Potensi Energi dari Pulau Terluar Indonesia

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok *

Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan penduduk terpadat di dunia. Angka kepadatan penduduk di Indonesia bertambah setiap tahunnya. Dan diperkirakan pada tahun 2025, Indonesia akan dihuni oleh lebih dari 270 juta jiwa. Angka tersebut tentu membutuhkan suplai energi yang mencukupi di era yang akan datang. Memang, selama ini belum ada masalah serius tentang produksi energi minyak dan batu bara. Namun, di lain sisi tabel berikut memberikan pesan penting bahwa negara Indonesia telah mengalami ketergantungan dengan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui.


Gambar 1. Potensi dan komposisi energi nasional

Beberapa tahun setelah krisis moneter di akhir orde baru, beberapa penelitian tentang ketahanan energi di Indonesia telah dilakukan oleh beragam institusi. CADES (Comparative Assessment of Different Energy Sources for Electricity Generation in Indonesia) yang bekerja sama dengan IAEA (International Atomic Energy Agency), telah melaksanakan penelitian dengan berdasarkan pada beragam aspek pada periode 2001 – 2002. Hasilnya adalah, kekayaan alam minyak bumi dan bahan bakar fosil yang dimiliki oleh Indonesia hanya bertahan sampai tahun 2025. Apabila tidak ada inisiatif dalam penemuan energi terbarukan, maka krisis suplai energi nasional dapat terjadi di masa yang akan datang. Tentu hal tersebut akan berakibat buruk pada beragam sektor yang ada di Indonesia.

Faktanya, Indonesia baru bisa memenuhi 54,6 GWh (gigawatts hours) energi listrik. Padahal negeri ini butuh dua kali lipat untuk menyongsong dekade yang akan datang. Apabila hanya berfokus pada eksplorasi bahan bakar fosil, maka ada suatu masa dimana sektor tersebut tidak bisa lagi dieksplorasi, ditambah banyak dampak yang diakibatkan.

Menteri Energi dan Sumber daya Mineral Indonesia, Ignasius Jonan pun menunjukkan kekhawatirannya terkait hal ini. Beliau menjelaskan, kita memiliki perhatian khusus terhadap isu pemanasan global. Dan kita berusaha untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Tetapi kita akan tetap memberikan kenyamanan terhadap masyarakat. Apalagi Indonesia telah berjanji berpartisipasi dalam penurunan emisi karbon di udara tahun 2030. Dengan 314 ton karbondioksida diharapkan dapat dihilangkan dari sektor energi.

Peraturan presiden no. 5 tahun 2006 menyebutkan bahwa biomassa, energi matahari, energi angin, dan energi nuklir harus memenuhi lebih dari 5 persen dalam komposisi energi nasional pada tahun 2025. Kemudian didukung dengan peraturan pemerintah no. 79 tahun 2014 bahwa energi terbarukan harus memenuhi lebih dari 8 persen di tahun 2025. Sehingga sudah sepatutnya Indonesia beralih ke energi terbarukan dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki. Salah satunya adalah pulau terluar.


Gambar 2. Target pemenuhan energi nasional di tahun 2025

Optimalkan Potensi

Energi terbarukan adalah sebuah solusi efektif untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Karena pulau-pulau kecil dan termasuk ke dalam 3T (terluar, terdalam, terdepan), kebanyakan belum teraliri oleh energi listrik. Dan menurut Indonesia Investment, 20 juta orang masih belum menikmati energi listrik di tahun 2017 yang tersebar rata di pulau-pulau 3T yang ada di Indonesia. Memang ada alternatif untuk memasang kabel penghubung lintas pulau. Selain biaya operasionalnya mahal, sistem kerjanya pun belum terlalu efektif karena biaya perawatan yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga kita perlu untuk mengeksplor lebih jauh, energi yang dapat dikembangkan di masing-masing pulau terluar.

Alternatif yang dapat diterapkan di Indonesia, sebagai negara maritim adalah energi dari pasang surut air laut (tidal energy). Energi yang dihasilkan berasal dari pergerakan pasang surut air laut sebagai akibat dari gaya gravitasi dan sentrifugal dari bumi, bulan, dan matahari. Sehingga menimbulkan dua puncak pasang dan dua puncak surut. Efek dari fenomena alam ini hanya dapat dirasakan oleh negara maritim seperti Indonesia, yang terjadi secara kontinu. Sehingga energi yang dihasilkan bersifat stabil, periodik, dan dapat diprediksi.

Tidal energy melibatkan instalasi dari infrastruktur di bawah laut yang bersih dengan efisiensi yang tinggi. Apabila dibandingkan dengan energi angin, dengan menggunakan jenis teknologi yang sama, Tidal energy memiliki keluaran energi listrik 80 persen lebih banyak, karena air memiliki sifat yang lebih padat dari pada angin. Kita bisa berkaca pada proyek Swansea Bay Tidal Lagoon di Severn Estuary di Inggris, yang dapat menghasilkan energi 420 gigawatt hours setiap tahunnya.

Tidak bisa dipungkiri, potensi terbesar Indonesia adalah sektor maritimnya, sehingga sudah sepatutnya kita melakukan optimalisasi terhadap laut dan pulau yang telah dianugerahkan kepada Indonesia. Tidak hanya tidal energy saja yang dapat diaplikasikan di pulau-pulau kecil Indonesia, energi nuklir pun dapat dirintis yang berangkat dari pulau 3T.

Memang dari segi kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM), Indonesia belum cukup kuat untuk berdiri sendiri merintis PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir). Sehingga diperlukan kolaborasi antar negara. Salah satu negara yang dapat diajak bekerja sama adalah Turki. Mereka memiliki Visi Turki 2023, yang mana menjadikan energi nuklir sebagai pemasok utama.

Namun, problematika yang dihadapi oleh pemerintah Turki adalah ketersediaan lahan, sementara kualitas SDM mereka tidak perlu dipertanyakan. Sementara salah satu aspek penting dalam pembangunan reaktor nuklir adalah pasokan air untuk pendingin. Dan Indonesia memiliki potensi alam yang mendukung, apalagi 6.000 pulau tak berpenghuni yang dimiliki. Tentu, Indonesia dan Turki memiliki potensi untuk melakukan sinergi energi melalui pengembangan reaktor nuklir di pulau terluar yang ada di Indonesia.

Dampak yang Ditimbulkan

Pemanfaatan pulau terluar Indonesia sebagai pemasok energi alternatif tentu akan menimbulkan banyak keuntungan. Apabila tidal energy dan sinergi energi nuklir Indonesia Turki diimplementasikan, selain pasokan energi listrik aman untuk generasi yang akan datang tanpa melibatkan bahan bakar fosil, juga akan menggerakkan roda pembangunan, ekonomi, dan infrastruktur lokal.

Secara tidak langsung pemerintah dan masyarakat akan menyadari betapa pentingnya pulau 3T sebagai pemasok energi, sehingga akan menjadi perhatian dan terhindar dari kejahatan penyalahgunaan pulau, seperti menjual atau memakainya untuk kepentingan pribadi.

Lebih dari itu, proyek tersebut juga dapat mendukung program Nawacita Tol Laut pemerintahan Joko Widodo. Serta menjadi langkah awal menuju poros maritim dunia. Karena tidak bisa dipungkiri, Turki akan memanfaatkan jalur laut untuk memasok energi listrik mereka dari Indonesia melalui kapal-kapal, lantaran lebih efisien. Tentu, dengan adanya hal ini, Indonesia dapat berpartisipasi dan memiliki posisi strategis dalam mega proyek Tiongkok One Belt One Road. Yang salah satu misinya adalah mewujudkan Maritime Silk Road 21st Century.

Tidak hanya energi masa depan yang terselamatkan, atau lingkungan yang terbebas dari polusi bahan bakar fosil, juga dapat berdampak pada beragam sektor yang begitu menguntungkan bagi negara Indonesia. Melalui peralihan dan perintisan energi terbarukan dari pulau 3T yang dimiliki oleh Indonesia.

–##–

* Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok adalah mahasiswa Universitas Airlangga yang tertarik pada bidang lingkungan hidup. Ia merupakan alumni program (ENJ) Ekspedisi Nusantara Jaya kontingen Unair 2017 dan peserta lokakarya Jurnalistik Deforestasi dan Biodiversity Indonesia Climate Tracker, Medan 2018.

By |2018-09-06T06:00:05+00:006 September 2018|Energi, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *