Hutan Lindungi Masyarakat dari Krisis Air

Keterkaitan antara hutan, air, iklim dan manusia sangat kompleks sehingga memicu tanda tanya: Apa yang bisa kita lakukan terhadap hutan agar kualitas dan kuantitas pasokan air – yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat – terus terjaga?

Pertanyaan inilah yang dijawab melalui laporan penelitian ilmiah komprehensif dan terbaru yang dirilis dalam acara United Nations High-Level Political Forum (HLPF) on Sustainable Development di New York, Selasa, tanggal 10 Juli 2018.

Laporan ini menggarisbawahi pentingnya memahami kompleksitas dan ketidakpastian hubungan antara iklim, hutan, air dan manusia guna menciptakan kebijakan yang rasional yang berdampak positif dalam jangka panjang.

Laporan berjudul “Forest and Water on a Changing Planet: Vulnerability, Adaptation and Governance Opportunities. A Global Assessment Report” dipersiapkan oleh Global Forest Expert Panel (GFEP) on Forests and Water, sebuah inisiatif dari Collaborative Partnership on Forests (CPF) yang dipimpin oleh International Union of Forest Research Organizations (IUFRO).

“Pemerintah dan semua pemangku kepentingan, yang ingin agar target pembangunan berkelanjutan (SDGs) tercapai, perlu memahami peran sentral air dalam mewujudkan SDGs. Dan peran hutan tak bisa dipisahkan dari ketersediaan air,” ujar Hiroto Mitsugi, Wakil Direktur Jenderal Departemen Kehutanan di FAO yang juga mengetuai Collaborative Partnership on Forests.

Penelitian yang dilakukan oleh 50 ilmuwan dari 20 negara ini menyimpulkan, krisis air sudah merasuk ke berbagai wilayah dunia, diperparah oleh terus meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan iklim yang makin ekstrem. Menjaga hutan adalah solusinya.

Lebih dari 7 miliar penduduk dan sekitar tiga trilun pohon di dunia sama-sama memerlukan air. Peran hutan dalam siklus air, sama pentingnya dengan peran hutan dalam siklus karbon di perubahan iklim. Karena, selain menjadi paru-paru dunia, laporan ini menyatakan, hutan juga menjadi ginjal bagi planet bumi.

“Dalam penelitian kami, kami fokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah hutan penting? Siapa yang harus bertanggung jawab dan apa yang seharusnya dilakukan? Bagaimana cara mengukur dan menciptakan kemajuan (dalam pengelolaan hutan)?” ujar Meine van Noordwijk, dari ICRAF dan Wageningen University, Belanda, yang turut memimpin diskusi.

“Aktivitas manusia dan alam yang mempengaruhi siklus air dan hutan, tergantung dari waktu, skala, intensitas dan durasinya. Seiring dengan perubahan iklim, pengaruh ini semakin bervariasi dan kadang-kadang tidak bisa diantisipasi. Sehingga ketidakpastian makin tinggi. Manajemen hutan pada masa datang harus mempertimbangkan faktor-faktor ini,” ujar Irena Creed dari University of
Saskatchewan, Canada.

Sayangnya, masalah air masih belum menjadi prioritas dalam tata kelola hutan. “Padahal, hutan alam khususnya, sangat berperan dalam menjaga pasokan air bagi masyarakat, di tengah ancaman yang semakin bertambah,” tutur Profesor Creed. Misalnya di wilayah Hindu Kush di Himalaya, berbagai negara berhasil memulihkan mata air yang sudah mengering dengan memberikan perhatian lebih ke tata kelola wilayah yang sensitif air.

Menurut Profesor van Noordwijk, peran penting hutan dan pepohonan seakan juga dilupakan dalam debat perubahan iklim internasional. “Terutama peran penting air dalam menfasilitasi penyerapan karbon oleh hutan yang masih lestari. Kurangnya pemahaman komunitas ilmiah dan para pembuat kebijakan terhadap dampak dalam skala lanskap, perlu lebih mendapat perhatian,“ ujar van Noordwijk.

Ancaman kelangkaan air juga harus menjadi bahan utama dalam diskusi interaksi hutan dan iklim karena strategi hutan sebagai penyerap karbon akan menimbulkan konsekuensi penting terhadap pasokan air. Berbagai program penanaman hutan kembali misalnya, telah gagal memperhitungkan kebutuhan air untuk tanaman-tanaman baru dan penggunaan spesies tanaman yang sesuai dengan kondisi lokal. Tanaman yang cepat tumbuh seringkali dipakai tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap pasokan air bagi masyarakat lokal.

Hutan juga bisa menyalurkan air ke lokasi-lokasi yang cukup jauh. Caranya adalah dengan menambah tutupan hutan atau vegetasi di lokasi yang memungkinkan angin membawa kelembaban – yang mengandung air – ke wilayah yang lebih kering. Ketersediaan air di basin Sungai Nil misalnya dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan di hutan tropis di Afrika Barat dan Basin Congo. Sehingga para pengelola hutan, pengguna air dan pemangku kepentingan lain harus terlibat dalam mengelola interaksi antara hutan dan air tersebut.

Segala perubahan dalam siklus hutan dan air, akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas jasa lingkungan seperti pasokan air atau produk-produk kehutanan lainnya. Sehingga perlu dipertimbangkan prinsip keadilan, kesetaraan dalam pengaturan di mana, bagaimana dan kepada siapa jasa lingkungan tersebut disalurkan.

Masyarakat miskin yang rentan dan termarjinalkan harus mendapatkan prioritas sehingga tidak terkspose risiko yang lebih tinggi. Laporan lengkap IUFRO bisa diunduh dalam tautan berikut: Forest and Water on a Changing Planet.

Redaksi Hijauku.com

By | 2018-07-19T15:41:27+00:00 11 July 2018|Berita, Lingkungan|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *