Transportasi Hijau ala Poitiers - Vitalis PoitiersOleh: Venty Muliana Sari Soeroso*

Ekologi dan gaya hidup sehat masih jadi isu yang hangat di Prancis. Pemerintah terus mempromosikan dan menghimbau warganya untuk beralih pada green lifestyle, di berbagai lini kehidupan.

Sebut saja berbagai produk Bio (bahan makanan organik) yang kini makin banyak meramaikan pusat-pusat perbelanjaan. Promosi penggunaan mobil listrik, pembangunan fasilitas pengisian listrik yang semakin bertambah, optimasi penggunaan energi matahari, angin dan air serta penetapan regulasi yang rumit untuk pendirian sebuah restoran fast food yang menjadikan kita tidak mudah menemui restoran semacam ini di Prancis.

Dengan adanya serangan “Musim Aneh” atau fenomena cuaca yang kurang wajar yang mewarnai berbagai belahan Prancis dan Eropa, upaya untuk mengerem laju global warming akan semakin ditingkatkan ke depannya.

Fenomena tersebut antara lain dimulai dari memanjangnya masa musim dingin sehingga pemakaian pemanas ruangan harus diperpanjang sekitar satu bulan, turunnya salju di akhir musim semi menjelang musim panas, banjir bandang yang melanda daerah pegunungan sekitar perbatasan Prancis-Spanyol, badai angin dan hujan di tengah musim panas serta fenomena hujan es yang baru saja terjadi di Prancis bagian utara, juga di tengah teriknya mentari musim panas.

Di kala kota-kota lain menggalakkan moda transportasi ramah lingkungan dengan cara mengalihkan penggunaan kendaraan bermotor ke kendaraan rendah polusi, Poitiers juga tidak mau kalah.

Kota pemerintahan di barat daya Prancis ini telah mempromosikan penggunaan sepeda pada masyarakatnya sejak tahun 1998. Sebuah badan pemerintahan aglomerasi, Grand Poitiers telah mendirikan sebuah wadah yang bertujuan untuk memfasilitasi penyewaan sepeda dengan harga yang terjangkau bahkan dapat dikatakan ekonomis untuk warganya, bernama CAP sur le vélo.

Kurang lebih 580 sepeda baik sepeda standar maupun sepeda listrik yang tersedia dan siap disewakan. Kita dapat memilih menyewa harian, mingguan maupun bulanan dengan syarat yang cukup ringan. Kenapa menyewa sepeda? Padahal membeli sendiri tentu amat mampu dilakukan oleh orang Prancis. Jawabannya karena dengan menyewa sepeda, kita tidak perlu direpotkan oleh perihal perawatan dan perbaikan sepeda. Sebagai informasi, di kota ini dan di beberapa kota kecil lainnya di Perancis, keberadaan sebuah bengkel sepeda amatlah sulit untuk ditemui atau dapat dikatakan tidak ada, pun untuk sebuah kota tetangga Poitiers yang notabene sebagian besar warganya telah menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, kota La Rochelle.

Memiliki sepeda pribadi di Perancis berarti kita juga harus memiliki sendiri fasilitas penunjang untuk kelancaran bersepeda, seperti yang sangat krusial adalah pompa sepeda, ban cadangan dan kampas rem. Tentunya juga sedikit banyak harus mengetahui cara-cara untuk bagaimana memompa ban sepeda, memperbaiki rantai, mengganti kampas rem dan perawatan rutin sepeda. Pastinya hal tersebut terasa tidak praktis bagi siapa saja yang hanya memiliki sedikit waktu akibat banyaknya pekerjaan. Seperti kita ketahui, bangsa Prancis sangat dikenal sebagai seseorang yang workaholic dan tidak mau kehilangan waktunya untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan.

Bagi sebagian orang yang memang hobi bersepeda, hal ini tentunya bukan suatu masalah, bahkan mungkin jadi sumber kesenangan tersendiri dalam “mengutak-atik” sepedanya, namun bagi sebagian yang lain hal ini malah bisa menjadi sumber kerepotan yang harus dihadapi.

Tantangan berikutnya bagi para bikers di Poitiers adalah kontur tanahnya yang berbukit-bukit. Kondisi jalan yang sempit dan dipenuhi banyak tanjakan dan turunan ini mengingatkan saya pada kondisi kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang tidak mengenal becak sebagai salah satu alat transportasi umumnya.

Perlu kondisi fisik yang prima untuk dapat pulang pergi dari suatu tempat, misalnya dari area tengah kota ke kampus yang terletak agak di pinggiran kota. Bukan hanya karena jarak, tetapi juga karena untuk menuju kesana kita harus melewati sekitar 2-3 km jalan yang menanjak. Begitu pula dengan minimnya keberadaan fasilitas parkir sepeda dan jalur sepeda yang seringkali sejalur dengan milik bus umum, akibatnya kita harus sangat berhati-hati jika berpapasan dengan bus.

Hal ini kiranya menyebabkan pengguna sepeda di Poitiers tergolong sedikit dibandingkan jika saya mengunjungi kota lain seperti Lyon, La Rochelle, Mulhouse dan Paris. Pengalihan moda transportasi yang jadi pilihan kemudian adalah pengurangan volume kendaraan pribadi di tengah kota dan beralih menjadi pengguna transportasi umum yang menggunakan bahan bakar rendah emisi.

Untuk tujuan itu, pemerintah Poitiers menyediakan sebuah lahan parkir mobil gratis yang berada di satu area dengan halte bus besar yang melayani trayek-trayek utama pada beberapa titik strategis kota, yang disebut dengan Parcobus. Dimana 71 dari 113 bus yang beroperasi menggunakan bahan bakar gas alam dan 1 bus merupakan bus diesel-electric hybrid.

Berhubung Poitiers merupakan ibu kota départemen de la Vienne sekaligus ibu kota régio Poitou-Charentes serta pusat kota aglomerasi Grand Poitiers, maka tidak sedikit para pekerja disana yang berasal atau tinggal di kota-kota lain seputar Poitiers. Belum lagi kendala lahan parkir di tengah kota yang jumlahnya kurang mencukupi kebutuhan pengendara mobil, sehingga keberadaan transportasi yang praktis dan mengakses hampir semua tempat-tempat sibuk di pusat kota menjadi suatu kebutuhan.

Terdapat 3 Parcobus yang tersedia di sini, Parcobus Champlain yang berada di sebelah tenggara, Parcobus Parc Expo yang berada di sebelah timur dan Parcobus Demi-Lune yang berada di sebelah barat laut kota Poitiers, dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit menuju pusat kota.

Selain fasilitas parkir gratis, para pengguna Parcobus juga dapat menikmati fasilitas tiket bus berlangganan dengan harga ekonomis. Beberapa paket tersedia dan dapat dipilih sesuai kebutuhan. Paket kartu bulanan, tiga bulanan, maupun tahunan, semakin memudahkan pengguna Parcobus mendukung perubahan baik ini. Pun hingga saat ini, berbagai perkembangan dan perbaikan terus dilakukan oleh Vitalis sebagai perusahaan penyedia layanan bus multimodalité tersebut sehingga semakin meningkatkan minat masyarakat beralih pada transportasi umum.

Akhirnya, keberadaan Parcobus merupakan salah satu solusi hijau yang logis untuk diterapkan di Poitiers dengan segala karakteristik khasnya.

*dr. Venty Muliana Sari Soeroso adalah penerima Beasiswa Unggulan Diknas 2012/2013 yang tengah menyelesaikan program Master 2 Recherche et Ingenierie en Biosante di Universite de Poitiers, yang terletak di barat daya Perancis.