Pengendalian Tembakau dan Nasib Petani

Oleh: Jalal *

“Saya belum pernah melihat petani Madura menjadi kaya karena bertani tembakau. Kalau yang jadi banyak hutangnya, dan harus jadi TKI/TKW ke luar negeri untuk membayar hutang, banyak.”  Saniman, Universitas Trunojoyo

Setiap kali ada rencana kenaikan harga rokok, tidak hanya di Indonesia, ‘petani tembakau’ selalu saja dimanfaatkan sebagai tameng.  Seakan industri rokok ingin mereka sejahtera, demonstrasi digelar seakan memang petani tembakau selalu berada di sisi industri rokok, vice versa.  Namun banyak data lapangan menunjukkan hal yang bertentangan dengan narasi yang hendak ditampilkan itu.

Para petani tembakau di Indonesia—dan di bagian dunia lainnya—mengalami banyak sekali masalah dengan pertanian tembakau.  Secara agronomis, tembakau yang berasal dari Amerika itu bukanlah tanaman yang mudah diurus.  Masalah cuaca, kesuburan tanah, hama dan penyakit tanaman yang mengintainya, telah membuat para petani tembakau bekerja keras.

Sebagai tanaman yang akarnya dangkal dan berumur tiga bulan, tembakau punya dampak penurunan kesuburan tanah yang cepat. Tembakau yang akarnya mencapai kedalaman 75 cm itu mengharuskan akarnya dicabut agar tanahnya bisa dipergunakan kembali.  Dan dampak dari pencabutan ini adalah hilangnya tanah pucuk yang subur.  Karenanya, para petani tembakau selalu membutuhkan pemupukan intensif.

Pertanian tembakau yang mensyaratkan sinar matahari yang intens membuat para petani membabat pohon. Pengeringan daun tembakau hasil panenan juga tidak sekadar dipaparkan ke matahari.  Di banyak tempat, tembakau dikeringkan dengan teknik pengomprongan, yang bahan bakarnya adalah kayu bakar.  Inilah mengapa di banyak negara, termasuk di Indonesia, budidaya dan pascapanen tembakau bertanggung jawab atas deforestasi.

Deforestasi dan hilangnya kesuburan tanah semakin mengancam manakala pertanian tembakau dilakukan di lahan yang miring.  Investigasi Mongabay—salah satu media massa bidang lingkungan paling terkemuka—pada bulan Juli 2017 di Temanggung, Jawa Tengah, mengungkapkan hal itu.  Bukan saja kesuburan lahan hilang dalam waktu sangat cepat, para petani tembakau di sana malah sampai melakukan tindakan perambahan ke hutan-hutan Perhutani.

Perhutani bukannya tidak mengizinkan tanah mereka dipergunakan oleh para petani, namun kepentingan konservasi dan rehabilitasi di tanah-tanah mereka sesungguhnya bertentangan dengan pertanian tembakau.  Perhutani perlu menumbuhkan sebanyak mungkin pohon, mengikat tanah, dan merimbunkan kanopi.  Karenanya, bila para petani Temanggung menanam pohon, seperti kopi, Perhutani dengan senang hati membantu; tetapi ketika para petani membabati pohon dan menanam tembakau, Perhutani tercatat berulang kali melakukan operasi pencabutan tanaman.  Demi konservasi dan rehabilitasi lahan.

Kalaulah setelah budidaya yang sangat berat dan destruktif untuk lingkungan—dan membahayakan kesehatan para petani dan anak-anaknya lantaran green tobacco sickness selalu mengancam mereka yang secara intensif berhubungan dengan daun itu—kemudian hasilnya menggembirakan secara ekonomi, mungkin pertanian tembakau masih menarik.  Kenyataannya, hasilnya jauh dari kategori menggembirakan.

Buat Saniman, petani tembakau sejak kecil dan kini menjadi dosen, yang pernyataannya di atas dikutip dari presentasi yang berjudul Saatnya Menghapus Derita Petani Tembakau di APACT ke-12, para petani tembakau terus menerus ada dalam posisi lemah di hadapan perpanjangan tangan industri rokok.  Rantai tata niaga yang panjang, akses eksklusif, penipuan, pembayaran yang dicampur dengan rokok, bunga yang tinggi atas modal tanam, dan sebagainya berkelindan memastikan keuntungan untuk para pedagang dan kesengsaraan untuk petani tembakau.

Saniman secara tegas menyatakan bahwa para petani tembakau hanya menanam karena kebiasaan saja, tekanan sosial untuk menanam komoditas yang seragam, dan ikatan hutang modal yang diberikan oleh para pedagang.  Tak ada rasionalitas ekonomi pertanian dalam keputusan bertani tembakau.  Menurut dia, semua petani tembakau tahu bahwa nasibnya tidaklah menentu, dan mereka sadar sepenuhnya bahwa harus menutupi kerugian pertanian dan hutang-hutangnya.  Tetapi, ‘pelampung penyelamat’ seperti hasil dari komoditas lain, dan peluang untuk bekerja di luar negeri, membuat mereka tetap bisa bertani tembakau.

Cerita dari negeri-negeri lain juga bisa kita bandingkan.  Bersama dengan presentasi Saniman, dapat pula didengarkan paparan dari Radhika Khajuria, Partnering with Bidi Workers in India to Further Tobacco Control Objectives; serta Farida Akhter, Partnering with Farmers in Bangladesh.  Ketiganya bicara di dalam sesi bertajuk Win-Win Partnering with Tobacco Farmers and Workers to Advance Tobacco Control Policy di hari pertama APACT ke-12, 13 September 2018.

Dan benang merah cerita dari Temanggung yang ditulis Mongabay, presentasi Saniman tentang kondisi di Madura, maupun pengalaman di India dan Bangladesh jelas terlihat.  Pertanian tembakau itu berat dan destruktif, sementara secara ekonomi para petani menjadi pihak yang dieksploitasi oleh industri rokok.  Para petani juga sadar sepenuhnya atas kondisi itu, sehingga mereka mencari sendiri jalan keluar agar bisa memertahankan hidupnya.

Bila mereka tidak ditolong oleh pihak lain, diversifikasi tanaman adalah jalan paling banyak ditempuh.  Tembakau adalah tanaman semusim yang membutuhkan kondisi sangat spesifik untuk bisa menghasilkan dengan baik.  Banyak tanaman lain yang diketahui bisa memberikan jaminan panen yang lebih tinggi.  Dalam kasus Temanggung, para petani juga menanam beragam sayuran.  Di Madura, Saniman memilih jagung dan cabe.  Semuanya jauh kurang ‘rewel’ dibandingkan tembakau.

Ketika kepastian panen menjadi lebih tinggi, dan harga yang lebih baik diperoleh—lantaran tata niaga komoditas lain tak sebrutal tembakau—para petani mulai membiasakan diri dengan perhitungan rasional.  Di banyak tempat, akhirnya petani beralih komoditas dan meninggalkan tembakau sama sekali.  Ini terutama terjadi bila ada bantuan dari pihak lain yang benar-benar peduli pada kesejahteraan petani.

Di APACT ke-12, kita bisa bertemu dengan para petani tembakau di Bondowoso yang beralih ke beras merah dan hitam organik, dan petani tembakau di dataran tinggi Deles di sekitar Gunung Merapi, Klaten, yang hadir dengan Kopi Petruk—peralihan besar-besaran pertanian tembakau di Gunung Merapi bahkan membuat pelopornya, Sukiman Mohtar Pratomo, menjadi sangat terkenal.  Semua yang hadir bertutur soal kehidupan yang membaik setelah meninggalkan tembakau.

Tentu saja, ada pilihan lain, yaitu perdagangan tembakau yang lebih adil, yang tidak memberikan keuntungan besar untuk para pedagang dan perusahaan rokok; juga pemanfaatan tembakau untuk keperluan lainnya.  Tetapi, itu membutuhkan lebih banyak usaha lagi, yang mungkin berhasil dalam jangka panjang.  Yang sekarang sudah banyak contoh keberhasilannya, termasuk di Indonesia, adalah diversifikasi dan peralihan komoditas.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga adalah salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia.
By |2018-09-30T06:53:05+00:0023 September 2018|Kesehatan, Opini, Produk|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011, kami terus berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *