4 Manfaat Nyata Aksi Iklim di Perkotaan

Sebanyak 95 negara di 7 benua baru saja selesai menggelar aksi “Rise for Climate” menuntut pemerintah untuk lebih serius mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dan pemanasan global. Di Indonesia, kolaborasi 76 organisasi di 19 kota turut menyelenggarakan 28 aksi mendorong kepemimpinan dan komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengembangkan energi bersih. Secara keseluruhan terdapat lebih dari 850 aksi “Rise for Climate” yang dilakukan 464 organisasi dari seluruh dunia. Aksi ini diharapkan dapat menjadi contoh baik bagi aksi-aksi lain di tingkat individu, komunitas, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta.

Penelitian terbaru dari C40 Cities, The Global Covenant of Mayors for Climate & Energy dan the NewClimate Institute yang dirilis Minggu, 9 September 2018 menemukan, aksi peralihan dan pengembangan energi bersih di perkotaan bersama dengan aksi-aksi perubahan iklim yang lain, bisa membawa manfaat nyata bagi ekonomi, kesehatan dan lingkungan.

Penelitian berjudul “Climate Opportunity” yang didanai oleh Bloomberg Philanthropies ini mengkaji sejumlah aksi perubahan iklim yang efektif untuk wilayah perkotaan. Aksi tersebut meliputi aksi peningkatan efisiensi energi di perumahan dan bangunan, aksi perbaikan jaringan transportasi publik dan aksi peralihan ke energi terbarukan.

Tim peneliti menyimpulkan, ketiga aksi ini secara keseluruhan akan mencegah 1,3 juta kematian prematur per tahun. Aksi-aksi ini juga akan menciptakan 13,7 juta lapangan kerja, memotong 40 miliar jam waktu komuter plus miliaran dolar biaya rumah tangga per tahun.

Secara spesifik terdapat empat manfaat utama dari aksi perubahan iklim di perkotaan. Keempat manfaat tersebut adalah:

Manfaat pertama, aksi efisiensi energi di rumah, bangunan dan gedung-gedung di perkotaan akan menciptakan 5,4 juta lapangan kerja di seluruh dunia. Aksi efisiensi energi juga akan menghemat pengeluaran rumah tangga dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Manfaat kedua, perbaikan jaringan transportasi publik akan mencegah kematian prematur yang disebabkan oleh polusi udara dan kecelakaan lalu lintas. Layanan transportasi publik yang lebih baik juga akan mengurangi 40 miliar jam waktu komuter per tahun pada 2030 – sehingga kita tidak menua di jalan – sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Manfaat ketiga, peralihan ke energi terbarukan terutama untuk sistem pendingin dan pemanas ruangan mampu mencegah 300.000 kematian prematur per tahun pada 2030, sekaligus menciptakan 8,3 juta lapangan kerja dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Manfaat keempat, secara keseluruhan, aksi dan kebijakan iklim akan meningkatkan pendapatan masyarakat miskin di perkotaan di negara berkembang melalui pengenalan teknologi-teknologi baru.

“Kota menyumbang 73% emisi gas rumah kaca dunia, sehingga aksi iklim di perkotaan dalam skala masif diperlukan untuk mencapai target tertinggi Kesepakatan Paris,” ujar Thomas Day dari NewClimate Institute, yang memimpin penelitian ini.

Ilmuwan dari seluruh dunia sepakat bahwa manusia telah mengacaukan aliran udara di atmoster dengan menghasilkan polusi gas rumah kaca pemicu pemanasan global dan perubahan iklim. Aksi-aksi perubahan iklim yang diserukan salah satunya melalui kampanye “Rise for Climate” menjadi peluang untuk memperbaikinya sekaligus menjawab masalah-masalah lain, peningkatan kualitas kesehatan, pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tunggu apa lagi?

Redaksi Hijauku.com

By |2018-09-11T17:01:11+00:0011 September 2018|Berita, Iklim, Komunitas|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *