Menyelewengkan CSR, Membajak SDGs

Oleh: Jalal *

“The only social responsibility of tobacco industry is to make itself disappear.” – Stephen Marks, Universitas Harvard

Buku teks tentang tanggung jawab sosial perusahaan manapun yang kita baca pasti mengandung diskusi mengenai industri rokok. Semuanya secara jelas menyebutkan bahwa industri ini masuk ke dalam industri kontroversial (controversial industry) atau industri penuh dosa (sinful industry).  Namun, label yang sudah sedemikian kuat diberikan oleh para akademisi tidak membuat industri rokok berhenti mencoba untuk mendapatkan citra sebagai perusahaan yang bertanggung jawab sosial.

Para akademisi juga sudah memberikan bukti-bukti bahwa industri-industri yang masuk ke dalam kategori kontroversial maupun penuh dosa itu adalah yang paling getol untuk membuat pencitraan yang demikian.  Mereka juga sudah memberikan istilah yang tegas soal kecenderungan tersebut, yaitu CSR-washing.  Demikian istilah yang diusulkan oleh pakar komunikasi CSR paling terkemuka, Timothy Coombs dan Sherry Holladay dalam buku mereka, Managing Corporate Social Responsibility: A Communication Approach (2012).

CSR adalah tanggung jawab perusahaan terhadap dampak yang timbul akibat keputusan, aktivitas, dan produk perusahaan atas masyarakat dan lingkungan.  Demikian konsensus ilmiahnya.  Sehingga, untuk menilai perusahaan itu benar-benar bertanggung jawab sosial atau tidak sesungguhnya adalah urusan tentang kinerja pengelolaan dampak bisnis inti perusahaan, bukan, misalnya, tentang seberapa besar perusahaan itu memberikan donasi atau melakukan derma yang tak terkait dengan dampak itu.

Tujuan dari CSR sendiri juga sangat jelas.  Sejak definisi pembangunan berkelanjutan diterima sebagai kesepakatan global di tahun 1992 pada Konferensi Rio de Jeneiro, para pakar bidang ini sepakat bahwa tujuan CSR adalah berkontribusi positif pada pencapaian pembangunan berkelanjutan.  Ketika di tahun 2015 dunia menyepakati bagaimana pembangunan berkelanjutan hendak dicapai—yaitu dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, disingkat SDGs) antara 2016-2030—tujuan CSR kemudian, tentu saja, menjadi lebih tegas lagi: mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Dengan demikian, bisa diduga bahwa industri rokok akan mencoba memanfaatkan SDGs untuk mengatrol citranya.  Demikianlah yang dibuktikan oleh para pembicara di dalam salah satu sesi APACT (Asia Pacific Conference on Tobacco Control) ke-12, Hijacking the SDGs for Tobacco – Industry’s Corporate Social Responsibility Activities to Undermine TAPS Ban.  Terutama, hal tersebut sangat baik dipaparkan pada presentasi bertajuk Hijacking ‘Sustainability’ from the SDGs: An Overview of Tobacco-Related CSR Activities in the ASEAN Region, yang dibawakan oleh Worrawan Jirathanapiwat dari Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA).

Dalam presentasinya, yang merupakan hasil penelitian yang sudah diterbitkan tahun 2017 lalu, sangat jelas telah terjadi pergeseran istilah yang dipergunakan oleh industri rokok dalam CSR-washing yang mereka lakukan.  Bukan hanya istilah SDGs yang dipergunakan, melainkan juga rujukan langsung pada Tujuan SDG tertentu.  BAT misalnya, mengklaim berkontribusi pada pencapaian SDG8 (Kerja yang Baik dan Pertumbunan Ekonomi), SDG15 (Kehidupan di Daratan), serta SDG11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan).  Demikian juga, semakin sering industri rokok menyebutkan istilah sustainable agriculture (pertanian berkelanjutan), sustainable communities (komunitas yang berkelanjutan), dan sustainable environment (lingkungan yang berkelanjutan).

Dr Prakit Vathesatogkit dari Action on Smoking and Health (ASH) Thailand menuturkan tentang bagaimana perjuangan para advokat pengendalian tembakau dalam membangun regulasi untuk memastikan penyelewengan-penyelewengan atas makna CSR bisa dikekang di negara tersebut.  Presentasinya, Developing Legislation on CSR: Thailand’s Experience in Defeating Tobacco Industry CSR Tactics, mengungkap peluang dan tantangan yang dihadapi, dengan hasil akhir yang menggembirakan.

Satu hal yang menonjol dari presentasi Dr Vathesatogkit adalah betapa industri rokok di negaranya secara sangat spesifik masuk ke dalam sektor pendidikan, sehingga memungkinkan merk mereka muncul di benak anak-anak dan pemuda.  Karenanya, Pemerintah Thailand kemudian memastikan agar perusahaan rokok tak bisa memanfaatkan hal tersebut untuk komunikasinya.

Hal yang sama juga diupayakan oleh para advokat dari Indonesia lantaran melihat bagaimana industri tersebut masuk secara massif ke sektor pendidikan.  Presentasi Dr Widyastuti Soerojo, Regulation on Banning Tobacco Related CSR in Indonesia’s Educational Institutions: Hits and Misses, menggambarkan upaya tersebut.  Yang sangat menarik dari presentasi Dr Soerojo adalah bahwa advokasi yang tampaknya berhasil di tingkat menteri kemudian menjadi melempem di tingkat bawahnya.  Dan hal ini bukanlah cerita yang unik.  Menteri memang mengeluarkan edaran, namun isinya terbatas, dan penegakannya tidaklah kuat.  Tak ada pelarangan industri rokok untuk masuk ke perguruan-perguruan tinggi dan mereka terus bisa menggunakannya di dalam komunikasi perusahaan.

Tetapi, apa yang dilakukan oleh para advokat kemudian membuat perubahan yang penting.  Tak mendapatkan buy in dari birokrasi tak membuat mereka berhenti berupaya.  Mereka langsung mendatangi kampus-kampus, bertemu dengan para pengambil keputusan, dan mendapatkan respons positif.  Ada beberapa kampus di Indonesia yang kemudian memutuskan untuk menjadi kampus bebas rokok.  Dokumen panduan yang mereka buat kemudian bisa menjadi rujukan bagi kampus manapun yang menginginkan menjadi institusi pendidikan yang bebas dari pengaruh industri rokok.

Pembatasan parsial seperti itu memang adalah jalan yang bisa ditempuh manakala pembatasan sepenuhnya belum bisa diterima secara politis.  Dari Vietnam, contoh yang serupa dipaparkan oleh Dr Pham Thi Hoang Anh.  Presentasinya yang bertajuk Partial Restrictions in Tobacco Related CSR: Vietnam’s Experience n Enforcement menunjukkan pola yang sama dalam cara-cara industri rokok mendapatkan pengaruh lewat kegiatan-kegiatan sosial yang sesungguhnya adalah CSR-washing itu.

Oleh karena itu, sesungguhnya sangat disayangkan apabila para advokat pengendalian tembakau masih terus menerus menggunakan istilah CSR.  Berkali-kali terdengar pernyataan seperti ‘melarang CSR oleh industri rokok’, yang seakan berarti mereka mengakui bahwa industri rokok mungkin ber-CSR, namun perlu dilarang.  Sesungguhnya, yang harus dilarang adalah CSR-washing oleh industri apapun, termasuk rokok, karena itu sesungguhnya merupakan penipuan.  Dan, penipuan terbesarnya adalah bahwa industri rokok hendak berkontribusi pada SDGs, yang jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan industri kontroversial dan penuh dosa itu.

Pada tahun 2004 WHO sudah dengan tegas menyatakan industri rokok dan CSR itu ada dalam kondisi kontradiksi inheren—tak bisa disatukan.  Kalau para advokat pengendalian tembakau di tahun 2018 masih menggunakan istilah ‘CSR industri rokok’ tentu sangat disayangkan. Tampaknya WHO, dan UNDP, perlu lagi menegaskan soal kontradiksi inheren itu.  CSR dan SDGs tidak kompatibel dengan tujuan industri rokok.  Dan pernyataan sangat kuat dari Profesor Marks di atas, yang ia sampaikan di dalam sesi tentang HAM di APACT ke-12 ini, tampaknya perlu menjadi kuncinya.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga adalah salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia.

By |2018-09-30T06:53:53+00:0024 September 2018|Ekonomi, Kesehatan, Opini, Produk|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011, kami terus berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *