Cerita Sukses Pemulihan Ekosistem Hutan

Oleh: Ratna Tondang *

Selama ini kita lebih sering mendengar berita tentang deforestasi yang terus meningkat dengan berbagai macam faktor-faktor penyebabnya, mulai dari perluasan lahan pertanian, penebangan kayu liar, kebakaran gambut dan tingkat kemiskinan masyarakat sekitar hutan. Kita semakin resah jika kawasan hutan semakin sedikit dan anak cucu kita tidak bisa menikmatinya kelak. Selama ini kita menempatkan masyarakat sebagai aktor perusak hutan karena mereka melakukan perambahan kawasan hutan sehingga mereka kurang dilibatkan dari proses pemulihan hutan. Namun proses suksesi (pemulihan ekosistem secara alami) memerlukan waktu yang sangat panjang, maka dibutuhkan suksesi secara buatan melalui pelibatan masyarakat secara langsung.

Paradigma-paradigma baru mulai diperkenalkan dengan menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi aktor dalam program pemulihan ekosistem. Masyarakat yang awalnya merambah dan merusak kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mulai berubah dan turut melestarikan hutan. Contohnya seperti di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), yang melibatkan masyarakat untuk menjadi mitra Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dalam kegiatan restorasi. Setidaknya 1187,53 ha kawasan hutan sudah direstorasi sampai tahun 2016 dari total 4.100,21 ha luasan zona rehabilitasi.

Sebelum ditetapkan menjadi Taman Nasional, TNGGP sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani dan melibatkan masyarakat melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Melalui program PHBM masyarakat mendapat akses kedalam hutan dan dapat memanfaatkan sumber daya hutan secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya masyarakat diperbolehkan menanam tanaman kopi dibawah tajuk pohon hutan ataupun menanam tanaman hortikultura di sela-sela pohon hutan sebelum tajuk pohon hutan menutup seluruh areal hutan.

Perubahan status kawasan hutan dari hutan lindung dan hutan produksi menjadi taman nasional pada tahun 1980 memberikan dampak bagi masyarakat, dimana kawasan hutan yang dulunya dapat dimanfaatkan hasil hutan non kayunya, kini sudah tidak diperbolehkan lagi. Upaya pemulihan ekosistem merupakan sebuah tantangan bagi pengelola kawasan tanam nasional karena sebagian besar pekerjaan masyarakat disekitar taman nasional menggarap lahan pertanian didalam kawasan hutan. Orientasi pemanfaatan hutan dialihkan pada kegiatan pemulihan ekosistem sesuai dengan fungsi dari penetapan taman nasional.

Kegiatan pemulihan ekosistem dilakukan melalui kegiatan adopsi pohon dan gerakan rehabilitasi lahan dalam bentuk Pengelolaan Konservasi Bersama Masyarakat. Program adopsi pohon bertujuan untuk mengembalikan fungsi dan kondisi hutan yang semula hutan produksi menjadi hutan konservasi dengan melibatkan masyarakat, organisasi, pemerintah daerah, perwakilan negara asing, perusahaan lokal maupun asing. Biaya yang dikenakan dalam kegiatan penanaman ini adalah Rp 108.000,-/pohon dalam jangka waktu tiga tahun. Dana yang didapat nantinya diserahkan pada kelompok tani dalam bentuk ternak, pertanian organik dan pembinaan wisata alam. Program adopsi pohon dilaksanakan dalam durasi 5 tahun yang dimulai dari tahun 2011 sampai 2016. Program ini bekerja sama dengan OISCA Sukabumi Training Centre yang nantinya akan memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan pemulihan ekosistem hutan. Ada tiga pelaku utama dalam program ini yakni: pelaksana kegiatan, adopter, dan operator. Pelaksana kegiatan adalah masyarakat yang berada disekitar taman nasional, adopter adalah pihak penyandang dana, dan operator adalah OISCA Sukabumi TC yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan.

Gerakan rehabilitasi lahan dilakukan di lahan yang kritis berupa semak belukar yang telah ditinggal oleh perambah hutan. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman asli/natif dan pohon buah-buahan agar nantinya hasil panen buah-buahan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, dilakukan pula kegiatan diluar kawasan hutan berupa budidaya jamur, tanaman hias, pembuat kompos, dan pupuk organik yang didampingi oleh BBTNGGP.

Adopsi pohon dan rehabilitas lahan kritis terbilang cukup sukses dalam upaya pemulihan ekosistem hutan, dilihat dari peningkatan tutupan hutan meningkat setiap tahunnya. Ditemukan pula satwa-satwa asli yang sudah lama tidak pernah terlihat lagi di kawasan taman nasional. Selain itu terjadi peningkatan jumlah pengunjung untuk berwisata di taman nasional bagi dalam maupun luar negeri setiap tahunnya.

Cerita sukses lain

Cerita sukses lainnya berasal dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang telah menargetkan pemulihan ekosistem seluas ± 7728 ha lahan yang telah terdegradasi. Dari tahun 2009-2016, kegiatan pemulihan ekosistem telah mencapai target 67% dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan, pengunjung TNGC, dan mitra kerja sama TNGC yakni Japan International Cooperation Agency (JICA), Japan International System (JICS) dan Yamaha Motor Indonesia. Upaya pemulihan ekosistem hutan di TNGC berjalan cukup sukses dan dapat dilihat dari hasil peningkatan tutupan hutan di beberapa lokasi didalam kawasan TNGC.

Taman Nasional Gunung Ciremai dulunya juga merupakan hutan lindung dan produksi yang melakukan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) sebelum ditetapkan menjadi taman nasional pada tahun 2004. Sejak saat itu, terjadi perubahan pola pengelolaan, dari yang semula untuk tujuan produksi berubah menjadi tujuan perlindungan, konservasi, dan pengembangan jasa lingkungan dan pariwisata alam.

Peningkatan kunjungan ekowisata di TNGC, menyebabkan masyarakat mulai merasakan manfaat ekonomi dari jasa ekosistem TNGC. Kesadaran masyarakat mulai muncul untuk melestarikan kawasan TNGC sebagai aset ekonomi utama. Masyarakat berperan sebagai aktor utama dalam proses pemulihan ekosistem. Pihak Balai Konservasi TNGC menawarkan perpindahan profesi pada masyarakat dari yang dulunya penggarap lahan menjadi pengelola jasa lingkungan. Masyarakat didampingi dalam pengelolaan ekowisata dan memberikan pemahaman nilai dan fungsi penting hutan. Walaupun pada awalnya banyak masyarakat yang berhenti dari pengelola ekowisata, namun masih ada beberapa yang masih bertahan dan tetap didampingi oleh pihak balai konservasi. Dan akhirnya secara perlahan aktivitas ekowisata berjalan dengan pesat dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Manfaat yang dihasilkan dari pemulihan ekosistem ini sangat beragam, mulai dari terindentifikasinya 99 titik mata air didalam taman nasional, peningkatan keanekaragaman hayati, perkembangan ekowisata di taman nasional. Adanya mata air akan memberikan nilai ekonomi dalam konteks valuasi ekonomi dari jasa ekosistem air dimana para pemanfaat air, baik PDAM atau perusahaan-perusahaan memberikan insentif untuk pemeliharaan jasa ekosistem atau kawasan hutan.

Dalam skala nasional, masih tercatat sekitar 24,3 juta ha lahan kritis yang 60% didalamnya merupakan kawasan hutan, baik hutan produksi maupun konservasi. Saat ini pemerintah menargetkan sekitar 5,5 juta ha lahan kritis untuk direhabilitai sampai tahun 2019. Angka ini masih jauh dari luasan lahan yang telah kritis dan ada banyak tantangan yang pastinya akan dihadapi untuk mencapai teraget tersebut, mulai dari kekurangan dana rehabilitasi, kekurangan alat-alat dan fasilitas, kekurangan kemampuan teknis dan kekurangan mitra. Walaupun hanya beberapa wilayah yang sukses dalam upaya pemulihan kawasan hutannya, namun aspek teknis implementasi, strategi pelaksanaan dan aspek lain yang mendukung kesuksesan pemulihan ekosistem dapat direkam dan dijadikan bahan pembelajaran untuk pengembangan lebih lanjut atau inovasi baru dalam pemulihan ekosistem.

–##–

* Ratna Tondang, adalah alumni Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Bandung. Ia sangat tertarik dengan konservasi hutan dan lingkungan.

Referensi

  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (2016) Statistik Lingkungan Hidup dan KehutananTahun 2016. Jakarta.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (2018) Laporan Kinerja 2017. Jakarta.
  • Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia (2018) The State of Indonesia’s Forests 2018. Edited by S. Nurbaya. Jakarta: Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
  • Sawitri, R. and Bismark, M. (2013) ‘Persepsi Masyarakat Terhadap Restorasi Zona Rehabilitasi Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango’, Forest Rehabilitation Journal, 1(1), pp. 91–111.
  • Susmianto, A. et al. (2017) ‘Belajar dari Lapangan’ Kisah Keberhasilan Pemulihan Ekosistem di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam secara Partisipatif. Edited by W. Rudianto et al. Jakarta: FORDA Press.
By |2018-07-27T20:24:46+00:0027 July 2018|Komunitas, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *