Rafflesia Bengkulu di Antara Ancaman Kepunahan

Oleh : Muhamad Antoni *

Rafflesia arnoldii, puspa langka yang dilindungi, ditemukan mekar di dekat areal pertanian warga pada April 2018 lalu di Desa Air Dingin Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu.  Katuro (40) pemilik ladang  menemukan Bunga Rafflesia tumbuh di dekat lahan garapannya seluas 2 Ha. Kebun tersebut merupakan kebun peninggalan orang tua yang telah diolah sejak 50 tahun lalu dan saat ini dikelola oleh Katuro beserta kakak kandungnya,

Kepada penulis, Katuro bercerita bahwa Bunga Rafflesia yang tumbuh di kawasan ladang garapannya tersebut sudah ditemukan sebanyak empat kali. Pertama kali Katuro menemukannya pada tahun 2012 sekitar 300 Meter dari lokasi Rafflesia yang ditemukan baru-baru ini, lalu pada tahun 2015, 2016 dan terakhir pada tahun 2018. “Kalau yang sebelumnya memang saya tidak memberitahu kepada siapapun hanya saya dan kakak, karena jarak untuk menuju lokasi sangat jauh dan kondisinya medan juga sulit,” kata Katuro.

Sambung Katuro, lokasi tumbuhnya Rafflesia itu bukan hanya dalam satu lokasi. Awalnya ia tidak tahu kalau bunga itu merupakan puspa langka yang dilindungi. “Saya baru tahu pada saat menemukan April 2018 lalu, kalau itu adalah bunga yang dilindungi,” ujarnya. Sejak saat itu Katuro berkomitmen untuk menjaga habitat bunga Rafflesia tersebut meski dia mengakui pengetahuan mengenai Rafflesia sangat minim. Menurut Katuro, saat ini ada satu Rafflesia yang hampir mekar dan satu bongkol yang belum mekar yang lokasinya persis berdekatan dengan Rafflesia yang mekar beberapa bulan lalu.

Katuro menuturkan, ia akan terus berkoordinasi dengan pihak desa apabila ia kembali menemukan Rafflesia yang mekar. Ia lalu membuat pagar pembatas untuk habitat Rafflesia tersebut. “Yang jelas saya sangat senang bunga ini mekar di lahan garapan saya, apalagi bunga itu adalah bunga yang dilindungi.  Bunga itu jelas akan saya jaga,” tutur Katuro.

Tentang Rafflesia

Rafflesia adalah genus tumbuhan bunga parasit. Ia ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818, dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu. Ia terdiri atas kira-kira 27 spesies (termasuk empat yang belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti yang dikenali oleh Meijer 1997), semua spesiesnya ditemukan di Asia Tenggara, di semenanjung MalayaKalimantanSumatra, dan Filipina. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun ataupun akar yang sesungguhnya. Rafflesia merupakan endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma (famili Vitaceae), menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima. Pada beberapa spesies, seperti Rafflesia arnoldii, diameter bunganya mungkin lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm. Bunganya tampak dan berbau seperti daging yang membusuk, karena itulah ia disebut “bunga bangkai” atau “bunga daging”. Bau bunganya yang tidak enak menarik serangga seperti lalat dan kumbang kotoran, yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina. Sedikit yang diketahui mengenai penyebaran bijinya. Namun, tupai dan mamalia hutan lainnya ternyata memakan buahnya dan menyebarkan biji-bijinya. Rafflesia adalah bunga resmi negara Indonesia, begitu pula provinsi Surat ThaniThailand.

Penyebaran Rafflesia di Indonesia

Indonesia memiliki jenis Rafflesia paling banyak di dunia. Dari 25 jenis Rafflesia yang tercatat saat ini, 12 diantaranya berasal dari Indonesia. Di Sabah, Malaysia hanya memiliki 6 jenis. Penelitian ekologi, DNA,dan konservasi Rafflesia relatif lebih aktif dan maju di sana. Demikian juga di Filipina, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, ditemukan 5 jenis Rafflesia baru di Filipina. Sedangkan di Indonesia hanya 2-3 jenis baru ditemukan dalam 20 tahun terakhir. Hal tersebut memperlihatkan perhatian dan penelitian kita sangat tertinggal dari Malaysia dan Filipina, padahal bunga jenis ini muncul pertama kali dari Indonesia. Kurangnya perhatian menjadi hal yang sangat mengkawatirkan karena sebagian besar jenis Rafflesia ini digolongkan dalam kategori terancam punah (endangered).

Agus Susatya, pakar Rafflesia di Provinsi Bengkulu mengatakan, penyebaran Rafflesia di Provinsi Bengkulu hampir merata di setiap kabupaten. Wilayah di mana Rafflesia paling sering mekar terletak di Kabupaten Bengkulu Tengah, Seluma, dan Kaur. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Agus Susatya (dkk), ditemukan 5 jenis Rafflesia di Provinsi Bengkulu yaitu, Rafflesia bengkuluensis, arnoldii, hasseltii, gadutensis dan Rafflesia kemumu/lawangensis yang masuk dalam urutan 15 di Indonesia.

Di Kabupaten Rejang Lebong, potensi bunga Rafflesia terdapat di kawasan wisata Suban Air Panas, Kecamatan Selupu Rejang dan di kawasan hutan aliran sungai Musi di Kecamatan Curup Utara. Menurut Agus, Rafflesia yang ditemukan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, Desa Air Dingin, merupakan habitat baru. “Kalau jenisnya yang di TWA Bukit Kaba itu Rafflesia Arnoldii. Selama penelitian, saya belum pernah menemukan Rafflesia di wilayah itu. Terakhir saya menemukannya tahun 2010 di Kawasan Wisata Suban Air Panas,” ujar Agus Susatya ketika di konfirmasi penulis beberapa bulan lalu.

Ancaman kepunahan Rafflesia

Guru besar Universitas Bengkulu, Prof. Alnopri mengatakan, selain ancaman perambahan, ada ancaman lain yang dapat merusak pohon liana Rafflesia. Ancaman lain tersebut adalah penggunaan pupuk kimia dan pestisida oleh petani di kawasan habitat baru Rafflesia di Desa Air Dingin, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong.

“Ada aturan-aturan yang harus dijalankan petani dalam penggunaan pupuk kimia maupun pestisida agar residu yang berproses tidak mengganggu lingkungan sekitarnya. Apalagi untuk Rafflesia dan bunga Kibut yang cenderung sensitif,” kata Alnopri di Rejang Lebong beberapa minggu lalu. Menurut pengamatan Alnopri, gangguan terhadap Rafflesia memicu perubahan ukuran bunga Rafflesia dan waktu mekarnya yang menjadi lebih pendek.

“Saya mengamati, pada tahun 1990-an, bunga Rafflesia diameternya bisa mencapai 120 cm. Namun semenjak tahun 2000-an diameternya cenderung mengecil, hanya di kisaran 60 sampai 70 Cm,” tuturnya. Pembukaan lahan dan terganggunya ekosistem hutan yang menjadi habitat Rafflesia dapat mengancam keberadaan bunga Rafflesia. Termasuk penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang tidak sesuai dengan ketentuan. “Penggunaan pupuk anorganik pasti memiliki resiko. Apabila petani bisa mengunakan pupuk dengan tepat dosis, tepat waktu dan tepat sasaran, pengaruh (negatifnya) akan tidak terlalu luas. Kalau ketentuan penggunaan ditaati, maka residu yang dihasilkan akan kecil dan tidak mempengaruhi lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Alnopri menambahkan, alih status kawasan hutan di mana terdapat habitat Rafflesia juga sangat dianjurkan, termasuk melakukan pemetaan zona keberadaan Rafflesia, agar keberadaan bunga Rafflesia tetap terjaga dan jauh dari ancaman kepunahan. “Perlu buat sistem zonasi habitat Rafflesia, kalau itu kawasan hutan lindung, sebaiknya dialihkan menjadi cagar alam atau taman wisata alam, tepatnya kawasan konservasi, karena pola konservasi bunga Rafflesia adalah in situ (tidak bisa dipindahkan dari habitat aslinya),” tutup Alnopri.

Mengutip Susatya, A. (2011) Rafflesia pesona bunga terbesar di dunia. Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ministry of Forestry, Jakarta, Indonesia, secara garis besar, populasi atau subpopulasi Rafflesia dapat dijumpai di luar kawasan hutan atau lahan penduduk, dan di dalam kawasan hutan seperti di kawasan hutan lindung, cagar alam, dan taman nasional. Oleh karena itu, tingkat ancaman dan faktor yang mempengaruhi kelestarian Rafflesia sangat beragam tergantung dengan lokasi populasi di atas.

Habitat Rafflesia di lahan penduduk, mempunyai ciri yang khas. Biasanya habitatnya tidak luas (kurang dari 0,1 hektar), di bagian lahan penduduk yang tidak tergarap, dan terletak pinggir sungai atau lereng yang terjal. Vegetasi biasanya didominasi tumbuhan pionir dan membentuk komunitas hutan sekunder muda.

Ancaman kelestarian di lahan penduduk biasanya terjadi melalui tiga proses. Proses pertama adalah terjadinya konversi lahan yang menjadi habitat Rafflesia tersebut menjadi perkebunan. Proses ini umum terjadi di beberapa lokasi Rafflesia di Kecamatan Padang Ulak Tanding – Bengkulu dan Talang Tais, Kabupaten Kaur – Bengkulu. Proses kedua adalah perusakan inang atau kuncup Rafflesia. Proses kedua biasanya masih menyisakan komunitas tumbuhan hutan di sebagian ladang penduduk. Perusakan atau pemotongan inang bisa terjadi karena perilaku iseng, oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Pemotongan inang di bagian cabang atau akar sekunder kemungkinan tidak akan mematikan seluruh kuncup. Hanya kuncup yang muncul di cabang atau akar sekunder tersebut yang terancam mati. Tetapi kalau pemotongan dilakukan pada batang utama, dapat dipastikan semua koloni atau subpopulasi kuncup akan mati, karena kuncup tidak lagi mendapat pasokan hara dari inang. Pemotongan inang boleh jadi dilakukan oleh pemilik lahan, hal ini disebabkan kekhawatiran pemilik lahan tidak akan dapat lagi mengolah ladangnya karena ladang akan ditetapkan kawasan cagar alam. Kondisi ini dapat dijumpai di hampir semua tempat di Bengkulu.

Di beberapa tempat di Bengkulu, khususnya di kawasan hutan lindung di Kabupaten Seluma, penduduk secara tidak sadar melakukan perusakan kuncup Rafflesia dipicu ketidaktahuan. Penduduk kadang-kadang memotong kuncup yang besar dan dipakai untuk bermain sepak bola.

Ancaman ketiga adalah hancurnya seluruh populasi karena banjir atau inang struktural dari liana roboh dan mati. Proses ini biasanya terjadi di habitat yang lokasinya di dekat sungai yang lebar dan kawasannya sangat kecil (kurang dari 0,1 hektar). Contoh dari proses ini adalah hilangnya seluruh populasi di Cagar Alam Pagar Gunung I, yang terletak persis di pinggir Sungai Musi, di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Seluruh populasi R. arnoldii di kawasan ini hancur karena inang struktural liana mati dan hanyut terbawa banjir.

Perhatian masyarakat terhadap Rafflesia baru hanya sampai menjadikannya sebagai ikon dan lambang. Sedangkan upaya konservasinya hampir dikatakan sangat minim. Pada bulan Mei 2018 lalu, Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu Utara menemukan Bunga Rafflesia dirusak, ini menambah cacatan buruk tentang upaya konservasi Rafflesia. Rafflesia yang dirusak tersebut – yang belum sempat mekar dan masih berupa bongkol – berada di Desa Talang Rais Kemumu, Bengkulu Utara. Hingga saat ini Kepolisian Resort Bengkulu Utara masih menyelidiki kasus tersebut.

Dari analisis status konservasi Rafflesia di Indonesia menunjukan ada 8 jenis Rafflesia di Indonesia yang status criteria baru IUCN (International Union For Conservation Of Nature And Natural Resources) status nya Vulnerable (VU)/Rentan, sedangkan untuk Rafflesia gadutensis statusnya EN (Endangered)/Terancam Punah. Sedangkan pada tahun 2011 ada 9 jenis Rafflesia yang statusnya (critically Endangered)/terancam punah, untuk Rafflesia arnoldii statusnya Vulnerable (VU)/Rentan dan Rafflesia pricei Meijer statusnya Low Risk (LR)/resiko rendah dan Untuk jenis Rafflesia atjehensis Kooders statusnya indeterminate (I)/Tidak Pasti/tidak ditemukan kembali. (Sumber kolom Kriteria baru IUCN dan 2011 ini berasal dari Jamili Nais:2001)

Mengapa Rafflesia Harus Dilindungi

Dalam buku IBSAP (Indonesian Biodeversity Strategy and Action Plan 2015-2020) salah satu upaya meningkatkan penyadartahuan masyarakat akan pentingnya Kehati (Keanekaragaman Hayati) adalah melalui penetapan status satwa dan bunga nasional melalui Kepres No 4/1993 Tentang Satwa dan Bunga Nasional. Satwa dan Bunga Nasional ini dianggap mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Spesies bunga yang masuk dalam kategori bunga nasional meliputi:

  1. Bunga Melati (Jasminum sambac)sebagai puspa bangsa
  2. Bunga Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona, dan
  3. Bunga Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka

Pada tahun 1989 dan 2010, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Bunga Rafflesia dilindungi dalam Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya seperti yang dijelaskan dalam Pasal 21, setiap orang dilarang untuk:

  1. Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;
  2. Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3), akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Peran Seluruh Elemen 

Prof Alnopri yang juga merupakan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Rejang Lebong menyatakan, peran pemerintah Kabupaten Rejang Lebong sangat dibutuhkan dengan ditemukannya habitat baru bunga Rafflesia. Menurut dia, apalagi program kepala daerah saat ini adalah mengembangkan pariwisata, hadirnya Rafflesia bisa menjadi ikon kabupaten. “Hadirnya Rafflesia adalah anugerah. Rejang lebong bisa menjadi tujuan wisata dan juga pusat penelitian Rafflesia,” katanya.

Prof Alnopri menambahkan, Pemda Rejang Lebong perlu melakukan pelacakan kembali habitat-habitat Rafflesia yang pernah ditemukan, termasuk meneliti kawasan tersebut dan membuat pemberitahuan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat Rafflesia. “Pemda perlu melakukan pelacakan kembali, seperti yang pernah ditemukan peneliti di Kawasan Wisata Suban Air Panas termasuk mencari tahu kenapa di sana tidak ditemukan lagi Rafflesia, apakah karena rusaknya ekosistem di wilayah itu,” tutup Alnopri.

Di sisi lain, Wakil Bupati Rejang Lebong, Iqbal Bastari mengatakan, kalau memang berdasarkan hasil penelitian wilayah Rafflesia yang mekar di Desa Air Dingin Kecamatan Sindang Kelingi merupakan habitat baru, pemerintah daerah akan mendorong semua pihak bersinergi untuk menjaga kelestarian Rafflesia tersebut. “Pemerintah daerah tentu akan memfasilitasi pemerintah desa, kalau memang hasil riset mengatakan desa tersebut merupakan habitat baru bunga Rafflesia. Upaya menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat wisata dan penelitian juga bakal diupayakan,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, sosialisasi tentang bunga Rafflesia juga akan terus diupayakan supaya masyarakat yang masih awam mengerti bahwa bunga yang merupakan ikon bunga nasional tersebut dilindungi oleh undang-undang. “Rafflesia adalah kekayaan yang perlu di jaga, di rawat dan dipelihara habitatnya. Saya sangat tidak setuju dengan aksi-aksi memindahkan Rafflesia dengan cara dipotong demi kepentingan komersil. Yang jelas pemerintah daerah akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, koordinasi dengan perangkat desa, konsolidasi dengan pihak terkait dari berbagai elemen, untuk bersama-sama menjaga habitat Rafflesia tersebut,” pungkas Iqbal.

–##–

* Muhamad Antoni adalah jurnalis Kantor Berita Radio (KBR) kontributor Provinsi Bengkulu. Ia juga bekerja sebagai jurnalis freelance di kantor media online lokal, Redaksibengkulu.co.id.

Referensi

  • Susatya, A. (2011) Rafflesia pesona bunga terbesar di dunia. Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ministry of Forestry, Jakarta, Indonesia.
  • IBSAP (Indonesian Biodeversity Strategy and Action Plan 2015-2020
By |2018-07-27T20:06:24+00:0027 July 2018|Flora, Komunitas, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *