Demi Keruntuhan Trump dan Perubahan Iklim

Oleh: Jalal *

Saya belum lagi genap berumur 1 tahun ketika buku All the President’s Men karya Carl Bernstein dan Bob Woodward terbit pada Juni 1974. Film berjudul sama keluar dua tahun kemudian, melambungkan Dustin Hoffman (sebagai Bernstein) dan Robert Redford (sebagai Woodward) ke langit-langit popularitas.

Mungkin di sekitar tahun 1988 saya menonton film besutan Alan J. Pakula itu. Kesan saya pertama, film itu betul-betul pantas diguyur 8 nominasi Oscar, dan memenangkan 4 di antaranya. Tapi saya tak habis pikir bagaimana mungkin Hoffman dan Redford tak dihampiri nominasi Oscar untuk peran mereka yang sedemikian ciamik.

Setelah menonton film itu, saya punya cita-cita baru. Jadi jurnalis investigatif, walau tak jelas betul maksudnya di benak saya ketika seumur itu. Pada saat tersebut, dan masih begitu hingga sekarang, saya pikir jurnalisme investigatif adalah pekerjaan super-keren. Bernstein dan Woodward, yang laporannya bisa membantu merontokkan kepresidenan yang curang itu, jadi idola saya.

Tapi saya baru memegang dan membaca buku itu setelah kuliah. Mungkin di tahun 1992. Cinta saya pada profesi jurnalisme makin membuncah. Sesekali saya menulis di mading kampus, di koran daerah, juga di kalawarta yang terbit di Bogor. Bogor ketika itu, tepatnya di kampus IPB, adalah kawah candradimuka para jurnalis kenamaan negeri ini, dan sedikit banyak saya terciprat lavanya. Secara bergurau, para mahasiswa dan dosen bilang bahwa IPB memang Institut Publisistik Bogor (selain ‘p’ lainnya yang juga terkenal, perbankan).

Buku itu, bila ingatan saya tak karatan, saya temukan di perpustakaan The British Council di S. Widjojo Center. Tempat itu adalah oase luar biasa bagi kutu buku macam saya yang duitnya jauh dari cukup untuk melawat ke luar negeri setiap kali ingin membaca buku-buku popular. Di perpustakaan itulah saya menemukan sumber-sumber bacaan bermutu tinggi, termasuk buku duo Bernstein-Woodward itu.

Terus Menulis, Walau Bukan Jurnalis

Lebih dari kekaguman saya terhadap filmnya, buku itu betul-betul mengharu biru. Ratusan halaman saya lahap dalam sehari. Hanya berhenti lantaran kelelahan membaca menjelang dini hari. Dan ketika bangun beberapa jam kemudian, saya langsung meneruskan membacanya lagi hingga selesai.

Sungguh saya tak menyangka bahwa buku non-fiksi bisa semenarik itu. Pada periode yang sama, saya sedang tergila-gila pada novel-novel Tom Clancy, dan saya pikir gambaran intrik politik dan hukum yang dinarasikan Bernstein dan Woodward itu tak kalah dengan deskripsi Clancy. Kata-katanya sedemikian kaya, ketegangan terbangun sempurna, menarik hati dan menggamit benak. Dan saya semakin ingin seperti mereka, mengasah terus kemampuan meneliti fenomena sosial dan belajar menuliskan hasilnya dengan giat.

Beberapa tahun kemudian saya lulus kuliah, dan walau terus menyukai menulis, saya jatuh cinta pada profesi menjadi peneliti isu-isu keberlanjutan, khususnya lingkungan. Tetapi saya hanya punya waktu 2 tahun saja sebelum gunjang-ganjing Indonesia membuat saya ada di pusaran demonstrasi melawan rezim Soeharto. Tentu, saya turun ke jalan, berteriak lantang bersama rekan-rekan di Bogor dan Jakarta. Tapi, saya juga menyempatkan diri menulis, merekam peristiwa di jalanan dan di gedung-gedung simbol pemerintahan. Terkadang dipublikasikan, namun kebanyakan dicetak lalu diperbanyak sendiri.

Jadi, alih-alih menjadi jurnalis serius, saya menjadi penulis pamflet politik untuk menyemangati gerakan sosial meruntuhkan 32 tahun kekuasaan Orde Baru, selain melaporkan kejadian-kejadiannya. Bukan seperti yang saya bayangkan, menapaki jejak Bernstein-Woodward, 2 idola saya, tapi saya harus bilang bahwa dorongan untuk menulis, merekam derap reformasi, terutama datang dari mereka itu.  Bukankah yang mereka lakukan juga adalah merekam peristiwa seputar peralihan kekuasaan?  Tentu saja, yang mereka lakukan sangat berpengaruh pada perubahan di negerinya itu, sementara saya cuma anak bawang dalam peristiwa sejarah yang sangat penting buat negeri ini.

Trump: Musuh Alam, Musuh Manusia

Dua puluh tahun setelah akhirnya Soeharto lengser, saya menginginkan seorang presiden lain lengser. Bukan presiden negeri sendiri, melainkan Presiden AS, Donald Trump. Agaknya kekacauan yang dia buat sudah jauh melampaui toleransi orang-orang normal. Bukan cuma warga AS yang tentu paling dibuat menderita oleh presidennya, tapi juga warga dunia.

Mungkin alasan pertama saya adalah dampak kebijakan Trump atas perubahan iklim. AS adalah negeri dengan emisi luar biasa besar, yang di bawah kepemimpinan Barack Obama sudah mengarahkan dirinya dengan benar. Bahkan, AS sudah mengikat perjanjian bilateral dengan Tiongkok untuk menguatkan upaya-upaya kerjasama mitigasi.  Ketika dua pengemisi terbesar telah mengikatkan diri dalam kerjasama, kita punya peluang untuk melihat dunia yang lebih baik.

Kalau ada buku kumpulan kalimat terkenal yang diucapkan seorang presiden AS, kalimat ini pasti masuk ke dalamnya, “Those who think we are powerless to do anything about the greenhouse effect are forgetting about White House effect.” Kalimat itu diucapkan oleh George Bush Sr. pada tanggal 31 Agustus 1988. Dan, walaupun dia sendiri tak berbuat banyak lantaran Partai Republik kemudian makin dikuasai pendusta perubahan iklim, AS terus memimpin dunia dalam sains perubahan iklim, ‘meminjamkan’ Al Gore untuk menjadi penggerak utama gerakan global menghadapi perubahan iklim, dan memastikan Obama memimpin AS masuk ke dalam perjanjian global terpenting, dalam situasi tergenting, untuk mengatasi perubahan iklim.

Lalu, bencana (untuk) alam pun datang. Trump kalah 3 juta suara di popular vote, tetapi menang jauh di atas Hillary Clinton dalam electoral vote.  Dan Gore pun bergegas ke kediaman Ivanka Trump untuk bicara soal kelanjutan kepemimpinan AS dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Gore pasti tahu bahwa Trump akan membuat kebijakan-kebijakan kontroversial soal lingkungan dan perubahan iklim, dan dia berusaha membujuk lewat anaknya yang waktu itu tampak memberi harapan.

Tapi itu cuma harapan kosong. Buku dan film dokumenter Gore yang terbaru, An Inconvenient Sequel: Truth to Power, merekam awal bencana itu. Tanggal 1 Juni 2017 kemudian tercatat dalam sejarah dunia sebagai tanggal pernyataan keluarnya AS dari Perjanjian Paris. Seluruh dunia terhenyak. Kita semua Trump bukanlah kampiun isu-isu lingkungan, tapi tak juga menyangka tindakannya bisa seedan itu.

Tentu, gerakan perlawanan atas keputusan Trump menjadi besar. Masyarakat, pemerintahan kota dan negara bagian, serta perusahaan di AS membentuk gerakan We Are Still In, yang menegaskan walau Trump bilang keluar dari perjanjian itu, mereka bakal melanjutkannya dengan menganggap bahwa AS tetap berada di dalam perjanjian.

Tetapi beberapa studi menunjukkan hasil yang sudah teramalkan. Gerakan itu tidak memadai. Apalagi Trump juga menunjuk musuh lingkungan bernama Scott Pruit untuk mengobrak-abrik seluruh kebijakan pro-lingkungan yang sudah dibuat pemerintahan sebelumnya. Pruitt kini telah lengser, namun kerusakan luar biasa dalam kebijakan publik sudah dia buat, terutama untuk menguntungkan perusahaan-perusahaan yang satu kubu dengan mereka. White House effect kini sedang bekerja, namun dalam arah kebalikan dari apa yang dinyatakan Bush Sr.

Jadi, bagaimana saya tak menginginkan Trump dijungkalkan dari kursinya? Dia bukan cuma membuat negerinya sendiri kacau, namun membahayakan dunia lewat rentetan ke(tidak)bijakan yang ia buat. Belum lagi, urusan-urusan lain yang menunjukkan bahwa dia bukan cuma mindless atas apa dampak keputusan dan tindakannya, tetapi juga jahat dan tidak kapabel sama sekali dalam mengelola AS, termasuk dalam urusan diplomasi yang pantas.

Kalau dulu kata ‘presidensial’ dan ‘diplomatis’ melekat konotasi positifnya, sejak Trump menjadi Presiden AS kedua kata tampak mengalami degradasi. Trump sendiri mengejek kata ‘presidensial’ di depan pendukungnya yang bersorak-sorai. Dan, setiap kali Trump melakukan lawatan ke luar negeri, bisa dipastikan ujaran tak pantas keluar dari mulutnya kepada pemimpin negara-negara lain. Kecuali terhadap Vladimir Putin, orang yang dianggap sudah memegang leher Trump entah lewat cara apa, dan kemungkinannya membantu pemenangannya di pemilu AS yang lalu.

Dari dalam negerinya sendiri dia bisa melabel Muslim, orang Meksiko, orang Afrika, dan lainnya dengan sebutan yang tak terbayangkan bisa keluar dari mulut seorang presiden. Trump jelas rasis dan perisak nomor wahid. Dia memerlakukan anak buahnya sendiri dengan buruk, memberi nama panggilan yang tak pantas, apalagi ketika mereka sudah tak jadi bagian dari lingkaran terdekatnya. Terakhir, Omarosa Manigault Newman, dia katai ‘anjing’ lewat twitter.

Ramai-ramai Berusaha Membunuh Monster

Membicarakan perilaku negatif Trump itu bakal menghabiskan waktu sangat banyak. Trump adalah tukang kibul nomor wahid. Dua hari lalu, blog pengecekan fakta dari Washington Post melaporkan bahwa dalam 592 hari kekuasaannya, Trump berdusta 4.713 kali, alias hampir 8 kali sehari.  Statistik itu merupakan ‘peningkatan’, lantaran dalam 100 hari pertama Trump ‘cuma’ berbohong 4,9 kali sehari. Dia tak peduli kebenaran dan fakta.

Trump juga punya banyak kasus dengan perempuan yang dia lecehkan dan/atau dia jadikan mitra seks ketika dia terikat dalam pernikahan. Kasus pelecehan seksualnya telah dilaporkan oleh 20 perempuan hingga akhir 2017.  Sementara, di tahun ini ada kasus dengan bintang film ‘dewasa’ Stormy Daniels, dan model majalah Playboy Karen McDougal.  Kini telah diketahui Daniels mendapatkan ‘kompensasi’ USD130.000, dan McDougal mendapatkan USD150.000. Trump membanggakan betapa dirinya ‘bisa’ mendapatkan perempuan mana saja yang dia mau kepada Billy Bush, seorang penyiar acara gosip di NBC, dan rekaman pembicaraan tak sopan itu bocor.  Sementara, pengaturan pembayaran ‘uang diam’ untuk Daniels dan McDougal diatur oleh pengacaranya, yang ternyata juga merekam pembicaraan itu.

Kolusi dengan Rusia (pengkhianatan!) adalah perilaku negatif Trump lainnya yang sedang diselidiki selama berbulan-bulan, dan semakin benderang buktinya.  Keterangannya berubah-ubah dari tidak ada pertemuan dengan wakil Rusia, menjadi ada pertemuan namun tentang adopsi, berganti lagi menjadi ada pertemuan di mana wakil Rusia menawarkan bocoran data soal Hillary Clinton namun tak pernah termanifestasi, hingga pembelaan terakhir yang sangat konyol: kolusi itu bukan kejahatan.  Berbohong terus, berganti-ganti posisi setiap saat, adalah ciri kepresidenan Trump.

Sudah ribuan artikel yang ditulis para pakar untuk mengritik Trump lantaran perilaku negatifnya itu. Setiap media massa yang terkemuka sudah menurunkan artikel yang menghajar Trump. Apalagi, Trump juga terus menerus melecehkan media massa. Bukan cuma setiap pemberitaan yang dianggapnya merugikan dia cap sebagai fake news, kabar palsu; melainkan juga Trump telah mendeklarasikan media massa dan profesi jurnalisme sebagai ‘musuh masyarakat’.  Beberapa minggu lalu Boston Globe bahkan mengorkestrasi editorial kecaman atas perilaku Trump. Lebih dari 300 media massa mengikutinya, sehingga hari itu, 16 Agustus 2018 selamanya akan tercatat sebagai hari perlawanan pers terhadap Trump.

Kita juga tak kekurangan buku yang memotret kepresidenan Trump. Dari sumber manapun, sebanyak apapun sumber yang dikutip, hasilnya cenderung sama. Trump memang bigot, rasis, seksis, jahat dan tak mampu menjalankan pemerintahan dengan tata kelola yang beres.

Di tahun ini saja ada Russian Roulette: The Inside Story of Putin’s War on America and the Election of Donald Trump karya jurnalis Michael Isikoff dan David Corn yang membeberkan bukti bahwa Rusia memang berada di balik kekacauan pemilu AS yang memenangkan Trump. Itu di bulan Maret. Sebelumnya, membuka tahun, ada Fire and Fury: Inside the Trump White House yang juga ditulis oleh jurnalis Michael Wolff dan menjadi buku laris hingga sekarang.

Itu yang ditulis jurnalis yang ‘netral’. Bekas sekutu Trump yang muak juga menulis untuk mengungkap betapa busuknya sang presiden. Newman, yang dikatai ‘anjing’ oleh Trump menulis Unhinged: An Insider’s Account of the Trump White House. Pada saat yang tak terlalu jauh jaraknya, terbit juga Everything Trump Touches Dies: A Republican Strategist Gets Real about the Worst President Ever karya seorang ahli strategi Partai Republik, Rick Wilson. Kedua buku baru terbit sekitar sebulan lalu, dan mengkonfirmasi kekacauan yang digambarkan oleh para jurnalis yang saya sebut terlebih dahulu.

Satu lagi buku penting yang harus disebut adalah A Higher Loyalty: Truth, Lies, and Leadership. Buku itu ditulis James Comey, pimpinan FBI yang dipecat Trump lantaran ogah mengikuti permintaan Trump untuk ‘melupakan’ kasus yang bakal merugikannya. Buku ini adalah gambaran bagaimana Trump memang pemimpin nir-etika dan berpikir bahwa dia bisa mencampuri proses penegakan hukum. Siapapun yang pernah belajar selintas soal trias politica memang bakal tak habis pikir dengan kelakuan Trump.

Semua artikel dan buku itu adalah panah beracun yang dilemparkan ke tubuh monster bernama kecil Donnie itu. Tetapi sang monster terus melawan, bahkan mengamuk setiap kali panah mengenainya. Semua penulis yang dia anggap melukainya mendapatkan  semprotan ludah beracun lewat kicauannya di twitter, atau sumpah serapahnya yang biasanya disiarkan oleh media sayap kanan macam Fox News, yang sesungguhnya paling banyak membuat fake news.

Cahaya di Ujung Lorong Gelap Dunia

Tapi monster yang tampaknya masih kuat itu agaknya telah melemah. Robert Mueller, pimpinan penyelidikan keterlibatan Rusia dalam pemilu AS semakin dekat dengan bukti-bukti keterlibatan Trump. Orang-orang terdekat Trump, termasuk bekas pengacaranya, Michael Cohen, sudah bicara dengan tim Mueller dan ‘menyanyi’ untuk mengurangi hukuman. Paul Manafort, pimpinan kampanye Trump yang memilih tutup mulut, bahkan sudah dinyatakan bersalah untuk banyak kasus, dan masih menghadapi rentetan persidangan lain. Jelas Manafort tak bakal lagi menghirup udara luar penjara lantaran hukuman ratusan tahun bakal dia jalani. Dan entah berapa lagi, setidaknya belasan, orang-orang dekat Trump yang kini tekuk lutut di sudut kerling Mueller. Tatapan mata Mueller yang dingin, dagunya yang tegas, pasti menakutkan bagi orang-orang dekat Trump itu. Dan hampir pasti Trump juga gemetaran dibuatnya.

Panah beracun berikutnya yang sangat kuat datang dari sang maha-jurnalis, Bob Woodward. Fear: Trump in the White House, judul buku terbaru Woodward itu, baru akan terbit minggu depan, namun dunia sudah dihebohkan oleh potongan-potongan isinya yang telah dicicil keluar sepanjang minggu ini. Media massa berpesta pora menyambut kedatangan karya idola setiap jurnalis, calon jurnalis, atau mantan calon jurnalis seperti saya.

Woodward telah menulis buku soal presiden-presiden sebelum Trump, dengan kejujuran brutal. Clinton, Bush Jr. dan Obama habis dia kuliti. Semuanya telanjang di hadapan publik gegara reportase brilian Woodward. Tapi tak ada yang gambaran objektif negativitasnya mendekati Trump. Kita bahkan kini menyadari bahwa Bush Jr. yang kerap dibilang pandir ternyata jauh lebih mumpuni dibandingkan Trump. Dan mungkin itu yang membuat orang-orang terdekat Trump sekalipun melabel sang presiden sebagai idiot. Rex Tillerson, mantan Menlu AS yang dipecat lewat media sosial, bahkan dikutip pernah menambahkan umpatan f word di depan idiot ketika memaki Trump.

Begitulah. Saya mungkin sudah membaca semua artikel sneak peek soal buku terbaru Woodward. Semakin membaca ulasan awal itu, semakin ingin segera membaca tulisan idola saya, sekaligus salah satu figur yang membuat saya terus berlatih meneliti dan menulis itu. Buku Woodward (dan Bernstein, yang jumlahnya jauh lebih sedikit) manapun saya baca dengan rakus, apalagi buku dia tentang Trump, yang menurut saya adalah monster yang harus dihentikan kekuasaannya.

Beberapa ulasan meragukan buku ini bakal membawa dampak yang lebih kuat dibandingkan buku-buku yang sudah saya sebutkan sebelumnya.  Namun saya berpendapat lain.  Woodward adalah perwujudan dari tonggak integritas jurnalisme, dan kalau ada peluang perubahan kondisi dari jurnalisme, maka peluang terbesarnya ada pada Woodward.  Integritas Woodward itu tanpa cela, sementara orang yang berbohong 8 kali sehari, di altar kebenaran, tentu bukan lawan yang berat buat sang maha-jurnalis.  Saya membayangkan, panah beracun dari Woodward ini benar-benar menghunjam di leher Trump, menjadi yang paling mematikan di antara yang lain.

Mengingat reportase Bernstein-Woodward dahulu bisa membantu melengserkan Richard Nixon, saya kini berharap reportase Woodward bisa mendatangkan manfaat yang sama, lengsernya Trump, atau setidaknya tak efektif lagi kekuasaannya. Mungkin Trump tetap bisa menjadi presiden hingga masa jabatannya nanti berakhir, tetapi pengungkapan oleh Woodward bakal membuat AS akan mencari orang yang waras dan kapabel untuk memimpin mereka.  Saya sungguh berharap pada Woodward, dan Mueller, untuk menghadirkan perubahan yang sungguh diperlukan dunia ini. Dan karena kita, umat manusia, perlu secepatnya kembali ke jalur pengendalian perubahan iklim yang benar, beserta hal-hal lain yang selama ini dirusak Trump, maka terhentinya kekuasaan efektif Trump itu juga perlu terjadi sesegera mungkin.  Lebih cepat lebih baik.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA.

By |2018-09-09T11:59:28+00:007 September 2018|Iklim, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *