<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:ymaps="http://api.maps.yahoo.com/Maps/V2/AnnotatedMaps.xsd">

<channel>
	<title>Hijauku.com &#124; Situs Hijau Indonesia &#187; Teknologi</title>
	<atom:link href="http://www.hijauku.com/category/teknologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hijauku.com</link>
	<description>Sumber Berita, Analisis, Informasi dan Inspirasi Lingkungan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Jun 2013 09:45:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Laut Menghangat Lapisan Es Menipis</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/06/15/laut-menghangat-lapisan-es-menipis/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/06/15/laut-menghangat-lapisan-es-menipis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jun 2013 06:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Antartika]]></category>
		<category><![CDATA[Benua]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Es]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[Lapisan Es]]></category>
		<category><![CDATA[Mencair]]></category>
		<category><![CDATA[Nasa]]></category>
		<category><![CDATA[Peneilitian]]></category>
		<category><![CDATA[Survei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=15167</guid>
		<description><![CDATA[Mencairnya es di bawah permukaan air laut menjadi penyebab utama hilangnya massa es di benua Antartika.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/06/15/laut-menghangat-lapisan-es-menipis/' addthis:title='Laut Menghangat Lapisan Es Menipis '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/06/15/laut-menghangat-lapisan-es-menipis/penguins-in-a-row-vassil-tzvetanov/" rel="attachment wp-att-15168"><img class="alignleft size-full wp-image-15168" style="margin: 5px 10px;" title="Penguins in a row - Vassil Tzvetanov" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/06/Penguins-in-a-row-Vassil-Tzvetanov.jpg" alt="" width="431" height="281" /></a>Mencairnya es di bawah permukaan air laut menjadi penyebab utama hilangnya massa es di benua Antartika. Pemicunya adalah kenaikan suhu air laut yang dipicu oleh pemanasan global dan perubahan iklim. Fenomena ini terungkap dari hasil penelitian tim NASA dibantu oleh tim peneliti dari berbagai universitas yang <a href="http://www.nasa.gov/topics/earth/features/earth20130613.html">dirilis</a> Kamis (13/6).</p>
<p>Penelitian ini adalah survei komprehensif pertama terkait lapisan es di Antartika. Tim peneliti menemukan, proses mencairnya es dari bawah lapisan es (basal melt) menyumbang 55% berkurangnya massa es di Antartika antara tahun 2003 hingga tahun 2008. Angka ini lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.</p>
<p>Benua Antartika menyimpan 60% air tawar bumi yang terkunci dalam bentuk lapisan es yang sangat luas. Lapisan es ini juga yang menyokong sungai-sungai es di sekitarnya, mengatur kecepatan aliran sungai es ke samudra.</p>
<p>Mengetahui bagaimana lapisan es ini mencair membantu ilmuwan meramalkan dampak kenaikan suhu yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut di benua ini. Hasil penelitian ini juga akan membantu memahami model sirkulasi air laut sehingga memermudah meramalkan kenaikan volume air di wilayah pesisir Antartika.</p>
<p>Tim peneliti membaca ketebalan lapisan es dengan bantuan satelit dan melalui pengamatan udara. Tim juga merekonstruksi bagaimana es terakumulasi. &#8220;Menurut teori tradisional, hilangnya massa es di Antartika dipicu oleh runtuhnya gunung es,&#8221; ujar Eric Rignot dari Jet Propulsion Laboratory, laboratorium milik NASA di Pasadena, California. &#8220;Penelitian kami mengungkapkan, mencairnya es dari bawah permukaan air laut berperan lebih besar. Hal ini mengubah pandangan kita mengenai evolusi lapisan es di bumi yang makin hangat.&#8221;</p>
<p>Massa es yang hilang melalui proses pencairan es di bawah permukaan laut (basal melt) mencapai 1.325 triliun kilogram es per tahun pada periode 2003-2008. Sementara massa es yang hilang akibat perubahan formasi es mencapai 1.089 triliun kilogram per tahun pada periode yang sama. &#8220;Di sejumlah tempat di sekitar Antartika, lapisan es mencair lebih cepat sehingga tidak hanya sungai-sungai es yang berubah, seluruh benua Antartika juga berubah,&#8221; ujar Rignot.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/06/15/laut-menghangat-lapisan-es-menipis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>34.1477849 -118.1445155</georss:point><geo:lat>34.1477849</geo:lat><geo:long>-118.1445155</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Internet Lebih Ramah Lingkungan?</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/06/14/benarkah-internet-lebih-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/06/14/benarkah-internet-lebih-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jun 2013 06:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Berkeley Lab]]></category>
		<category><![CDATA[Cloud]]></category>
		<category><![CDATA[Cloud Computing]]></category>
		<category><![CDATA[Hemat Biaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hemat energi]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Ramah lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=15158</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa besar penghematan energi dan biaya yang bisa dicapai melalui bantuan Internet?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/06/14/benarkah-internet-lebih-ramah-lingkungan/' addthis:title='Benarkah Internet Lebih Ramah Lingkungan? '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/06/14/benarkah-internet-lebih-ramah-lingkungan/internet-techhive/" rel="attachment wp-att-15159"><img class="alignleft  wp-image-15159" style="margin: 5px 10px;" title="Internet - TechHive" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/06/Internet-TechHive.jpg" alt="" width="406" height="242" /></a>Sudah sering kita dengar bahwa Internet membantu perusahaan menghemat energi dan biaya. Namun seberapa besar penghematan energi dan biaya yang bisa dicapai melalui bantuan Internet?</p>
<p>Penelitian <a href="http://newscenter.lbl.gov/news-releases/2013/06/11/berkeley-lab-study-finds-moving-select-computer-services-to-the-cloud-promises-significant-energy-savings/">terbaru</a> dari Lawrence Berkeley National Laboratory (Berkeley Lab) berupaya mengungkap manfaat ekonomi dan penghematan energi dari peralihan ke fasilitas penyimpanan dan program di dunia maya (cloud) ini.</p>
<p>Dalam penelitian selama enam bulan yang didanai oleh Google ini terungkap, mengalihkan aplikasi peranti lunak yang dipakai bersama oleh 86 juta pekerja di AS ke jaringan Internet (<em>cloud</em>) akan menghemat listrik setara dengan kebutuhan listrik Los Angeles selama setahun.</p>
<p>Laporan yang disusun bersama tim peneliti dari Northwestern University ini meneliti tiga aplikasi bisnis yang biasa dipakai oleh perusahaan yaitu aplikasi email, peranti lunak untuk melayani pelanggan (CRM) dan peranti lunak pengolah kata dan data.</p>
<p>Dengan mengalihkan semua aplikasi peranti lunak dari sistem komputer lokal ke layanan komputasi awan (<em>cloud computing</em>) yang tersentralisasi, konsumsi energi di industri teknologi informasi akan mampu dipangkas hingga 87% — sekitar 23 miliar KWh. Nilai penghematan energi ini setara dengan kebutuhan energi untuk memasok rumah tangga, bisnis dan industri di Los Angeles selama setahun.</p>
<p>Menurut tim peneliti, penelitian ini adalah langkah awal penting guna menganalisis dampak lingkungan dari fasilitas komputasi awan (<em>cloud computing</em>) di Amerika Serikat dan mereka saat ini tengah memersiapkan laporan yang sama menggunakan data-data dari negara di Eropa yang akan dirilis pada akhir tahun ini.</p>
<p>Penelitian ini juga merupakan penelitian pertama yang berhasil mengembangkan model canggih untuk menganalisis kebutuhan energi dan produksi emisi yang bisa dipakai dengan mudah baik oleh peneliti maupun masyarakat umum. Model ini bisa diakses secara gratis di sini: <a href="http://cleermodel.lbl.gov">Internet Efficiency</a>.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/06/14/benarkah-internet-lebih-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>37.871953 -122.2600594</georss:point><geo:lat>37.871953</geo:lat><geo:long>-122.2600594</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Tujuh Rekomendasi Atasi Krisis Lingkungan</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/06/03/tujuh-rekomendasi-atasi-krisis-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/06/03/tujuh-rekomendasi-atasi-krisis-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jun 2013 14:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></category>
		<category><![CDATA[Konsensus]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[UC Berkeley]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14958</guid>
		<description><![CDATA[Hasil penelitian yang rumit tak bisa menjadi solusi mengatasi masalah lingkungan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/06/03/tujuh-rekomendasi-atasi-krisis-lingkungan/' addthis:title='Tujuh Rekomendasi Atasi Krisis Lingkungan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/06/03/tujuh-rekomendasi-atasi-krisis-lingkungan/nasa-earth-from-outer-space-john-lemon/" rel="attachment wp-att-14959"><img class="alignleft  wp-image-14959" style="margin: 5px 10px;" title="NASA - Earth from Outer Space - John Lemon" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/06/NASA-Earth-from-Outer-Space-John-Lemon.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a>Hasil penelitian yang rumit tak bisa menjadi solusi mengatasi masalah lingkungan global. Sebaliknya peneliti kini dituntut untuk membuat panduan ilmiah yang tegas dan mudah dipahami yang bisa membantu dunia atasi masalah lingkungan dan perubahan iklim.</p>
<p>Prinsip inilah yang menjadi landasan aksi 520 ilmuwan dari 44 negara, termasuk dua peraih hadiah nobel dan 33 anggota National Academy of Sciences Amerika Serikat, untuk berkumpul di NASA Ames Research Center di Mountain View, California akhir bulan lalu.</p>
<p>Bersama-sama mereka mengidentifikasi lima masalah utama yang mengancam kelestarian ekosistem di bumi. Masalah pertama adalah perubahan iklim yang telah memicu kenaikan suhu dan permukaan air laut serta mengubah pola cuaca secara dramatis. Masalah kedua adalah ancaman musnahnya spesies baik tanaman maupun hewan. Persoalan ketiga adalah kerusakan ekosistem yang terus terjadi di seluruh penjuru bumi. Masalah keempat adalah bertambahnya populasi dunia, dan masalah kelima adalah polusi.</p>
<p>Guna mengatasi semua masalah tersebut mereka menghasilkan konsensus sebanyak 30 halaman berjudul, “Maintaining Humanity’s Life Support Systems in the 21st Century&#8221;. Dengan ini, &#8220;kami mengirimkan alarm kepada dunia,&#8221; tulis para ilmuwan di dalam sambutan konsensus ini.</p>
<p>Konsensus ini berisi tujuh rekomendasi mengatasi lima masalah lingkungan terbesar dunia. Aksi ini sekaligus menjawab kritik yang menyatakan bahwa hasil riset ilmiah dan penemuan para ilmuwan sulit untuk dipahami oleh industri, pembuat kebijakan dan masyarakat umum. &#8220;Dalam konsensus ini, kami, 520 ilmuwan dari seluruh dunia, membuat rekomendasi tegas yang bisa menjadi panduan bagi para pembuat kebijakan lingkungan,” ujar Anthony Barnosky, Profesor di UC Berkeley sebagai mana dikutip dalam <a href="http://newscenter.berkeley.edu/2013/05/23/worlds-top-scientists-california-nations-must-act-now-on-environment/">berita</a> universitas.</p>
<p><strong>Rekomendasi pertama</strong> adalah mengurangi dampak perubahan iklim dengan menekan emisi gas rumah kaca dan bersiap melakukan mitigasi perubahan iklim. Dalam tataran praktis, konsensus ini meminta dunia untuk mengganti bahan bakar fosil dengan sumber energi bersih dan terbarukan, seperti energi matahari, angin dan bahan bakar nabati.</p>
<p>Konsensus ini juga menyarankan dunia untuk terus memromosikan efisiensi energi pada bangunan, sektor transportasi dan industri manufaktur. Dunia juga harus menjaga hutan dan mengatur penggunaan lahan yang akan memaksimalkan fungsi jasa ekosistem dan penyerapan karbon. Membuat rencana untuk mengatasi dampak perubahan iklim &#8211; seperti kenaikan air laut dan perubahan pola produktivitas pertanian &#8211; juga harus menjadi prioritas.</p>
<p><strong>Rekomendasi kedua</strong>, menghentikan rusak dan hilangnya keanekaragaman hayati. Caranya dengan menonjolkan manfaat ekonomi dari upaya perlindungan ekosistem alami dan manfaat dari upaya pencegahan peningkatan keasaman air laut, eksploitasi perikanan dan alih guna hutan.</p>
<p><strong>Rekomendasi ketiga</strong> adalah mengurangi dan mencegah pelepasan bahan-bahan kimia beracun ke lingkungan melalui penciptaan regulasi dan pengembangan produk-produk kimia baru &#8211; melalui riset ilmiah &#8211; yang lebih ramah lingkungan.</p>
<p><strong>Rekomendasi keempat</strong>, mencegah dan memerlambat alih guna lahan yang telah mengubah 40% wajah permukaan bumi menjadi lahan pertanian, peternakan, kota dan wilayah kumuh. Hal ini bisa diraih melalui upaya peningkatan efisiensi produksi pangan di wilayah pertanian, memerbaiki distribusi pangan sekaligus mengurangi limbah makanan.</p>
<p><strong>Rekomendasi kelima</strong> adalah memacu tingkat pertumbuhan di perkotaan dan mencegah terciptanya kawasan pemukiman kumuh guna menjaga ruang alami yang berfungsi menopang jasa lingkungan seperti menjaga kualitas air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.</p>
<p><strong>Rekomendasi keenam</strong> adalah memerlambat dan menghentikan pertumbuhan populasi dunia maksimal tidak lebih dari 9 miliar jiwa dan menguranginya menjadi 7 miliar jiwa pada 2100. Caranya adalah dengan memastikan akses ke edukasi, peluang ekonomi dan layanan kesehatan, termasuk layanan keluarga berencana dengan perhatian khusus pada hak-hak perempuan.</p>
<p><strong>Rekomendasi ketujuh</strong>, mengurangi eksploitasi sumber daya alam terutama di negara maju dengan cara memromosikan perubahan perilaku konsumsi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p>
<p>Semua rekomendasi tersebut bisa dibaca dalam situs <a href="http://mahb.stanford.edu/consensus-statement-from-global-scientists/">Millennium Alliance for Humanity and the Biosphere</a> (MAHB). &#8220;Cara kita melakukan mitigasi dan mengelola dampak lingkungan yang saling terkait ini akan menentukan kualitas hidup manusia pada dekade-dekade mendatang,&#8221; ujar Barnosky.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/06/03/tujuh-rekomendasi-atasi-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>37.8717443 -122.2609626</georss:point><geo:lat>37.8717443</geo:lat><geo:long>-122.2609626</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Global Akan Lampaui 2 Derajat Celcius</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/31/pemanasan-global-akan-lampaui-2-derajat-celcius/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/31/pemanasan-global-akan-lampaui-2-derajat-celcius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 May 2013 14:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[2 Derajat Celcius]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Emisi Gas Rumah Kaca]]></category>
		<category><![CDATA[Naik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Suhu bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Victoria University]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14916</guid>
		<description><![CDATA[Tim peneliti dari Australia berhasil memersempit ruang prediksi pemanasan global dan perubahan iklim.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/31/pemanasan-global-akan-lampaui-2-derajat-celcius/' addthis:title='Pemanasan Global Akan Lampaui 2 Derajat Celcius '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/31/pemanasan-global-akan-lampaui-2-derajat-celcius/stop-global-warming-wikimedia-commons/" rel="attachment wp-att-14917"><img class="alignleft  wp-image-14917" style="margin: 5px 10px;" title="Stop Global Warming - Wikimedia Commons" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/Stop-Global-Warming-Wikimedia-Commons.jpg" alt="" width="400" height="254" /></a>Tim peneliti dari Australia berhasil memersempit ruang prediksi pemanasan global dan perubahan iklim. Dalam <a href="http://www.vu.edu.au/news-events/media-releases/researchers-narrow-global-warming-range">penelitian terbaru</a> yang dirilis Senin (27/5), Dr Roger Bodman dari Victoria University dan Professor David Karoly dan Peter Rayner dari University of Melbourne telah menghasilkan apa yang mereka klaim sebagai prediksi peningkatan suhu bumi yang lebih akurat pada 2100.</p>
<p>Hasil penelitian mereka yang telah diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change menyimpulkan, kenaikan suhu bumi melampaui 6 derajat Celcius pada akhir abad ini tidak akan terjadi. Namun tim peneliti menyimpulkan, kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat Celcius kemungkinan besar akan terjadi jika dunia tidak mampu secara drastis mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca.</p>
<p>Kesimpulan ini diambil melalui metode baru yang menggabungkan pengamatan emisi CO2 dan variasi suhu global menggunakan simulasi perubahan iklim sederhana guna memrediksi peningkatan suhu bumi pada masa datang.</p>
<p>Menurut Profesor Karoly, hasil penelitian ini semakin memerkuat urgensi aksi yang tegas guna mengatasi perubahan iklim. &#8220;Hasil penelitian kami menegaskan kembali pentingnya upaya pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan guna meminimalisir bahaya perubahan iklim dan mencegah kenaikan suhu bumi di atas target 2 derajat Celcius,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dr Bodman adalah peneliti dari Centre for Strategic Economic Studies di Victoria University, sementara Profesor Karoly dan Professor Rayner bekerja di School of Earth Sciences dan ARC Centre of Excellence for Climate System Science di University of Melbourne.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/31/pemanasan-global-akan-lampaui-2-derajat-celcius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>-37.4713077 144.7851531</georss:point><geo:lat>-37.4713077</geo:lat><geo:long>144.7851531</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Terumbu Karang Hasilkan Energi</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/30/selamatkan-karang-hasilkan-energi/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/30/selamatkan-karang-hasilkan-energi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 May 2013 12:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Air Laut]]></category>
		<category><![CDATA[CO2]]></category>
		<category><![CDATA[Emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Hidrogen]]></category>
		<category><![CDATA[Keasaman]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Penangkapan]]></category>
		<category><![CDATA[Santa Cruz]]></category>
		<category><![CDATA[University of California]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14899</guid>
		<description><![CDATA[Ilmuwan temukan teknik penangkapan karbon baru yang mampu hasilkan energi sekaligus mengurangi keasaman air laut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/30/selamatkan-karang-hasilkan-energi/' addthis:title='Selamatkan Terumbu Karang Hasilkan Energi '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/30/selamatkan-karang-hasilkan-energi/coral-reef-at-palmyra-u-s-fish-wildlife-service/" rel="attachment wp-att-14900"><img class="alignleft  wp-image-14900" style="margin: 5px 10px;" title="Coral reef at Palmyra - U.S. Fish &amp; Wildlife Service" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/Coral-reef-at-Palmyra-U.S.-Fish-Wildlife-Service.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a>Ilmuwan dari University California Santa Cruz berhasil mengembangkan teknik penangkapan karbon baru yang mampu menghasilkan energi sekaligus mengurangi keasaman air laut. Hal ini terungkap dari <a href="http://news.ucsc.edu/2013/05/carbon-capture.html">berita</a> UC Santa Cruz yang dirilis Selasa (28/5).</p>
<p>Teknik penangkapan karbon baru ini mampu menghilangkan dan menyerap karbon di atmosfer, pada saat yang sama menghasilkan hidrogen yang memiliki kandungan karbon negatif yang bisa dipakai untuk mengurangi keasaman air laut.</p>
<p>Penelitian yang dipimpin oleh Greg Rau, ilmuwan senior di Institute of Marine Sciences, UC Santa Cruz ini berhasil mendemonstrasikan metode mereka dalam skala laboratorium. Sistem ini menggunakan zat asam yang biasa dihasilkan dalam proses elektrolisis air asin guna memercepat pelarutan mineral silikat dan memroduksi hidrogen serta gas-gas lain. Konsentrasi hidroksida dalam larutan elektrolit ini terus meningkat dan mampu menyerap serta menyimpan CO2 yang ada di atmosfer.</p>
<p>Tim peneliti juga menemukan bahwa karbonat dan bikarbonat yang dihasilkan dalam proses ini bisa dipakai untuk mengurangi keasaman air laut layaknya obat antasid yang bisa menetralkan asam lambung.</p>
<p>&#8220;Kami tidak hanya menemukan cara menghilangkan serta menyimpan CO2 dari atmosfer namun juga menemukan teknik untuk menyelamatkan ekosistem laut sekaligus memroduksi hidrogen yang berharga,&#8221; ujar Rau, yang memimpin penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini.</p>
<p>CO2 yang terlepas ke atmosfer, sebagian besar diserap oleh samudra membentuk asam karbon yang membuat laut semakin asam. Peningkatan keasaman air laut ini sudah terbukti merugikan banyak spesies laut terutama koral dan hewan bercangkang.</p>
<p>Ilmuwan telah memerkirakan, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer akan memicu kenaikan suhu bumi setidaknya 2 derajat Celsius dan keasaman air laut hingga 60% pada pertengahan abad ini. Cairan alkali yang dihasilkan dalam teknik baru ini bisa ditambahkan ke dalam samudra guna menetralisir keasaman air laut sekaligus menyelamatkan biota laut. Tim peneliti akan terus mengevaluasi hasil penelitian ini agar bisa diterapkan dalam skala yang lebih besar.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/30/selamatkan-karang-hasilkan-energi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>36.9741171 -122.0307963</georss:point><geo:lat>36.9741171</geo:lat><geo:long>-122.0307963</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Gedung Hemat Energi Bikin Hoki</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/28/hemat-energi-gedung-bikin-untung/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/28/hemat-energi-gedung-bikin-untung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 May 2013 16:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Efisiensi]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung]]></category>
		<category><![CDATA[Penghematan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14870</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian terbaru di Amerika Serikat mengungkap manfaat ekonomi dari upaya penghematan energi pada bangunan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/28/hemat-energi-gedung-bikin-untung/' addthis:title='Gedung Hemat Energi Bikin Hoki '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/28/hemat-energi-gedung-bikin-untung/new-york-city-building-patrick-gruban-2/" rel="attachment wp-att-14871"><img class="alignleft  wp-image-14871" style="margin: 5px 10px;" title="New York City building - Patrick Gruban" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/New-York-City-building-Patrick-Gruban.jpg" alt="" width="400" height="276" /></a>Penduduk Amerika Serikat menghabiskan $432 miliar per tahun untuk membayar biaya energi bangunan rumah, toko dan kantor mereka. Biaya ini setara dengan biaya asuransi kesehatan yang harus dibayar oleh semua perusahaan di AS.</p>
<p><a href="http://naturalleader.com/pdf/RHG_UnlockingAmericanEfficiency_May2013-v4.pdf">Penelitian terbaru</a> dari United Technologies Corporation bekerja sama dengan Rhodium Group mengungkapkan, jika pemerintah, pebisnis dan rumah tangga mau menghemat energi menggunakan desain dan teknologi yang ada saat ini, mereka akan mampu menghemat biaya hingga $65 miliar per tahun. Kedua lembaga ini meneliti dampak dari target efisiensi energi bangunan di Amerika Serikat sebesar 30% hingga 2030.</p>
<p>Menggunakan bahasa finansial perusahaan, penghematan energi bangunan sebesar 30% ini juga akan mampu meningkatnya imbal hasil internal atau internal rate of return (IRR) sebesar 28,6% dalam waktu 10 tahun.</p>
<p>Imbal hasil ini lebih tinggi empat kali lipat jika dibanding imbal hasil surat berharga seperti obligasi atau imbal hasil rata-rata saham, dan dua kali lipat lebih banyak dibanding keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan modal ventura (venture capital firms).</p>
<p>Hal ini karena harga rancangan dan teknologi efisiensi energi yang ada saat ini sudah bersaing dengan harga produk konvensional. Manfaat lain, teknologi efisiensi modern mampu menghemat biaya energi secara signifikan.</p>
<p>Apalagi ditambah dengan ancaman peningkatan harga energi. Menghemat energi pada bangunan hingga 30% bisa mengurangi biaya energi rumah tangga hingga $163 per tahun. Jika penggunaan energi pada rumah tangga dan bisnis digabung, manfaat dari peningkatan efisiensi ini bisa mencapai $466 per tahun.</p>
<p>Penghematan itu dua kali lipat biaya yang dikeluarkan ibu-ibu untuk membeli sayuran segar. Angka itu juga lebih banyak dibandingkan biaya untuk membeli peralatan rumah tangga, furnitur, pakaian anak-anak, dan setara dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan baik obat resep maupun obat yang dijual bebas.</p>
<p>Pemerintah federal, pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal di AS menghabiskan lebih dari $50 miliar per tahun untuk biaya energi. Jika mereka mampu menghemat energi pada gedung-gedung pemerintah sebesar 30%, AS akan mampu menghemat hingga $8 miliar per tahun yang bisa digunakan untuk menyeimbangkan anggaran sekaligus memotong pajak.</p>
<p>Di seluruh dunia, upaya penghematan energi pada bangunan bisa menciptakan pasar desain dan teknologi bangunan hemat energi senilai $1.8 triliun. Investasi pada teknologi penghemat energi ini juga akan membuat perusahaan manapun lebih kompetitif. Mari memerbanyak gedung yang hemat energi.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/28/hemat-energi-gedung-bikin-untung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>41.7637111 -72.6850932</georss:point><geo:lat>41.7637111</geo:lat><geo:long>-72.6850932</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Bencana di Fukushima</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/27/belajar-dari-bencana-di-fukushima/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/27/belajar-dari-bencana-di-fukushima/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 May 2013 23:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Bocor]]></category>
		<category><![CDATA[Fukushima]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[IAEA]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[Nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Radiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga]]></category>
		<category><![CDATA[Tsunami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14608</guid>
		<description><![CDATA[Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta pemerintah Jepang meneruskan upaya menon-aktifkan rektor nuklir mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/27/belajar-dari-bencana-di-fukushima/' addthis:title='Belajar dari Bencana di Fukushima '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/27/belajar-dari-bencana-di-fukushima/peace-cranes-on-melbourne-post-office-for-fukushima-victims-takver/" rel="attachment wp-att-14609"><img class="alignleft  wp-image-14609" style="margin: 5px 10px;" title="Peace cranes on Melbourne post office steps for Fukushima victims - Takver" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/Peace-cranes-on-Melbourne-post-office-for-Fukushima-victims-Takver.jpg" alt="" width="450" height="301" /></a>Kajian International Atomic Energy Agency (IAEA), lembaga tenaga nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta pemerintah Jepang meneruskan upaya menon-aktifkan reaktor nuklir mereka.</p>
<p>Hal ini terungkap dalam <a href="http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=44992&amp;Cr=nuclear&amp;Cr1=#.UaKMnECXSSp">laporan IAEA</a> yang dirilis Jum&#8217;at (24/5). Walau Jepang telah berhasil menyetabilkan reaktor nuklirnya pasca bencana gempa bumi dua tahun yang lalu, masih banyak masalah yang harus dibereskan sebelum Jepang bisa menon-aktifkan reaktornya.</p>
<p>“Laporan final kami menyatakan, Jepang telah berhasil menyetabilkan fasilitas pendinginan inti dan penyimpanan bahan bakar reaktor,” ujar Direktur Divisi Siklus Bahan Bakar Nuklir dan Teknologi Limbah dari IAEA, Juan Carlos Lentijo sebagaimana dikutip dalam berita PBB.</p>
<p>“Namun pencemaran air masih terus berlangsung memengaruhi stabilitas reaktor. Masalah ini harus diselesaikan dalam waktu yang singkat sebelum upaya pemulihan dan penon-aktifan reaktor bisa dimulai.”</p>
<p>Pada Maret 2011, bencana gempa bumi berkekuatan 9,0 skala Ritcher melanda Jepang, memicu tsunami dan memakan korban lebih dari 20.000 jiwa di wilayah bagian timur Jepang.</p>
<p>Tsunami juga menghantam pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi merusak sistem pendinginan dan memicu mencairnya bahan bakar di tiga dari enam reaktor yang ada di pembangkit tersebut. Kecelakaan ini ditasbihkan sebagai kecelakaan nuklir terburuk pasca bencana Chernobyl pada 1986.</p>
<p>Merespon krisis ini sebanyak 13 orang ahli IAEA mengunjungi Jepang pada April. Mereka mencek kondisi reaktor dan bertemu dengan pejabat pemerintah Jepang di Tokyo. Misi ini adalah bagian dari upaya PBB memastikan keamanan jaringan pembangkit nuklir global dan menjadikan bencana ini sebagai pelajaran bersama untuk menghindari krisis yang sama terjadi pada masa datang.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/27/belajar-dari-bencana-di-fukushima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>37.7608337 140.4747282</georss:point><geo:lat>37.7608337</geo:lat><geo:long>140.4747282</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Kuno Perkuat Bukti Pemanasan Global</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/25/ekspedisi-kuno-perkuat-bukti-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/25/ekspedisi-kuno-perkuat-bukti-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 May 2013 09:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspedisi Challanger]]></category>
		<category><![CDATA[Es Mencair]]></category>
		<category><![CDATA[HMS Challanger]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan Air laut]]></category>
		<category><![CDATA[Nasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Suhu bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14590</guid>
		<description><![CDATA[Ekspedisi yang dilakukan 135 tahun lalu berhasil memerkuat bukti perubahan iklim dan pemanasan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/25/ekspedisi-kuno-perkuat-bukti-pemanasan-global/' addthis:title='Ekspedisi Kuno Perkuat Bukti Pemanasan Global '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/25/ekspedisi-kuno-perkuat-bukti-pemanasan-global/hms-challenger-1858-wikimedia-commons/" rel="attachment wp-att-14594"><img class="alignleft  wp-image-14594" style="margin: 5px 10px;" title="HMS Challenger 1858 - Wikimedia Commons" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/HMS-Challenger-1858-Wikimedia-Commons.jpg" alt="" width="450" height="309" /></a>Kapal layar bertiang tiga ini memang tak secanggih Rainbow Warrior &#8211; kapal milik Greenpeace yang awal bulan ini masuk ke Indonesia. Namun data-data yang dihasilkan oleh ekspedisi kapal ini 135 tahun yang lalu, berhasil memerkuat bukti perubahan iklim dan pemanasan global.</p>
<p>Kapal itu bernama HMS Challenger. Bersama ratusan awak dan peneliti, HMS Challenger berkeliling dunia selama 4 tahun dari tahun 1872-1876 dalam ekspedisi yang dijuluki dengan nama yang sama yaitu ekspedisi Challenger.</p>
<p>Ekspedisi Challenger adalah ekspedisi ilmiah global pertama guna meneliti kehidupan di bawah permukaan laut. Ekspedisi ini juga mengukur perbedaan temperatur dengan memasukkan alat pengukur &#8211; dengan tali &#8211; hingga ratusan meter ke dalam laut.</p>
<p>Lebih dari seabad kemudian, data-data ini kembali dipakai oleh tim peneliti dari University of Tasmania, di Sandy Bay, Australia dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA, di Pasadena, California guna mengungkap fenomena perubahan iklim dan pemanasan global.</p>
<p>Menurut Josh Willis, ilmuwan dari JPL, kunci dari penelitian ini adalah menentukan ketidakpastian yang berasal dari perbedaan pengukuran yang diambil oleh awal kapal Challenger.</p>
<p>Tingkat ketidakpastian ekspedisi Challenger ini berasal dari terbatasnya wilayah yang diteliti termasuk kedalaman laut dan variasi suhu alami saat pengukuran terjadi. &#8220;Setelah menganalisis semua kemungkinan yang ada, kami menyimpulkan, bukti terjadinya pemanasan global jauh lebih besar,&#8221; tuturnya. Tim peneliti juga menyimpulkan bahwa manusia adalah penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Dengan menggunakan model perubahan iklim yang canggih, tim peneliti menganalisis data-data ekspedisi Challenger dan menggabungkannya dengan data-data penelitian modern yang diambil dari jaringan Argo, jaringan alat pengukur canggih yang mengapung di samudra.</p>
<p>&#8220;Dari data-data ekspedisi Challenger terungkap, pemanasan global sudah bisa dideteksi secara jelas sejak 1873. Pada saat itu, samudra masih menyerap semua panas hasil peningkatan suhu bumi,&#8221; ujar Will Hobbs dari University of Tasmania yang memimpin penelitian ini. Saat ini, tim peneliti menyimpulkan, tingkat penyerapan pemanasan global oleh samudra menurun menjadi hanya 90%.</p>
<p>Data ekspedisi Challenger juga mengungkapkan, kenaikan suhu samudra menyumbang 40% total kenaikan air laut. Hal ini bisa diamati dari meningkatnya ketinggian gelombang air laut dari tahun 1873 hingga 1955. Sementara mencairnya lapisan-lapisan es dan sungai-sungai es (glaciers) menyumbang 60% sisa kenaikan air laut.</p>
<p>Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai penelitian ini silahkan kunjungi tautan berikut: <a href="http://www.imas.utas.edu.au/right-column-content/whats-new3/news/century-old-science-helps-confirm-global-warming">ekspedisi Challanger</a>.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/25/ekspedisi-kuno-perkuat-bukti-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>-42.8946543 147.3262306</georss:point><geo:lat>-42.8946543</geo:lat><geo:long>147.3262306</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Sungai Es Mencair Air Laut Naik</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/18/sungai-es-mencair-air-laut-naik/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/18/sungai-es-mencair-air-laut-naik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 22:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Antartika]]></category>
		<category><![CDATA[Benua Artika]]></category>
		<category><![CDATA[Es Mencair]]></category>
		<category><![CDATA[Glaciers]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan Air laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Es]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14493</guid>
		<description><![CDATA[Mencairnya sungai-sungai es (glaciers) di seluruh penjuru dunia menyumbang sepertiga kenaikan air laut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/18/sungai-es-mencair-air-laut-naik/' addthis:title='Sungai Es Mencair Air Laut Naik '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/18/sungai-es-mencair-air-laut-naik/glacier-tour-m-prinke/" rel="attachment wp-att-14494"><img class="alignleft  wp-image-14494" style="margin: 5px 10px;" title="Glacier tour -  M Prinke" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/Glacier-tour-M-Prinke.jpg" alt="" width="450" height="290" /></a>Mencairnya sungai-sungai es (glaciers) di seluruh penjuru dunia menyumbang sepertiga kenaikan air laut. Hal ini terungkap dari <a href="http://www.mediadesk.uzh.ch/articles/2013/meeresspiegel-ein-drittel-seines-anstiegs-kommt-von-schmelzenden-gebirgsgletschern.html">hasil penelitian</a> dua ilmuwan dari University of Zurich beserta tim yang diterbitkan Kamis (16/05).</p>
<p>Menurut tim peneliti, saat ini, 99% es terdapat di benua Antartika dan Greenland. Sisanya (1%) membeku dalam bentuk sungai-sungai es. Saat bumi semakin panas, sungai-sungai es yang biasanya terdapat pada dataran atau pegunungan tinggi mencair menyumbang sepertiga kenaikan air laut pada periode 2003 hingga 2009. Kesimpulan ini adalah salah satu hasil penelitian internasional yang melibatkan ilmuwan dari University of Zurich.</p>
<p>Selama ini dampak mencairnya sungai-sungai es terhadap kenaikan air laut belum diketahui secara akurat. Penelitian sebelumnya memerkirakan dampak yang jauh dari kenyataan yang ditemukan saat ini.</p>
<p>Untuk menemukan data yang tepat tim ilmuwan yang terdiri dari 16 peneliti dari sembilan negara telah membandingkan data dari pengukuran tradisional di lapangan dengan data dari misi NASA yaitu ICESat (Ice, Cloud and land Elevation Satellite) dan GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment).</p>
<p>Dengan tersedianya ketiga data penyimpanan sungai es global untuk pertama kalinya ini, tim peneliti mampu menentukan perubahan massa sungai es secara lebih akurat di seluruh penjuru bumi.</p>
<p>Hasilnya, hampir semua wilayah yang memiliki sungai es telah kehilangan lapisan es ini pada periode 2003-2009. Mencairnya sungai-singai es ini terutama terjadi di benua Arktika di wilayah Kanada, sepanjang pantai Greenland, di pegunungan Andes bagian selatan hingga di pegunungan Himalaya. Sementara sungai es di Antartika hanya menyumbang sedikit kenaikan air laut.</p>
<p>Penemuan ini berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang menyebutkan bahwa sungai-sungai es di benua Antartika menyumbang 30% wilayah yang sungai es yang kehilangan esnya dalam periode 1961 hingga 2004.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/18/sungai-es-mencair-air-laut-naik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>47.3686498 8.5391825</georss:point><geo:lat>47.3686498</geo:lat><geo:long>8.5391825</geo:long>	</item>
		<item>
		<title>Konsensus Ilmiah Pemanasan Global Tercapai</title>
		<link>http://www.hijauku.com/2013/05/16/konsensus-ilmiah-pemanasan-global-tercapai/</link>
		<comments>http://www.hijauku.com/2013/05/16/konsensus-ilmiah-pemanasan-global-tercapai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 05:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijauku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Bukti Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Kanada]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanasan Global]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Skeptis]]></category>
		<category><![CDATA[Western Fuels Association]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hijauku.com/?p=14434</guid>
		<description><![CDATA[Belasan ribu penelitian ilmiah memerkuat konsensus bahwa manusia adalah penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://www.hijauku.com/2013/05/16/konsensus-ilmiah-pemanasan-global-tercapai/' addthis:title='Konsensus Ilmiah Pemanasan Global Tercapai '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>
<p><a href="http://www.hijauku.com/2013/05/16/konsensus-ilmiah-pemanasan-global-tercapai/mount-everest-from-space-nasa/" rel="attachment wp-att-14435"><img class="alignleft  wp-image-14435" style="margin: 5px 10px;" title="Mount Everest from Space - NASA" src="http://www.hijauku.com/wp-content/uploads/2013/05/Mount-Everest-from-Space-NASA.jpg" alt="" width="450" height="298" /></a>Persepsi publik menentukan dukungan terhadap kebijakan mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Namun dukungan publik hingga saat ini masih dinilai kurang. Hal ini karena masyarakat masih belum banyak mengetahui pendapat ilmuwan terkait krisis pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Kesenjangan informasi antara hasil penelitian ilmuwan dan pendapat publik dinilai masih sangat lebar.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2012 menyebutkan, 57% penduduk Amerika Serikat masih menentang atau tidak mengetahui posisi ilmuwan terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu penyebabnya adalah kampanye yang ditujukan untuk menimbulkan kebingungan publik mengenai sikap dan hasil penelitian ilmuwan terkait pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Salah satu kampanye tersebut adalah kampanye yang digelar oleh Western Fuels Association pada 1991. Kampanye berbiaya $510.000 ini berupaya memengaruhi persepsi publik agar mereka menganggap bahwa pemanasan global bukan sesuatu yang nyata dan hanya sebuah teori. Caranya adalah dengan memanfaatkan pendapat ilmuwan yang menentang teori pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Situasi ini diperparah oleh sikap media massa terhadap isu perubahan iklim. Media massa di AS dan Inggris dinilai gagal memberikan informasi yang berimbang tentang pemanasan global dan perubahan iklim sehingga pendapat minoritas lah yang mengemuka. Pemberitaan yang tidak seimbang ini terutama dipraktikkan oleh tabloid-tabloid di Inggris selama periode 2000-2009.</p>
<p><a href="http://iopscience.iop.org/1748-9326/8/2/024024/article#erl460291s5">Penelitian terbaru</a> yang diterbitkan kemarin, Rabu (15/5), dalam jurnal Environmental Research Letters berupaya mengurangi kebingungan publik terhadap posisi ilmuwan dalam menyikapi pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p>Tim peneliti lintas negara dari Australia, Kanada, Inggris dan Amerika Serikat mensurvei 11.994 hasil penelitian akademis oleh 29.083 ilmuwan dari seluruh dunia pada periode 1991-2011. Hasilnya, tim peneliti menemukan, 97,1% hasil penelitian ilmiah mendukung teori bahwa pemanasan global dipicu oleh aktivitas manusia.</p>
<p>&#8220;Penelitian ini adalah penelitian paling komprehensif guna menghitung konsensus ilmiah (mengenai pemanasan global dan perubahan iklim) dalam dua dekade terakhir,&#8221; ujar John Cook, peneliti dari Global Change Institute, University of Queensland, Australia yang memimpin tim ini.</p>
<p>Temuan ini sekaligus mematahkan pendapat pihak-pihak yang skeptis terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Temuan ini diharapkan mampu meningkatkan dukungan masyarakat terhadap kebijakan mengatasi krisis pemanasan global dan perubahan iklim.</p>
<p><strong>Redaksi Hijauku.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hijauku.com/2013/05/16/konsensus-ilmiah-pemanasan-global-tercapai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<georss:point>-20.9175738 142.7027956</georss:point><geo:lat>-20.9175738</geo:lat><geo:long>142.7027956</geo:long>	</item>
	</channel>
</rss>
