Masyarakat Adat Fakfak Berkomitmen Menjaga Laut

FAKFAK, PAPUA BARAT – Pada 2 dan 16 Agustus 2018 kemarin, para Raja dan perwakilan dari empat petuanan adat dalam Kawasan Konservasi Taman Perairan di Fakfak yaitu Wertuar, Pigpig-Sekar, Arguni, dan Atiati sepakat untuk membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Berau dan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch, Fakfak. Pokmaswas ini diberi nama Nusa Matan yang berarti “ujung tanjung” dan akan diketuai oleh Yohanis Toisuta. Hasil dari pertemuan ini juga merangkum nama-nama tim pelaksana pengawasan serta komitmen untuk mengaktifkan pos pengawasan di masing-masing Kawasan Konservasi Taman Pesisir.

Pembentukan kelompok ini merupakan hasil diskusi Sistem Pengawasan Masyarakat Kawasan Konservasi Taman Pesisir di Fakfak yang dihadiri oleh keempat petuanan adat di Fakfak, Papua Barat. Acara ini diadakan pada 31 Juli, 2 dan 16 Agustus 2018. Peserta acara ini mewakili petuanan-petuanan adat, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, DKP Kabupaten Fakfak, serta Conservation International (CI) Indonesia sebagai mitra pelaksana proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA), serta fasilitator dalam diskusi tersebut.

Pembentukan Pokmaswas merupakan salah satu langkah dalam proses membangun kawasan konservasi perairan yang efektif di Fakfak sebagai tindak lanjut Surat Keputusan Gubernur Papua Barat No. 523/2017 tentang penetapan pencadangan 350.000 ha untuk kawasan konservasi perairan di Fakfak. Penegakan aturan di dalam kawasan konservasi merupakan salah satu upaya penting dalam menjamin fungsinya sebagai daerah perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan.

“Kami selaku pemerintah mendukung pembentukan Pokmaswas untuk menjaga kawasan konservasi di Fakfak dengan menguatkan kelembagaan Pokmaswas ini. Artinya, Pokmaswas ini akan mendapat bimbingan dan pembinaan dari pemerintah seperti Pokmaswas-pokmaswas di lokasi lainnya,” ujar John F. Tahoba, pemateri dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi Papua Barat. Ia menambahkan bahwa beliau siap mengawal pembentukan Pokmaswas ini.

Langkah selanjutnya dari pembentukan Pokmaswas di Fakfak adalah pengukuhan Pokmaswas oleh DKP Provinsi. Pengukuhan Pokmaswas ini adalah bentuk dukungan pemerintah terhadap komitmen masyarakat untuk melindungi laut yang merupakan tempat mereka menggantungkan hidup.

Pengurus Pokmaswas Nusa Matan dipilih untuk mewakili keempat petuanan dan ditetapkan oleh Musyawarah Raja atau Wakil Raja. Ishak Bay dari perwakilan Petuanan Atiati yang dimandatkan sebagai salah satu sekertaris Pokmaswas menyampaikan, “Sudah menjadi kewajiban masyarakat adat untuk menjaga alam ini sebagai warisan nenek moyang untuk anak cucu.”

“Pokmaswas di Fakfak berbasis adat dan akan mengutamakan peran masyarakat dalam pelaksanaannya. Maka, peran keempat petuanan adat dalam diskusi ini penting. Pokmaswas akan dilaksanakan dengan sistem berbasis petuanan dan pendanaannya bersifat swadaya dan independen. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat adat terhadap laut,” tambah H. Musa Heremba sebagai Raja Petuanan Wertuar, Teluk Berau. “Laut di Fakfak sudah dijaga selama ribuan tahun oleh nenek moyang kami. Maka, sebagai warga kami memiliki tanggung jawab untuk terus menjaganya sampai generasi-generasi mendatang,” tutupnya.

—–

Tentang Proyek USAID SEA. Proyek Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) yang didanai oleh USAID adalah proyek lima tahun (2016 – 2021) yang mendukung pemerintah Indonesia, dalam menguatkan Tata Kelola Sumberdaya Perikanan dan Kelautan serta Konservasi Keanekaragaman Hayati. Proyek yang diimplementasikan oleh Tetra Tech dan konsorsium mitra ini bekerja pada tingkat nasional, provinsi, serta lokal di Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715 Indonesia. Dengan menggunakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dan melibatkan pemangku kepentingan utama, proyek USAID SEA bertujuan untuk (1) menguatkan pengelolaan perikanan dan kawasan perlindungan laut guna meningkatkan produktivitas perikanan, konservasi, dan pemanfaatan berkelanjutan; dan (2) memperkuat kapasitas kepemimpinan dari pemerintah lokal dan Kementrian Kelautan Perikanan (KKP).

Tentang Conservation International (CI). Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman, CI memberdayakan masyarakat untuk menjaga alam, keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia. CI didirikan pada 1987, dan bekerja di Indonesia sejak tahun 1991 untuk mendukung masyarakat madani yang sejahtera melalui upaya perlindungan alam, dukungan sistem produksi yang berkelanjutan, dan dukungan tata kelola yang efektif. CI bermarkas besar di Washington DC, mempekerjakan 900 orang yang bekerja di 30 negara pada empat benua, serta bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi  www.conservation.org

Untuk informasi lebih lanjut:

Ely Andrianita – Communications and Outreach Specialist – Proyek USAID SEA – info@sea-indonesia.org | +62-21-2506262

Nur Ismu Hidayat – Program Manager CI Indonesia – nhidayat@conservation.org

By |2018-08-27T16:52:43+00:0027 August 2018|Komunitas, Siaran Pers|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *