Mengasuh Ciletuh: Taman Bumi Kelas Dunia

Oleh: Pradipta Dirgantara *

Taman Bumi Ciletuh – Palabuhanratu (TBCP) yang terletak di ujung barat bagian selatan Jawa menyimpan pesona alam tersembunyi: lansekap alam yang terbentang indah dengan pantai dan deretan air terjun, serta formasi batuan unik yang menjadi bukti jejak tumbukan lempeng bumi di pulau Jawa puluhan juta tahun lalu. Taman bumi ini dapat dicapai menggunakan mobil selama 8 jam perjalanan atau 174 km dari Bandung. Jalur Loji menjadi rute favorit yang layak dijajal karena rampung dibangun dan diresmikan Februari 2018 lalu untuk mempermudah akses menuju Taman Bumi Ciletuh di kabupaten Sukabumi ini. Selain itu jalur Loji menyuguhkan pemandangan tepian pantai Loji dan Ciletuh yang mengundang decak kagum.

Nama Ciletuh sendiri diambil dari bahasa Sunda ‘Ci’ yang artinya air dan ‘Leuteuk Kiruh’ yang artinya lumpur dan keruh. Pada tahun 2015 Ciletuh dikukuhkan sebagai Taman Bumi Nasional berdasarkan standar yang dikeluarkan UNESCO. Tiga tahun terus bebenah diri, TBCP menjajakan tempatnya di kancah internasional sebagai Taman Bumi kelas Dunia atau UNESCO Global Geopark pada April 2018.

Keanekaragaman Bumi Ciletuh

TBCP memiliki luas 126.100 Ha yang meliputi 74 desa di delapan kecamatan, yaitu Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Cikakak, Palabuhanratu, dan Cisolok yang dibagi ke dalam Geoarea Ciletuh, Geoarea Simpenan, dan Geoarea Cisolok. Geoarea Ciletuh memiliki keragaman geologi (geodiversity) yang berbeda dengan taman bumi lainnya.

Komplek batuan di Ciletuh menjadi satusatunya kawasan yang menyingkapkan batuan tertua di Jawa lebih dari 65 juta tahun lalu. Kawasan Ciletuh ini memiliki singkapan geologi yang sangat unik dan langka karena memiliki struktur khas yang tidak lepas dari proses tektonik regional Jawa Barat yang merupakan fosil tektonik dan tumbukan lempeng pada jaman Kapur.

Seluruh singkapan batuan di Clietuh berada di dalam suatu lembah besar menyerupai amfiteater berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah Samudra Hindia yang terjadi karena proses tektonik berupa runtuhan. Amfiteater ini dapat diperhatikan dengan jelas dari beberapa titik seperti Puncak Darma dan Panenjoan yang menjadi tempat wisata andalan Ciletuh.

Dari Puncak Panenjoan, dataran tinggi Jampang terlihat menutupi amfiteater berdiameter 15 km dengan berhiaskan sembilan air terjun (curug) pada dindingnya. Beberapa di antaranya adalah Curug Awang, Sodong, Puncakmanik, dan Cimarinjung. Amfiteater alami ini diyakini sebagai yang terbesar di Indonesia.

Dalam disertasi Martodjojo yang berjudul Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat tahun 1984 disebutkan bahwa teluk Ciletuh memiliki bentuk menyerupai amfiteater berupa pedataran yang dikelilingi tebing tinggi terbuka ke arah barat yang di dalamnya terdapat komplek batuan melange berumur tua (pra-Tersier) dengan perkiraan umur sekitar 120 hingga 65 jutaan tahun lalu. Batuan melange atau bancuh adalah campuran batuan sedimen laut dalam, metamorfik, basa, dan ultrabasa yang pembentukannya berasal dari zona tumbukan. Selain Ciletuh, di pulau Jawa batuan melange ini hanya bisa ditemukan di kawasan Karangsambung, Kebumen, dan Bayat di Klaten – Yogyakarta.

Batuan pra-Tersier di kawasan Ciletuh dapat dijumpai di tiga wilayah yang berbeda, yaitu di utara yang meliputi Gunung Badak dan sekitarnya, bagian tengah yang meliputi Tegal Pamidangan, Gunung Beas, Sungai Citisuk, Tegal Cicalung dan daerah Tegal Butak, dan bagian selatan yang melingkupi Cibuaya. Keunikan batuan di kawasan Ciletuh ini menyita perhatian para peneliti dan akademisi sejak lama termasuk dari Universitas Padjadjaran (Unpad). Asisten Tim Ahli Geologi Unpad untuk Taman Bumi Ciletuh Rinaldi Ikhram menyebutkan bahwa kajian tentang Ciletuh sudah sejak lama dilakukan Universitas Padjadjaran. “Di Unpad sudah ada penelitian tentang Ciletuh sejak sekitar tahun 1990 dan semakin intens pada tahun-tahun selanjutnya. Pada tahun 2006 Prof. Mega Fatimah Rosana menulis ide tentang Ciletuh yang berpotensi dikembangkan sebagai geopark atau taman bumi. Pada tahun 2013 Unpad berkolaborasi dengan Badan Geologi dalam mempublikasikan buku mengenai data geologi Ciletuh dan Jampang dengan judul Keragaman Bumi Ciletuh – Jampang,” ujar Rinaldi.

Dalam publikasi ilmiah lainnya tahun 2015 yang berjudul Potensi Geowisata di Teluk Ciletuh, Prof. Mega dan timnya menjabarkan bahwa kawasan Ciletuh memiliki keragaman geologi yang unik dan tertua di Jawa Barat sehingga bisa dikembangkan menjadi objek wisata kebumian. Objek wisata kebumian di Ciletuh menyorot fenomena zona Subduksi yang menjadi daya tarik Ciletuh.

Rinaldi mengonfirmasi bahwa taman bumi standar UNESCO sudah banyak yang mengedepankan konsep vulkanologi atau gunung api dan karst, sementara kawasan Ciletuh merupakan zona subduksi (tumbukan dua lempeng) yang masih sedikit diusung sebagai taman bumi di Indonesia bahkan dunia. Inilah yang menjadikan TBCP semakin unik.

Menyejahterakan Masyarakat, Memuliakan Bumi

Dalam tiga tahun terakhir ini banyak pengembangan dilakukan di kawasan Ciletuh. Beberapa di antaranya seperti pembuatan jalan yang memanjang di pantai Loji, penyediaan fasilitas umum, dan beberapa festival wisata tahunan untuk menggaet wisatawan. Partisipasi warga lokal menjadi salah satu ujung tombak dalam menarik wisatawan sekaligus merawat taman bumi ini.

Menurut Irwan, yang tergabung dalam sekretariat Badan Pengelola Geopark Ciletuh – Palabuhanratu, pemerintah provinsi Jawa Barat giat dalam mendukung partisipasi warga dan meningkatkan aktivitas kepariwisataan di Ciletuh. “Pemerintah secara berkala mengadakan pelatihan dan sosialisasi homestay dan kepariwisataan yang berbasis konservasi dan lingkungan seperti sapta pesona. Selain itu pemerintah juga bekerja sama dengan berbagai pihak mengadakan acara tahunan di Ciletuh untuk menarik banyak pengunjung. Sayangnya karena tahun ini bersamaan dengan pemilu, anggaran dan publisitas Ciletuh sedikit banyak terpengaruhi.”

Irwan menambahkan sejauh ini belum ada operator wisata yang resmi bermitra dengan pemerintah sehingga untuk kebutuhan wisata di Ciletuh baik itu penginapan, kendaraan, dan juga pemandu wisata dikelola langsung oleh warga lokal. Warga mengelola tempat wisata dengan memungut biaya parkir antara Rp.3000,00 – Rp.10.000,00 dan biaya kebersihan yang jumlahnya sukarela. Hal ini disebabkan masih banyak lahan di kawasan yang status kepemilikannya pribadi. Namun begitu, banyak pemilik lahan yang mendukung pariwisata di TBCP sehingga warga bisa mendapatkan keuntungan langsung dari usaha wisata. Menurut Pengurus Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI) Arief Rusnandi, dalam tiga tahun terakhir banyak warga yang perlahan-lahan berpartisipasi dalam pariwisata yang ada di Ciletuh.

“Masyarakat sini sebelumnya kebanyakan jadi petani atau nelayan. Tapi sekarang sudah banyak yang mulai ikut usaha homestay, jadi pemandu wisata, atau penyedia kuliner. Contohnya di jalan Cimarinjung Kecamatan Ciemas yang awalnya hanya 17 rumah yang dijadikan homestay, sekarang jadi 70 rumah.”

Arief yang pernah menjadi wakil ketua PAPSI ini menambahkan pemberdayaan masyarakat ini didukung Dinas Pariwisata baik kabupaten maupun provinsi dan juga pihak swasta. Beberapa dukungannya diwujudkan dalam bentuk pembangunan fasilitas wisata, pelatihan pemandu wisata dan bahasa Inggris, dan sosialisasi acara kepariwisataan.

Menurut Arief, dari segi pendapatan memang tidak meningkat signifikan untuk semua warga yang terlibat namun sebagian sudah merasakan keuntungan dari pariwisata di Ciletuh. Namun begitu, masih banyak warga yang belum memahami konsep taman bumi terlebih lagi momen pengesahan menjadi taman bumi kelas dunia.

“Banyak warga yang belum mengenal apa itu UNESCO Global Geopark. Tapi itu perlahan saja karena peresmiannya pun baru-baru ini.” Imbuhnya. Selain keanekaragaman geologi dan hayati, fokus area lainnya yang menjadi penilaian UNESCO untuk menentukan taman bumi dunia adalah pengembangan pendidikan taman bumi yang dijunjung sebagai warisan geologi dan kaitannya dengan warisan alam, budaya, dan nonbendawi lainnya.

Di tengah upaya bersama dalam mengasuh Taman Bumi Ciletuh, penebangan liar mulai merambah di beberapa titik. Salah satunya yang terjadi tidak jauh dari pintu masuk Jalur Loji, koridor jalan menuju puncak Darma. Jenis pepohonan yang dipotong adalah mahoni. Hal ini jelas mengancam keasrian Taman Bumi Ciletuh.

Arief menjelaskan bahwa sebenarnya penebangan pohon sudah terjadi sejak lama untuk kebutuhan warga sekitar. Namun penebangan pohon yang liar dan ilegallah yang berpotensi merusak kawasan taman bumi. Potongan pohon di koridor jalur Loji Sumber: Dokumentasi Penulis Sementara menurut Dadah Suhanda, guru sekolah dasar SDN Tegalcaringin yang berada di Ciwaru, pendidikan lingkungan dan konservasi penting diterapkan sebagai upaya menjaga keasrian taman bumi.

Hal ini juga untuk dilakukan untuk memupuk rasa cinta terhadap taman bumi terutama untuk generasi muda. Salah satu upaya mengenalkan taman bumi kepada generasi muda adalah melalui permainan Monopoli Geopark dan membuat Pojok Geopark di sekolah-sekolah. Rencananya SDN Tegalcaringin yang merupakan tempat Dadah mengajar akan dijadikan salah satu sekolah perintis yang memasukan pendidikan mengenai taman bumi sebagai materi kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Para asesor UNESCO sempat terkesan ketika melihat permainan monopoli geopark di sekolah dasar. Mereka bilang bahwa kegiatan edukatif bagi anak seperti ini penting untuk menumbuhkan wawasan tentang taman bumi dan pelestatrian lingkungan sekitar.” Kenang Dadah yang berkesempatan menemani asesor UNESCO saat berkunjung ke Ciletuh. Ia selalu menyampaikan pada murid-muridnya bahwa pelestarian dan konservasi taman bumi dan lingkungannya menjadi tanggung jawab bersama sebagai tradisi dalam memuliakan bumi.

* Pradipta Dirgantara pernah bekerja sebagai jurnalis di TVRI selama empat tahun dan memiliki latar belakang pendidikan manajemen lingkungan dan sumber daya alam. Kini sedang berlatih menulis dan memulai sebagai jurnalis lepas.

By |2018-08-28T05:23:12+00:0027 August 2018|Lingkungan, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *