Pembangkit Listrik Tenaga Bayu SIDRAP adalah Sebuah Pertaruhan

Oleh : Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan *

Dalam dunia energi terbarukan, terdapat dua teknologi yang pesat dalam  perkembangan riset dan implementasinya yaitu turbin angin dan panel surya. Pada 2017, pertumbuhan instalasi turbin angin mencapai 36%, panel surya sekitar 27%, tenaga air 22% dan bioenergi sekitar 12%. Total kapasitas terpasang panel surya mendekati 400 GW dan turbin angin mencapai 510 GW diseluruh dunia, dan diperkirakan lima tahun kedepan angka pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global untuk panel surya dan turbin angin akan menyentuh angka 80%. Ini menunjukkan bahwa energi terbarukan akan menjadi kunci dalam pertumbuhan ekonomi dunia.

Peresmian PLTB 75 MW di Sidrap awal juli lalu oleh Presiden Jokowi merupakan bukti positif bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia. Momentum hadirnya wind farm komersial pertama di Indonesia dan yang terbesar di Asia Tenggara akan menjadi sebuah pertaruhan, apakah sistem ini akan menjadi model bangkitnya pengembangan energi terbarukan di Indonesia atau hanya kembali menjadi sebuah simbol euforia sesaat?

Bercermin pada periode awal proyek energi terbarukan PLTB di Nusa Penida, PLTB yang memiliki sembilan unit turbin berkapasitas 735 kW yang dibangun sejak tahun 2007 tersebut sudah tidak lagi berfungsi sejak beberapa tahun lalu. Demikian juga dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di Indonesia untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) di Jakarta tahun 2012.

Jalan tol Cawang-Tomang-Cengkareng sepanjang 38 km merupakan ruas jalan tol pertama yang menggunakan tenaga surya untuk lampu penerangan jalan umum. Jumlah tiang lampu yang dipasang kurang lebih sekitar 1.500 titik, namun setelah 6 tahun berlalu, PLTS tersebut sudah tidak lagi beroperasi. Selanjutnya di tahun 2013, pembangunan PLTS terhubung jaringan listrik PLN (on-grid) pertama di Indonesia yang terletak di Karangasem, Bali berkapasitas 1 MWp yang diharapkan mampu memasok listrik ke jaringan PLN selama 20 tahun, tidak beroperasi dengan semestinya, ditandai dengan rendahnya energi listrik yang telah dihasilkan. Kini, sudah saatnya potret buram dan cerita suram dari rentetan pilot proyek energi terbarukan di tanah air diganti dengan prestasi-prestasi yang membanggakan.

Harus diakui bahwa “jam terbang”, pemahaman teknologi , dan khususnya kemauan serta kemampuan pengelolaan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Di Eropa dan Amerika, pembangunan industri teknologi energi terbarukan khususnya PLTB dan PLTS sudah berjalan sejak akhir abad ke-20.

Saat ini Mereka telah sampai pada tahap repowering, yaitu bagaimana memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan energi listrik yang lebih besar dengan aset yang sudah ada, atau membangun sistem energi terbarukan dengan jumlah pembangkit lebih sedikit, namun dapat menghasilkan energi listrik yang lebih besar. Hal ini menjadi penting dan strategis mengingat pembangkit energi terbarukan di negara-negara tersebut banyak yang telah mencapai usia lebih dari 20-30 tahun, sesuai dengan umur PLTB dan PLTS secara umum. Tujuan repowering tidak hanya untuk memperbaiki (repairing), memulihkan (restoring) atau merenovasi (renovating) saja, tetapi terfokus untuk meningkatkan life-cycle performance dari sistem, mengurangi risiko dalam aspek teknis dan biaya, sambil meningkatkan keuntungan selama pembangkit beroperasi.

Dua realita ini memperlihatkan adanya gap yang besar antara negara-negara yang baru memulai dengan negara-negara sudah memasuki tahapan repowering di bidang energi terbarukan. Diperlukan upaya taktis yang cepat oleh para stakeholder terkait seperti kementerian, perguruan tinggi, industri, pebisnis dan NGO untuk mengambil pelajaran / lessons learned dari pengalaman-pengalaman sulit yang terjadi di semua aspek teknis, finansial dan kebijakan.

Harapannya adalah, pertama, tidak mengulangi kesalahan yang telah dialami oleh negara-negara maju sehingga tidak ada lagi proyek-proyek mangkrak yang menyebabkan masyarakat menjadi skeptis. Kedua, terjalinnya sinergi antar institusi dalam pembangunan dan pengelolaan energi terbarukan. Ini tugas dan tanggung-jawab bersama bukan ajang adu kuasa,padahal semua masih pada taraf pemula. Dan ketiga, kita mampu menghadirkan gagasan baru yang inovatif hingga energi terbarukan ini dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh rakyat.

–##–

Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan adalah Direktur Pusat Riset Energi Terbarukan wilayah Tropis (TREC) Fakultas Teknik Universitas Indonesia

By |2018-07-07T05:20:27+00:006 July 2018|Energi, Opini|0 Comments

About the Author:

Hijauku.com adalah portal hijau pertama di Indonesia. Sejak Maret 2011 kami terus berkomitmen berbagi inspirasi dan solusi ramah lingkungan. Kami merayakan ilmu pengetahuan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave A Comment

CAPTCHA *