Bekka Masakambing: Anugerah atau Musibah?

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok *

Kesan pertama kali ketika sampai di tempat itu adalah sunyi. Seperti tidak ada aktivitas manusia. Hanya bentangan hijau hutan Mangrove sepanjang mata memandang. Sesekali birunya laut menyilaukan mata. Tiba-tiba, suara motor yang mendekat ke dermaga memecah kesunyian. Penulis dan tim tengah dijemput oleh Pak Usman, salah satu warga pulau yang menyediakan tempat home stay kami selama di sana.

Namanya adalah pulau Masakambing. Sebuah gugusan pulau dari kepulauan Masalembu yang termasuk ke dalam wilayah terluar Jawa Timur. Dapat ditempuh 22 jam dari Tanjung Perak menggunakan kapal sabuk nusantara menuju dermaga Masalembu. Kemudian dilanjutkan perjalanan 2 jam naik kapal motor ke pulau Masakambing. Penulis tergabung ke dalam tim Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Airlangga untuk melakukan pengabdian selama hampir satu bulan disana. Dengan fokus pengabdian pada proyek SDGs (Sustainable Development Goals) 2030, salah satunya adalah bidang lingkungan hidup.

Penulis menemukan fakta menarik di pulau tersebut. Yakni adanya spesies endemik pulau berupa burung kakatua kecil jambul kuning. Warga sekitar menyebutnya sebagai bekka Masakambing atau nama latinnya adalah Cacatua sulphurea abbotti. Nama tersebut merupakan bahasa Madura dari burung, mengingat etnis yang tinggal di pulau Masakambing adalah Madura dan Bugis. Pulau yang memiliki luas hanya 770 hektar ini merupakan satu-satunya pulau yang dihuni oleh ras abbotti di dunia. Dengan status sebagai salah satu keanekaragaman hayati Indonesia, sudah sepatutnya kakatua kecil jambul kuning ini dilindungi keberadaannya. Namun, kenyataannya spesies tersebut kini diambang kepunahan. Hanya tersisa 24 ekor saja di seluruh dunia.

Tentu, kondisi tersebut kemudian membuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menargetkan angka peningkatan jumlah populasi terhadap satwa prioritas ini. Angka yang ditargetkan adalah sebesar 10 persen sampai tahun 2019. Angka target tersebut cukup berat bagi satwa yang memiliki tingkat reproduksi rendah. Dari daftar 25 spesies terancam punah– sesuai IUCN Red List Of Treatened Species–yang ditargetkan meningkat populasinya di Jawa Timur terdapat 4 satwa prioritas. Yaitu, Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Banteng (Bos javanicus), Rusa Bawean (Axis Kuhlii) dan Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti).

Dan dari empat satwa prioritas tersebut, yang menjadi sorotan utama pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI adalah Kakatua Kecil Jambul Kuning. Selain karena faktor satwa yang eksotis, langkah tersebut diambil karena habitat tinggalnya yang cukup aneh. Karena habitat aslinya bukan di hutan atau kawasan konservasi melainkan di lahan-lahan milik masyarakat. Tentu ini sebuah target yang berat dalam rangka meningkatkan populasinya.

Deforestasi Hutan Mangrove

Menurut Pak Usman, salah satu penanggungjawab keberlangsungan bekka Masakambing. Mengatakan bahwa bagi sebagian warga kakatua kecil jambul kuning menjadi hama karena sering merusak tanaman di ladang warga. Terutama komoditas jagung yang menjadi salah satu hasil perkebunan masyarakat pulau Masakambing. Pak Usman pun bercerita banyak hal kepada penulis dan tim terkait riwayat spesies endemik tersebut. Menurut beliau disekitar tahun 1980, terjadi ledakan populasi sehingga burung bekka sangat banyak di pulau Masakambing. Akibatnya tanaman pertanian dan perkebunan masyarakat seperti jagung, kelapa dan buah-buahan sering hancur diserbu kawanan burung berparuh bengkok ini. Konflik pun terjadi dan tak terhindarkan. Kakatua yang nama lainnya seperti sebuat untuk pendekar ini dianggap sebagai hama pertanian. Celakanya burung ini tergolong cerdas sehingga masyarakat tak sekadar mematikan tetapi juga memburu untuk kemudian dijual secara bebas hingga ke luar Pulau Masakambing.

Perburuan yang masif membuat populasi Kakatua Kecil Jambul kuning makin terdesak. Ini yang mengubah lingkungan. Di akhir tahun 1990-an tahu-tahu diketahui Kakakua Jambul Kuning sudah diambang kepunahan. Hebatnya, perburuan masih terjadi sampai awal tahun 2000-an. Padahal saat itu Kakatua Kecil Jambul Kuning telah masuk kedalam daftar jenis satwa dilindungi sesuai dengan PP no 77 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perburuan baru benar-benar berhenti pada tahun 2009 karena jumlahnya yang tinggal beberapa ekor. Juga karena Kakatua ini mendapat perhatian lebih dari para pemerhati burung dan Pemerintah. Dan Perdes No. 01 PERDES 435.424.103/2009 Masakambing tahun 2009 juga telah mengatur dengan ketat. Jangankan menangkap, menebang pohon sarang dan pohon pakan saja akan berhadapan dengan sanksi-sanksi yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Desanya.

Salah satu penyebab terjadinya konflik tersebut adalah hilangnya sebagian habitat bekka Masakambing di tanaman Mangrove di sekitaran pulau yang cukup luas. Apalagi status kepemilikan mangrove tersebut belum jelas. Baik dari pihak Perum Perhutani, DKP Kabupaten Sumenep, maupun Dinas Kehutanan Sumenep, hutan mangrove tersebut bukan bagian dari wilayah pengelolaan mereka. Sehingga ada beberapa oknum yang membuka lahan hutan mangrove untuk kepentingan pribadi. Pak Usman bercerita bahwa berhektar-hektar tanaman Mangrove diubah untuk membuka tambak. Namun, karena tidak didasari atas perhitungan dan analisis yang bagus proyek tambak pun gagal. Karena berkali-kali petani tambak mengalami kerugian akibat air laut pasang dan merusak tambak. Kini, wilayah tersebut menjadi lahan kosong yang rusak dan tidak terurus.

Dengan terjadinya deforestasi hutan mangrove, membuat bekka Masakambing berpindah habitat ke perkebunan warga. Tentu hal ini berpotensi menimbulkan konflik dengan masyarakat yang merasa terganggu dengan tingkah dari bekka Masakambing. Terlepas dari peraturan-peraturan yang mencoba untuk mengikat. Bagi masyarakat Masakambing, kehadiran kakatua kecil jambul kuning selain sebagai keanekaragaman hayati, juga sebagai musibah atas tanaman perkebunan. Terutama tanaman jagung yang berpotensi untuk dirusak.

Langkah Strategis

Status Kakatua Kecil Jambul Kuning sangat penting dimengerti oleh masyarakat yang bersentuhan langsung dengan habitat alaminya di Masakambing. Pengertian tak hanya sebatas satwa yang dilindungi Penerintah dengan Undang-Undang. Pengertian harus mampu menyentuh bahwa satwa ini adalah endemik Pulau Masakambing. Jadi, apabila perlindungan terhadap Bekka ini gagal, maka Bekka akan punah. Artinya, sudah tidak ada lagi Bekka di Dunia ini. Status ini harus masif disosialisasikan kepada masyarakat, instansi perintah dilingkup desa, kecamatan, hingga Kabupaten di Sumenep. Menjaga kelestarian Kakatua Kecil Jambul Kuning tidak bisa dilakukan secara sendiri namun harus mendapat dukungan dari semua pihak khususnya adalah masyarakat Pulau Masakambing. Tindakan taktis lainnya adalah pemasangan papan himbauan/informasi.

Tahapan penting lain agar target peningkatan popularitas tercapai adalah adanya pemasangan sarang buatan. Ini penting dilakukan mengingat Kakatua Kecil Jambul Kuning meletakkan telurnya di dalam batang kayu yang growong kemudian mengeraminya sampai dengan menetas. Selanjutnya sang induk bergantian menjaga si anak hingga mampu terbang dan mencari pakan sendiri. Merujuk kejadian tahun 2014, model alamiah seperti ini menjadi ancaman sebab pohon sarang yang di tempati rawan roboh diterpa angin. Mereka akhirnya mati. Seperti juga terjadi tahun 2016, satu anakan Kakatua harus keluar sarang sebelum waktunya terbang karena sarangnya tergenang air saat hujan lebat. Kakatua anakan akhirnya jatuh dan mati. Secara alami Kakatua Kecil jambul Kuning suka bersarang pada batang kayu yang telah mati dan lapuk sehingga ketika angin dan hujan rentan patah bahkan roboh sehingga membahayakan bagi induk dan anaknya sendiri.

Karena Salah satu faktor penentu kelangsungan Kakatua Jambul Kuning adalah ketersediaan pakan, maka program penanaman pohon pakan harus menjadi rancangan yang berkelanjutan. Faktanya, saat ini pohon pakan, pohon sarang, dan pohon tidur masih cukup untuk Kakatua Kecil Jambul Kuning. Namun perlu dipikirkan langkah antisipasi jangka panjang mengingat status pohon yang ditempati sekarang adalah milik masyarakat yang setiap saat bisa saja ditebang kebutuhan ekonomi pemiliknya. Kemungkinan ini membuat Tim Pembinaan Habitat Kakatua Kecil Jambul Kuning menanam 200 semai mangrove, 200 semai kelapa, 200 semai Randu dan 200 semai Kedondong dilahan masyarakat yang telah mendapat persetujuan dari pemilik lahan.

Langkah lain yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati ini adalah sikap pemerintah. Butuh banyak kaki untuk mengangkat nasib dari Bekka Masakambing. Selama ini kehadiaran BBKSDA Jatim di Pulau Masakambing masih terbatas pada kegiatan monitoring jumlah kakatua dan penyuluhan kepada masyarakat. Menurut Dhany Triadi, S.hut, M.Si selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda di Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Pamekasan, menyatakan bahwa seharusnya ada kegiatan lanjutan, lebih dari sekadar memonitor. Perlu adanya perpaduan banyak kaki dari pengelolaan Bekka Masakambing. Mulai dari bersinergi dengan kegiatan NGO yang telah ada hingga dengan kegiatan dari pemerintah daerah.

Ekowisata di Masakambing dapat didorong, karena di pulau ini ada kakatua yang hidup dengan bebas serta hutan mangrove yang masih cukup baik dan alami. Untuk menuju ke titik ini tentu dibutuhkan perjuangan dan kegiatan-kegiatan yang intens dan berpadu. Jika Masakambing masuk sebagai KEE, tentu pengelolaan banyak kaki dan menjadi tujuan ekowisata dapat terwujud secara bertahap. Dengan tujuan utama adalah meyakinkan masyarakat pulau Masakambing. Bahwa kehadiran Bekka Masakambing adalah sebuah anugerah keanekaragaman hayati, bukan merupakan sebuah musibah bagi perekonomian.

–##–

* Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok adalah mahasiswa Universitas Airlangga yang tertarik pada bidang lingkungan hidup. Ia merupakan alumni program (ENJ) Ekspedisi Nusantara Jaya kontingen Unair 2017 dan peserta lokakarya Jurnalistik Deforestasi dan Biodiversity Indonesia Climate Tracker, Medan 2018

By | 2018-07-21T10:55:48+00:00 21 July 2018|Fauna, Flora, Lingkungan, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *