Ketika Tiga Menteri Bicara SDGs dan Pengendalian Tembakau

Oleh: Jalal *

“The most displeasing thing is the fact that tobacco industry has targeted children as their market.”

– Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  Republik Indonesia

Pembukaan The 12th Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACT ke-12) mungkin adalah yang paling kuat sepanjang sejarah penyelenggaraan konferensi dua tahunan itu.  Bukan saja dalam jumlah peserta dan asal negara, melainkan juga dalam dukungan pemerintah negara tuan rumah.  Indonesiam tuan rumah kali ini, menghadirkan tiga menteri sekaligus untuk bicara pada sesi pembuka perhelatan besar yang bertema Tobacco Control for Sustainable Development: Ensuring a Healthy Generation ini.

“Tobacco or health” menyiratkan kita harus memilih antara mengkonsumsi tembakau lewat aktivitas merokok dengan kesehatan.  Hubungan antara risiko kesehatan, termasuk penyakit-penyakit terberat, dengan konsumsi rokok memang sudah lama diketahui.  Sejak tahun 1950 tepatnya.  Pada tahun tersebut, Ernest Wynder dan Evarts Graham menerbitkan hasil riset mereka yang sangat terkenal, Tobacco Smoking as a Possible Etiologic Factor in Bronchiogenic Carcinoma: A Study of Six Hundred and Eighty-Four Proved Cases.  Di situ mereka menemukan bahwa walaupun perokok yang menderita kanker paru-paru tidaklah besar proporsinya, namun penderita kanker paru-paru itu 96,5%-nya adalah perokok.

Kalau penelitian Wynder dan Graham dilakukan di Amerika Serikat, hanya berselang beberapa bulan kemudian, di seberang Samudera Atlantik, yaitu di Inggris, juga dipublikasikan hasil riset yang sangat terkenal pula.  Smoking and Carcinoma of the Lung, demikian judul penelitian itu, membuktikan pula bahwa bukan pencemaran udara dan pengaspalan jalan—sebagai hipotesis awal—yang terkait dengan kanker paru-paru, melainkan konsumsi rokok.  Penelitian mereka juga menemukan kecenderungan bahwa semakin banyak merokok, semakin tinggi pula peluang menderita penyakit tersebut.

Sejak dua studi tersebut, sudah puluhan ribu hasil studi diterbitkan.  Semakin banyak pula hubungan antara konsumsi rokok dengan penyakit-penyakit lainnya.  Di Amerika Serikat sendiri, kesimpulan soal dampak negatif konsumsi rokok atas kesehatan sudah dianggap konklusif di tahun 1964.  Bukti-bukti ilmiah tak lagi bisa disangkal, sehingga pada tahun tersebut, Menteri Kesehatan-nya, Luther Terry mengeluarkan laporannya yang terkenal.  Ketika itu ‘baru’ ada 7.000an laporan ilmiah soal bahaya konsumsi rokok, namun buat mereka sudah cukup untuk mengakhiri perdebatan.

Dengan latar tersebut, sesungguhnya sangat aneh bila pada tahun 2018 masih ada orang yang memersoalkan kaitan antara konsumsi rokok dan risiko kesehatan.  Tetapi—sebagaimana yang dengan sangat bagus digambarkan oleh dua sejarawan sains terbaik, Naomi Oreskes dari Universitas Harvard dan Erik Conway dari California Institute of Technology dalam karya fenomenal mereka, Merchants of Doubt: How a Handful of Scientists Obscured the Truth on Issues from Tobacco Smoke to Global Warming—industri rokok tak berhenti menyesatkan masyarakat global untuk berpikir bahwa sains belumlah konklusif soal bahaya rokok.

Hasilnya, sebagaimana yang bisa dilihat di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah konsumsi rokok yang terus meningkat.  Sementara, di negara-negara maju proporsi penduduk yang merokok semakin kecil, bahkan sudah ada beberapa negara yang memiliki strategi end game, mengakhiri konsumsi rokok untuk selamanya.  Negara-negara berkembang, yang lebih rentan terhadap pengaruh big tobacco, melihat kenyataan yang berbeda: perokok meningkat, konsumsi naik, dan ancaman terhadap kesehatan membesar.

Tetapi, sebagaimana yang kemudian diselidiki oleh para peneliti yang mumpuni di bidang masing-masing, persoalan yang terkait rokok ternyata jauh melampaui kesehatan.  Kalau kesehatan, sebagai salah satu modal insani paling penting di samping pendidikan dan spiritualitas, mengalami masalah, sesungguhnya memang akan terkait dengan seluruh hal lainnya yang menentukan kesejahteraan individu, keluarga, dan masyarakat.  Tetapi hubungan antara rokok dengan kesejahteraan secara luas ternyata tidak sekadar melalui perantaraan kesehatan itu.

Ketika para peneliti menelisik satu demi satu Tujuan, Target, dan Indikator Sustainable Development Goals (SDGs)—yang disepakati menjadi panduan pembangunan di seluruh dunia antara 2016-2030—mereka menemukan bahwa bila produksi dan konsumsi rokok tidak dikendalikan, maka sebagian besar, kalau bukan malah seluruh, Tujuan SDGs itu bakal tidak tercapai.  Temuan tersebut benar-benar disuarakan secara tegas oleh tiga menteri Republik Indonesia yang dikumpulkan dalam satu panel pembuka APACT ke-12.

Tentu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek bicara dari sisi yang dia kuasai.  Tetapi, dia juga memberikan pernyataan yang lebih luas daripada aspek kesehatan itu.  Sebagaimana yang dia nyatakan di dalam rilis pers—tertanggal 13 September 2018—acara itu, “The efforts to decrease the consumption and tobacco smoke exposure are related to various aspects.  As commodity, tobacco and cigarette have economic and social relevance.  The tobacco wave reaches issues such as advertising, partnership with farmers, human rights and child rights protection.”  Kementerian Kesehatan, dengan demikian, menyadari diperlukannya kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk mengendalikan dampak rokok.

Dalam sesi pembuka itu, yang menjadi keynote speaker adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise.  Kutipan kalimatnya di atas menyuratkan pemahaman soal betapa tugasnya melindungi anak-anak memang mendapatkan hambatan besar dari industri rokok.  Tetapi, pidatonya sendiri jauh lebih luas daripada sekadar menunjuk wajah industri itu.  Dia mulai dari beberapa statistik kunci di level global.  Yang terpenting mungkin adalah bahwa kawasan Asia Pasifik merupakan ‘penyumbang’ perokok yang sangat besar, bahwa di kawasan ini konsumsi akan terus naik seiring dengan ‘pertumbuhan’ jumlah orang yang meregang nyawa lebih cepat lantaran rokok.  Pada tahun 2030, World Bank memerkirakan jumlahnya akan menjadi 10 juta per tahun—meningkat hampir separuhnya dibandingkan angka sekarang yang telah menembus 7 juta orang.

Yohana kemudian menukik ke Indonesia.  Dia menyatakan keprihatinannya atas kondisi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi negeri dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia, setelah Rusia dan Tiongkok.  Ini menandai betapa parahnya masalah rokok di Indonesia, karena India dan AS yang jumlah penduduknya lebih besar saja kalah dalam jumlah perokok.  Tentu, ini adalah ‘sumbangan’ dari lelaki dewasa di Indonesia yang prevalensi perokoknya adalah tertinggi di dunia.

Kemudian, dia berubah dari prihatin menjadi tampak lebih marah ketika membicarakan soal bagaimana, untuk melestarikan keuntungannya, industri rokok dengan sengaja menargetkan anak-anak dalam pemasarannya.  Yembise mengutip pernyataan VP Research and Development Philip Morris yang belakangan bisa diketahui publik, “Today’s teenagers are potential customers in the future, since the majority of smokers start smoking when they are teenagers.” Juga, memo internal RJ Reynolds, “Teenage smokers are an important factor in the tobacco industry, and if teenagers do not smoke, the industry will go bankrupt.

Pidato Yembise sungguh kaya data, yang membuat keprihatinan dan kemarahannya dapat dipahami siapapun yang mendengar atau membaca teksnya.  Bukan saja dia mengungkapkan serangan industri rokok kepada anak-anak dengan dampaknya yang mengerikan di Indonesia—di tahun 2016, persentase mereka yang merokok secara regular lebih dari 70 batang per minggu adalah 34,71%, sebagaimana yang dia kutip dari SUSENAS—tetapi juga bagaimana dampaknya terhadap perempuan.  Sudah banyak data menunjukkan bahwa perempuan banyak tersingkir haknya atas pemenuhan kebutuhan gegara kepala rumah tangga memilih untuk mengutamakan konsumsi rokok di atas kebutuhan nutrisi, kesehatan, pendidikan, sandang, dan papan.

Kalau pidato Menteri Moeloek terutama soal SDG3 (Kesehatan dan Kesejahteraan); dan pidato Menteri Yembise meluaskannya dengan SDG4 (Pendidikan) dan SDG5 (Kesetaraan Gender); pidato Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas, melihat permasalahan rokok secara lebih komprehensif lagi.  Di awalnya dia memang bicara soal SDG3, dengan penekanan pada pengurangan kematian prematur serta penguatan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di seluruh negara, namun bagian berikutnya dia bicara soal bagaimana pengendalian tembakau berkontribusi pada pencapaian seluruh Tujuan SDGs.

Menurut Menteri Brodjonegoro, ada lima cara kontribusi pengendalian tembakau dalam mencapai SDGs.  Pertama, melalui alokasi sumberdaya yang dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif.  Ini terkait dengan kesuksesan SDG1 (Penghilangan Kemsikinan) dan SDG2 (Penghilangan Kelaparan).  Kedua, melalui pengurangan risiko kematian dan dampak negatif dari produk rokok.  Dalam hal ini, Menteri Brodjonegoro menegaskan kaitan antara pengendalian tembakau dengan SDG3, SDG4, SDG5, SDG8 (Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG10 (Pengurangan Ketimpangan).

Kontribusi ketiga adalah lewat penciptaan kondisi lingkungan yang bebas dari limbah dan polusi.  Dalam hal ini, pengendalian tembakau menopang pencapaian SDG6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG7 (Energi Terjangka dan Bersih), SDG11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), SDG12 (Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan), SDG13 (Pengelolaan Perubahan Iklim), SDG14 (Kehidupan di Bawah Air), serta SDG15 (Kehidupan di Daratan).

Keempat, pengendalian tembakau akan mendukung pengembangan industri yang intensif tenaga kerja yang kompatibel dengan cita-cita kesehatan dan kesejahteraan.  Ini berarti, sebagaimana yang bisa dilihat pada teks pidato Menteri Brodjonegoro, akan menyumbang pada pencapaian SDG9 (Industri, Inovasi, dan Infrastuktur).  Terakhir, pengendalian tembakau juga bakal mendorong pembangunan dan kebijakannya yang holistik.  Ini sesuai dengan SDG16 (Perdamaian dan Kelembagaan yang Kokoh) serta SDG17 (Kemitraan untuk Pencapaian Tujuan).

Dengan uraian para menteri itu, sangat jelas bahwa posisi politis pemerintah adalah bersesuaian dengan cita-cita pengendalian tembakau.  Masing-masing menteri telah menegaskan bahwa di era SDGs ini pengendalian tembakau harus dikuatkan.  Industri rokok tak bisa dibiarkan terus mengambil keuntungan yang besar sambil membahayakan pembangunan.  Jelas bahwa kepentingan industri rokok dan pencapaian SDGs tidaklah kompatibel.  Pernyataan dari pidato Menteri Brodjonegoro berikut ini meringkas dengan sangat baik apa yang menjadi komitmen Pemerintah RI: “Therefore, as Indonesia has many ultimate development agendas which are relevant to SDGs, Indonesia must succedd in tobacco control strategies.” (Huruf tebal dari teks asli.)

Kalau posisi pemerintah sudah demikian, maka sangat perlu dibuktikan dengan kebijakan-kebijakan yang konsisten dengan pengendalian tembakau.  Di sisi lain, mereka yang mendukung pengendalian tembakau perlu lebih jauh mendukung pencapaian SDGs bersama-sama dengan kementerian/lembaga pemerintahan, serta bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan yang sejalan.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga adalah salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia.

By |2018-09-30T07:15:43+00:0021 September 2018|Kesehatan, Opini, Produk|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *