Peluang Individu Beraksi Atasi Perubahan Iklim

Oleh: Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok *

Isu perubahan iklim (Climate Change) yang disebabkan oleh pemanasan global (Global Warming) adalah salah satu isu yang sering dibicarakan oleh elit global. Terlepas, ada salah satu kepala negara yang mempercayai hal itu sebagai sebuah hoaks. Memang, isu ini seperti sebuah fantasi yang hanya urusan para aktivis lingkungan saja. Padahal dampak perubahan yang akan dihadapi tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang, tetapi seluruh penduduk bumi. Menuju Konferensi Perubahan Iklim ke-24 (COP24) di Kotawice, Polandia, akhir tahun nanti, banyak pihak mulai melakukan riset terkait dengan kondisi dan prediksi yang akan dihadapi di masa-masa yang akan datang.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), melaporkan sekaligus menyeru kepada dunia untuk membatasi kenaikan suhu bumi 1,5 derajat celcius dalam upaya tiada akhir untuk menyadarkan penduduk bumi. Laporan tersebut disusun dan dikaji oleh 91 penulis dan editor dari 40 negara. Mereka meneliti lebih dari 6000 laporan ilmiah yang ditulis oleh ilmuwan dan para ahli dari seluruh dunia. Laporan tersebut disetujui di Kota Incheon, Korea Selatan Sabtu (06/10) waktu setempat. Fakta ilmiah ini sekaligus dijadikan landasan masukan ilmiah yang akan disampaikan pada COP24 nanti. Ini hanyalah bagian kecil dari banyak laporan terkait perubahan iklim. Tentu, Paris Agreement atau kesepakatan Paris yang menjaga agar suhu bumi tidak naik 2 derajat celcius adalah salah satu diantaranya.

Panmao Zhai, yang turut memimpin IPCC Working Group 1 menyatakan bahwa Salah satu pesan penting dari laporan ini adalah dunia telah menyaksikan konsekuensi kenaikan suhu bumi 1°C yang mengerikan, seperti makin seringnya terjadi cuaca ekstrem, kenaikan air laut, mencairnya es di benua Arktika dan dampak-dampak lainnya. Dengan membatasi kenaikan suhu di 1,5°C, kenaikan air laut dunia akan 10 cm lebih rendah dibanding jika kenaikan suhu mencapai 2°C. Kenaikan air laut hanyalah salah satu efek merusak yang luar biasa dari perubahan iklim. Untuk mencapai target 1,5°C, dunia harus mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 45% di 2050 dibanding tingkat emisi CO2 pada 2010 dan terus memangkasnya hingga mencapai titik nol sekitar tahun 2050.

Tentu, butuh kolaborasi skala global untuk melawan perubahan iklim. Tidak hanya para elit global saja yang sering melakukan kesepakatan, tetapi penduduk dunia harus lebih sadar diri bahwa masa depan bumi ditentukan hari ini. Karena segala tingkah laku manusia banyak yang memberikan dampak signifikan terhadap meningkatnya suhu bumi. Salah satunya adalah gaya hidup konsumtif manusia modern. Aneka macam fastfood bak jamur di musim hujan, memenuhi di setiap sudut kota. Tentu, yang patut menjadi perhatian bersama adalah daging yang berkontribusi dalam perubahan iklim.

Dalam laporan FAO, badan pangan dunia di bawah PBB yang berjudul Livestock’s Long Shadow: Environmental Issues and Options, mencatat bahwa industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9% karbondioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 23 kali lebih kuat dari CO2), 65 % nitro oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 % amonia penyebab hujan asam. Peternakan menyita 30 persen dari seluruh permukaan tanah kering di bumi dan 33 persen dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Peternakan juga penyebab dari 80 persen penggundulan hutan Amazon yang dialihfungsikan sebagai sebagai ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi sebesar 2,4 miliar ton CO2.

Tidak berhenti disitu, industri peternakan juga senantiasa menghadapi problematika yang krusial, terkait dengan inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan hanya untuk irigasi saja. Data yang dihimpun oleh Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute menyatakan bahwa untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan sampai penyembelihan dibutuhkan satu juta liter air dengan sumbangan 36,4 Kg CO2 ke udara. Tidak heran apabila data dari film dokumenter “Meat the Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 Km. Fakta lain yang tak kalah menarik adalah seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat melawan pemanasan global dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga selama setahun.

Apabila melihat fakta di atas, maka sudah saatnya ketika kita memiliki keinginan untuk memesan hamburger, steak, dan sejenisnya, kita berpikir ulang bahwa apa yang kita lakukan dapat memperburuk pemanasan global. Bagaimana makanan anda berkontribusi dalam perubahan iklim global. Memang sulit untuk menghentikan produksi makanan berbasis daging, karena telah terjerat oleh lingkaran profit skala korporasi. Namun, yang dapat kita lakukan adalah melawannya. Berawal dari kesadaran pribadi untuk menjadi aktor perubahan iklim melalui pengurangan dalam konsumsi daging. Atau berusaha untuk diet dan menjadi seorang vegetarian.

Kita patut bersyukur terlahir di Indonesia. Negeri dengan lebih dari 17 ribu pulau ini memiliki tingkat biodiversitas yang begitu tinggi. Dalam arti yang lebih sederhana, kita memiliki keanekaragaman hayati yang begitu besar. Sehingga menjadi sebuah peluang untuk melakukan pemanfaatan lebih lanjut guna memenuhi kebutuhan pangan di masa yang akan datang. Atau dengan tujuan khususnya adalah berusaha untuk menggantikan peran daging sebagai pemasok protein utama.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pemanfaatan kenekaragaman hayati melalui bioteknologi moderen dengan hasil berupa produk rekayasa genetik (PRG) memberi peluang untuk menunjang produksi pertanian, ketahanan pangan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Peningkatan riset di bidang keanekaragaman hayati juga dapat menunjang pendataan banyaknya keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Sekaligus menjaga hilangnya hutan karena menjadi basis dan pusat penelitian. Memang laju perubahan iklim terus mengarah ke titik terburuk, namun bukan berarti kita sebagai penduduk dunia tidak bisa berkontribusi untuk mengurangi kerusakan yang terjadi. Salah satunya adalah mengurangi konsumsi daging secara berlebih.

–##–

* Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok adalah mahasiswa Universitas Airlangga yang mulai peduli dengan isu lingkungan hidup

By |2018-10-14T06:29:10+00:0014 October 2018|Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *