Konflik Gajah-Manusia, Bukan Gajah yang Harus Berinovasi

Darussalam – Konflik Gajah dan manusia, menjadi topik utama yang disampaikan oleh sejumlah pemateri yang mengisi acara Seminar Nasional Lingkungan “Aktualisasi Peran Generasi Muda dalam Penyelamatan Gajah Sumatera” yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers DETaK Unsiversitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada Selasa, 6 November 2018 di Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah.

Azhar, pemateri yang diusung oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia ini mengungkapkan, bahwasanya selama ini permasalahan konflik gajah-manusia hanya menitikberatkan permasalahan pada salah satu pihak.

“Selama ini ketika terjadi konflik antara gajah dengan manusia yang disalahkan cuma satu pihak, di pemberitan misalnya tertera ‘Konflik Gajah, Gajah Merusak Pemukimam dan Perkebunan Warga’ seolah-olah gajah adalah hama dan perspektif negatif disematkan untuk gajah,” ungkap Azhar gamblang di depan peserta seminar yang tampak antusias mengikuti seminar.

Menurut Azhar, jurnalis memiliki peran yang sangat besar dalam membangun perspektif masyarakat luas perkara gajah dan konflik yang terjadi antar gajah dan manusia, karena pemberitaan yang kuat membangun opini yang membuat masyarakat berang dan terus-menerus menyalahkan gajah tanpa memberikan pemahaman yang baik tentang gajah dan kehidupannya. Oleh karena itu Azhar berharap kedepannya, jurnalis dapat bijak dalam melaporkan pemberitaan dan ikut membantu pencerahan yang baik kepada masyarakat.

“Selama ini yang kita tahu secara kasar bahwasanya gajah perusak, gajah suka menyerang, sementara fakta lain yang perlu kita ketahui bersama adalah manusia dan gajah saat ini berebut lahan, terlebih manusia, manusia merebut jalur koridor gajah, lahan hektaran yang dijadikan areal perkebunan itu jauh-jauh hari adalah jalur lintas gajah, gajah mana tahu ini perkebunan milik pengusaha kaya, sehingga gajah tidak boleh melintas,” lanjut Azhar.

Lebih lanjut Azhar menyebutkan bahwasanya satu ekor gajah membutuhkan ruang 800 Ha yang dijadikan sebagai garis edar gajah dalam setahun, konflik gajah-manusia yang ditemui di lapangan kerap terjadi di luar lahan yang status kawasannya berada di luar kawasan konservasi yang kini telah berubah menjadi lahan pemukiman atau perkebunan, sehingga gajah rentan untuk dibunuh dan disalahkan.

“Manusia yang harus terus berinovasi, bukan gajah, manusia punya pikiran, sedangkan gajah punya insting 10 kali lebih kuat dibanding manusia dalam merespon, sehingga dalam inovasi kita, kita sama-sama bijak dalam berbagi ruaang, sama-saman menghargai,” pesan Azhar

Pemaparan terkait inovasi, pembunuhan dan konflik gajah-manusia diperkuat oleh Sapto Aji Prabowo dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Irham Hudaya Yunardi dari Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) Sumatera.

Sapto memaparkan bahwasanya populasi gajah di Aceh adalah setengah dari populasi gajah Sumatera, sebanyak 539 ekor gajah berada di Aceh yang tersebar di 15 Kabupaten/Kota. Sebnyak 85% populasi gajah berada di luar kawasan konservasi bahkan kawasan hutan, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa konflik terjadi hampir terjadi setiap hari.

“Masalah lain yang kita hadapi adalah pemberitaan yang tidak berpihak pada satwa, seolah-olah tidak ada dosanya manusia itu, manusia punya akal pikrian, manusia yang harus mengatur, bukannya gajah yang harus merubah pola pikir,” berang Sapto yang disambut tawa oleh peserta seminar.

Orientasi jalur koridor gajah dan tingginya populasi gajah di luar kawasan konservasi menuntut manusia untuk lebih cerdas dalam memahami tindak lanjut pengurangan angka konflik. Berdasarkan paparan Sapto, salah satu langkah yang efektif untuk mengendalikan konflik berulang di perkebunan warga yang berbatasan dengan areal gajah adalah dengan memilih tanaman yang tepat, karena realita yang selama ini terjadi adalah masyarakat menanam tanaman yang menjadi pakan gajah.

“Masyarakat di lahan perbatasan sering menanam tebu, sawit, ya iyalah diserang gajah, karena makanan dia kok, coba ditanam cengkeh, kan santai aja, karena gajah ngga makan cengkeh. Ini realitanya, masyarakat menanam, gajah yang memanen,” ucap Sapto.

Sapto menyebutkan fakta lain selain konflik, gajah juga dihadapkan pada perkara perburuan dan kematian gajah karena dibunuh. Perburuan gajah berorientasi pada permintaan gading yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Orang gila itu yang suka gading gajah, tidak tahu cara menghabiskan uang, sehingga bergaya memakai cangklong dari gading, tongkat dari gading, orang gila semakin bertambah sehingga permintaan terhadap gading semakin tinggi dari tahun ke tahun,” lanjut Sapto bersemangat

Sementara itu, Irham menyebutkan bahwasanya deforestasi hutan, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang luas berdampak pada tingginya konflik gajah-manusia dan juga kematian gajah, meskipun data terakhir 2018 menunjukkan bahwa deforestasi hutan terus menurun, namun fragmentasi dan degradasi lahan yang terjadi secara nyata mempengaruhi konflik dan kematian gajah yang semakin intens belakangan ini.

“Data deforestasi Ekosistem Leuser dalam 3 tahun terakhir secara berturut adalah 13.690 Ha (2014-2015), 8.982 Ha (2015-2016), dan 7.066 Ha (2016-2017), meskipun angka deforestasi terus menurun, tapi lahan hutan yang terus diganggu mengakibatkan ruang gajah juga semakin berkurang,” papar Irham.

Lain halnya dengan 3 pemateri yang intens mengungkapkan realita dibalik kasus konflik gajah-manusia, Rahmadi Rahmad dari Mongabay Indonesia banyak mengulas tentang pemberitaan khusus lingkungan. Dalam sesi pemaparannya, Rahmadi turut melampirkan sejumlah video dokumentasi kontributor Mongabay.id terkait kasus kematian gajah yang membuat peserta bergidik.

“Sama seperti apa yang telah dipaparkan oleh pemateri sebelumnya, jika selama ini kita hanya menitikberatkan permasalahan konflik pada satwa saja, inilah bukti lain betapa kejamnya manusia pada satwa,”

Kemudian Rahmadi membagikan tips bijak mewartakan isu lingkungan sehingga menjadi berita yang berimbang dan menarik. Menurut Rahmadi, untuk menjadi jurnalis lingkungan yang apik, jurnalis muda harus banyak mencari tahu dan memverifikasi data secara jelas ke sumbernya.

“Jurnalis lingkungan memang harus banyak bertanya dan verifikasi ke sumbernya, misalnya komodo, komodo ini kan air liurny beracun, saliva yang dihasilkan dari lidahnya beracun, kalo suatu saat komodo menggigit lidahnya sendiri, kira-kira komodo mati ngga ya?” gurau Rahmadi memecah tawa peserta di siang itu.

Selain harus rajin bertanya dan memverifikasi, jurnalis lingkungan yang apik hendaknya memang bijak dalam membuat pemberitaan yang tidak menonjolkan siapa tokoh kasus.

“Kita memang menekankan pemberitaan supaya kita banyak mengulik sebab-akibat, pada saat kasus kematian Gajah Bunta kemarin, kita tekankan bahwa pemberitaan kita jangan sampai memunculkan siapa tokohnya, tapi apa sih penyebab kasus ini, mengapa bisa terjadi, kasus ini sudah ditangani, pelaku sudah ditangani, tapi masyarakat tidak pernah tahu apa latar yang lebih kompleks di belakang ini,” terang Rahmadi.

Kemudian agar pemberitaan lebih berbobot, Rahmadi menekankan agar calon jurnalis lingkungan muda dan masyarakat pada umumnya dapat mencintai lingkungan dan keanekaragam di dalamnya sebagai suatu kebanggan yang harus dipupuk.

“Kalian tahu Dinosaurus dan bangga ketika menonton Jurrasic Park? Mari kita sama-sama bangga dengan satwa kita, jangan sampai kita bangga ketika mereka sudah menjadi kenangan yang sudah tidak ada lagi, seperti Jurrasic Park,” harap Rahmadi.

–##–

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers DETaK Unsiversitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui email di: ukmpers@detak-unsyiah.com.

By |2018-11-08T05:53:14+00:007 November 2018|Komunitas, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *