila sumber protein yang melimpah dari ikan laut hilang lantaran kurangnya kesadaran untuk menjaga ekosistem terumbu karang.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan melakukan konservasi terumbu karang nasional. Bekerja sama dengan BKSDA, organisasi yang bergerak dalam lingkungan hidup, sampai kebijakan pemerintah.  Tentu, yang paling penting dari itu semua adalah peran pemudanya yang tumbuh melalui pemahaman bahwa terumbu karang sangatlah penting dalam menjaga pasokan ikan serta protein di masa-masa yang akan datang.

–##–

* Mahasiswa S1 Fisika Universitas Airlangga yang peduli dengan isu lingkungan hidup dan perubahan iklim. Penerima Fellowship Environmental Journalism, Climate Tracker di Medan.

By |2018-11-22T09:11:49+00:0022 November 2018|Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011, kami terus berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *