Transisi Energi Tanpa Menyusahkan Rakyat Miskin

Oleh: Norlaili Isnaini *

Upaya pemerintah untuk mencukupi kebutuhan energi domestik dengan bantuan subsidi BBM telah menguras 17% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2012 (Kemenkeu, 2013). Subsidi ini dianggap sudah terlampau besar dan menyebabkan munculnya beberapa masalah di permukaan. Adanya subsidi mendorong pemborosan konsumsi energi, berkurangnya investasi pengembangan energi ramah lingkungan, serta terhambatnya upaya pencegahan perubahan iklim.

Sektor energi diharapkan menyumbang 5% terhadap penurunan emisi gas rumah kaca dari target total. Dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) telah dicanangkan dua upaya untuk mencapai target tersebut. Yaitu meningkatkan efisiensi energi dan pemanfaatan sumber energi berkelanjutan.

Dua upaya di atas bisa saja dilakukan dengan cara menghentikan subsidi BBM. Permasalahannya, bagaimana nasib masyarakat miskin dan menghadapi masyarakat Indonesia yang sudah bergantung pada energi murah?

Menurut Beaton, Gerasimchuk, Laan, Lang, Vis-Dunbar, dan Wooder (2013), upaya mitigasi reformasi subsidi energi dapat dilakukan dengan tiga hal yaitu memperbaiki sasaran subsidi sehingga hanya dinikmati oleh masyarakat miskin, menyubsidi barang dan jasa lain atau pekerjaan umum, dan transfer tunai. Transfer tunai ini dinilai lebih efektif karena masyarakat miskin lebih dominan tidak memiliki kendaraan. Di lain sisi, uang tunai bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masyarakat.

Tentunya, melakukan sebuah perubahan dibutuhkan sebuah proses dan perjuangan besar. Tidak mungkin mudah untuk bisa mewujudkannya. Sama halnya menghentikan subsidi dan proyek – proyek energi fosil. Kita harus lebih dulu membenahi akar masalah dari ketergantungan terhadap energi fosil.

Sebenarnya apa yang menjadi faktor pemerintah untuk melakukan subsidi? Apakah harga BBM yang tinggi? Akan tetapi, bukan subsidi yang menjadi permasalahan penggunaan energi fosil yang besar. Subsidi merupakan kemudahan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin namun disalahgunakan oleh oknum – oknum lain.

Kesadaran masyarakat Indonesialah yang menjadi akar permasalahannya. Kebijakan telah menyebutkan bahwa subsidi hanya untuk masyarakat miskin namun masyarakat ‘sok’ miskin turut mengenyamnya. Hal ini berlanjut dan menyebabkan ketergantungan terhadap energi murah. Mau tidak mau, pemerintah berupaya untuk mencukupinya. Akhirnya, sesuatu yang tidak diinginkan terlanjur terjadi.

Energi Alternatif 

Sumber energi di bumi bukan hanya fosil. Mari sejenak melupakan energi fosil yang mengotori lingkungan. Energi yang menghitamkan udara bumi. Energi yang mungkin setengah abad lagi akan habis. Mari kita mengulas tentang energi terbarukan. Energi berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan. Energi itu bisa bersumber dari biomassa, biogas, air, panas surya, angin, dan ombak.

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Pasal 6 Ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah dapat memberikan kemudahan dan insentif kepada pelaksana konservasi energi dan pengembangan sumber energi alternatif tertentu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Akan tetapi, jika anggaran subsidi saja sudah membludak, bagaimana bisa pemerintah memberikan kemudahan dan insentif kepada mereka? Ujungnya, energi alternatif yang berhasil dikembangkan menjadi lebih mahal dan tidak menjadi minat publik.

Pak Kris, seorang pengelola pabrik pellet kayu di dekat Kota Boyolali, Jawa Tengah pernah berpikir untuk memasarkan produknya di pasar domestik (Zhang, 2018). Tapi urung karena minat masyarakat terhadap pellet masih rendah dan bahkan masyarakat internasional lah yang memiliki minat besar. Sehingga, peluang untuk laku di pasar global lebih tinggi.

Pellet merupakan bahan bakar yang berasal dari komponen tumbuhan seperti kayu maupun limbah pertanian yang dilakukan dengan proses penghalusan, pengeringan, dan pengepresan hingga membentuk potongan yang padat dan kecil. Pellet adalah salah satu produk bioenergi. Bioenergi bisa berupa briket, bioetanol, biodiesel, biogas, dan PPO (Pure Vegetable Oil). Bioenergi terbuat dari bahan – bahan organik alam dan tentunya ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Bioenergi di Indonesia mulai banyak dikembangkan namun belum maksimal. Sarana untuk melakukan produksi besar masih terbilang belum memadai. Embel – embel ramah lingkungan saja masih belum dilirik oleh masyarakat. Ditambah lagi, harganya yang mahal karena terbatasnya sarana produksi bioenergi. Ujungnya, masyarakat semakin menutup mata untuk menggunakan bioenergi.

Bagaimana jika subsidi dihapus dan anggarannya dialihkan pada produksi energi alternatif?

Akan banyak keuntungan jika hal itu benar – benar diimplementasikan. Penghapusan subsidi akan menjadi kesempatan besar pada produksi energi alternatif. Pemerintah bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan pemanfaatan energi alternatif, perusahaan produksi barang penghemat energi, atau pun para inovator yang menghasilkan ide cemerlang terkait energi alternatif. Kemudian, mendukung balai penelitian dan pengembangan dalam usaha menemukan dan menghasilkan produk – produk energi alternatif.

Dengan penunjangan yang hebat dari pemerintah, energi alternatif akan lebih banyak diproduksi. Harga produknya bisa lebih murah. Sedangkan, dengan penghapusan subsidi energi fosil, harga produknya akan lebih mahal. Dari hal ini bisa dibayangkan ke mana masyarakat akan mencari produk energi untuk memenuhi kebutuhan.

–##–

* Norlaili Isnaini adalah mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2016. Ia bisa dihubungi melalui surat elektronik di: [email protected] atau telepon seluler: 082333413340

Referensi 

Beaton, C., Gerasimchuk, I., Laan, T., Lang, K., Vis-Dunbar, D., dan Wooders, P. 2013. Fossil-Fuel Subsidy Reform: A guide for policy-makers in Southeast Asia. Geneva: Global Subsidies Initiative of the International Institute for Sustainable Development.

Kementerian Keuangan Repubik Indonesia. 2013. Komitmen Indonesia Untuk Pembatasan Subsidi Bahan Bakar Fosil dan Peningkatan Efisiensi Energi di G20. https://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/pembatasan%20subsidi%20bahan%20bakar%20fosil%20dan%20efisiensi%20energi.pdf. Diakses pada 3 Agustus 2018.

Zhang, Yabei. 2018. Percontohan di Indonesia Menarik Minat Wirausahawan untuk Membawa Teknologi Memasak yang Sehat dan Hemat Energi ke Rumah Tangga. http://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/id/percontohan-di-indonesia-menarik-minat-wirausahawan-untuk-membawa-teknologi-memasak-yang-sehat-dan. Diakses pada 29 Juli 2018.

By | 2018-08-05T22:18:44+00:00 5 August 2018|Energi, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *